Kondisi Warga Kecamatan Sambelia Paska Banjir

KESULITAN AIR BERSIH: Warga Desa Senanggalih Kecamatan Sambelia kekurangan banjir paksa banjir bandang lalu. Nampak warga mengambil air dari mobil tanki air bersih yang didistribusikan Pemkab Lombok Timur. (Jalaludin/Radar Lombok)

Paska diterjang banjir pada 11 Februari lalu jaringan perpipaan air bersih warga di beberapa desa di Kecamatan Sambelia Lombok Timur  mengalami kerusakan. Hal ini tentu saja sangat menyulitkan masyarakat setempat dalam memenuhi kebutuhan akan air bersih.


JALALUDIN-LOMBOK TIMUR 


Sejumlah perempuan dan anak-anak membawa ember dan jeriken begitu mobil tanki air bersih datang. Mereka datang mengambil air dari mobil tanki itu. Mereka pun harus sabar menunggu giliran mendapatkan jatah air bersih.

Paska banjir bandang yang menerjang Kecamatan Sambelia tanggal 11 Februari lalu, masih menyisakan persoalan bagi masyarakat korban banjir. Kini, mereka kesulitan mendapatkan air bersih akibat pipa jaringan bersih yang rusak.  Bantuan air bersih ini tidak setiap saat datang.  Mobil tangki milik Pemkab Lombok Timur ini hanya satu unit dioperasikan untuk melayani delapan desa.   “Bagaimana kita bisa mengharapkan dari mobil tangki kalau yang operasi hanya satu sementara desa yang dilayani banyak,” kata Kades Senanggalih, M Yusuf kepada Radar Lombok Rabu kemarin (1/3).

[postingan number=3 tag=”sambelia”]

Satu unit mobil ini dinilai Yusuf sangat kurang. Padahal kebutuhan air bersih cukup tinggi. Akibatnya,warganya terpaksa mencari air bersih ke sumber-sumber air yang ada meskipun lokasinya cukup jauh. '' Terpaksa kami cari sendiri air bersihnya,'' kata Iin warga setempat.

Selama sepekan  ini, baru satu kali masyarakat Senanggalih mendapatkan suplai air bersih dari dan itu diterima Selasa lalu (28/2). “Kami sangat berharap pemda dapat menambah armada tangki air bersih untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat,” harapnya.  Menghadapi kondisi ini pihaknya dan juga masyarakat Senanggalih pusing menghadapinya. Warga akan semakin kesulitan  kalau pemerintah daerah tidak segera turun tangan. Meski air PDAM sudah mengalir namun dikatakan tidak banyak masyarakat yang menggunakannya. Justru hampir 90 persen, warga  memanfaatkan PAMDes lantaran biayanya terjangkau.

Untuk meringankan kesulitan warga ini, pihaknya kata Yusuf terpaksa memanfaatkan air  dari sumber mata air  untuk didistribusikan ke warga. Pemdes setempat memanfaatkan mesin penyedot air milik BUMDes untuk menyedot air dari sumber mata air setempat lalu dialirkan ke pipa jaringan PAMDes. Meski kualitas airnya jauh dari standar, namun  inilah solusi sementara yang bisa dilakukan untuk membantu kesulitan warga. ''Dari  tiga kekadusan, hanya dua kekadusan yang dapat suplai air ini yaitu Kekadusan Senanggali Induk dan Selatan dengan jumlah KK sekitar 600 KK. Sementara Kekadusan Senanggalih Barat yang poisisinya di atas atau agak tinggi tidak bisa dijangkau lantaran mesin tidak mampu memompa sampai atas,'' jelasnya. Praktis, sekitar 400 KK di kekadusan ini tak bisa mendapatkan air bersih.

Air dari mata air ini pun tidak bisa terus menerus dialirkan.  Setelah disedot beberapa lama kemudian istirahat dan menunggu air menggenang. “Ini merupakan air rembesan dari gunung dan hanya akan berair saat musim hujan dan kini debetnya sekamin kecil sehingga saya perkirakan tiga empat hari kedepan pasti akan kering,” jelasnya.

Sebelum air sumber di Aik Embuk ini kering, ia berharap agar pemkab segera memberikan bantuan air bersih melalui penambahan armada tangki sehingga masyarakat tidak resah. Jaringan pipa PAMDes yang rusak sekitar 1.500 meter dari Otak Reban sampai jembatan Sambelia yang putus diterjang banjir bandang. Pipa berukuran 2,5 inchi yang dibeli di Surabaya dengan menggunakan dana alokasi dana desa (ADD) sebesar Rp 80 juta ini diharapkan segera dapat dibantu pemerintah daerah dalam pengadaannya. “Kami sudah bersurat beberapa kali ke Pak Bupati, PU dan Dinas Sosial agar kami segera dibantu, namun sampai sekarang belum ada jawaban dan tadi kami kembali bersurat. Sementara dengan kondisi saat ini masyarakat sangat resah,” katanya cemas. (*)