Komisi IV Sorot Proyek Molor

Syamsul Rijal (GAZALIE/RADAR LOMBOK)

SELONG—Tahun 2016, banyak sekali proyek-proyek besar di Lombok Timur (Lotim) yang bermasalah. Hal ini pun terus menjadi sorotan sejumlah pihak. Termasuk komisi IV DPRD Lotim.

Kritikan secara berulang dilontarkan kalangan dewan, lantaran sejumlah proyek  yang dianggarkan puluhan miliar, pengerjaanya tidak tuntas dilakukan hingga penghujung akhir tahun. Persoalan ini disebabkan karena berbagai masalah, diantaranya karena  proses pengerjaan yang selalu terlambat, dan kontraktor yang dimenangkan tidak mampu bekerja dengan baik.

Berbagai proyek besar yang bermasalah ini seperti proyek pengerjaan jalan, dan pengerukan kolam Labuh Pelabuhan Labuan Haji. Untuk proyek jalan misalnya, pengerjaan Jalan Korelko-Sordang yang dianggarkan Rp. 80 miliar, sampai saat ini masih belum kunjung tuntas dilakukan.

Padahal dalam ketentuan, seharusnya proyek jalan ini tuntas dilakukan sebelum akhir tahun. Begitu juga dengan proyek jalan lainya, seperti pengerjaan jalan Lendang Beduri juga mengalami masalah yang sama.

Selain jalan, proyek pengerukan Labuan Haji juga terus bermasalah. Meski sudah dua kali perubahan APBD dianggarkan, namun pengerukan Labuan Haji  dengan anggaran Rp. 38 miliar tersebut sampai saat ini tak kunjung terealisasi. “Kenapa ini terjadi? Karena kebanyakan proyek itu dikerjakan satu orang saja,” ungkap anggota Komisi IV DPRD Lotim, Syamsul Rijal, Rabu (18/1).

[postingan number=3 tag=”proyek”]

Dikatakan, praktik monopoli proyek di Lotim terlihat masih terus terjadi. Hal ini tidak bisa dipungkiri, karena kebanyakan proyek yang ada selalu dikerjakan oleh satu perusahaan. Akibat dari monopoli proyek ini tentu perusahaan selaku pemenang tender, tidak bisa bekerja dengna maksimal. “Seandainya proyek dibagi pengerjaanya, mungkin tidak terjadi seperti sekarang ini. Karena perusahaan tersebut juga dikejar oleh kerjanya di tempat lain,” sebut Rijal.

Dijelaskan, pengerjaan proyek di Lotim sebagian besar selalu dikerjakan di akhir tahun. Hal ini  sangat berpengaruh terhadap kwalitas pengerjaan. Pasalnya selain karena dikejar waktu, disisi lain kontraktor juga dikejar oleh penyelesaian proyek ditempat lain, yang juga harus segera dituntaskan secara bersamaan. “Mau tidak mau mereka harus bekerja cepat, karena dikejar kwantitas,” tegasnya.

Pihaknya berharap, dengan adanya mutasi yang dilakukan Pemkab Lotim, terutama pejabat di PU, permasalahan seperti ini tidak lagi terulang. Karenanya, agar pengerjaan proyek bisa tuntas dilakukan akhir tahun, dinas terkait harus bekerja cepat, sehingga proyek tersebut bisa dieksekusi awal tahun.

“Setelah APBD diketuk harus cepat bergerak. PU ini tidak boleh diam. Mereka harus cepat perencanaannya. Minimal selesai Februari, sehingga Maret bisa di eksekusi semuanya,” sarannya seraya menyampaikan, kalau ini dilakukan, diyakini proyek yang ada tahun ini semuanya akan bisa dikerjakan tepat waktu.

Dia juga memberikan perhatian khusus terhadap pengerjaan Labuan Haji. Dirinya sangat menyayangkan kegagalan pengerjaan pelabuhan ini yang terus terjadi secara berulang. Ini harus menjadi perhatian Pemkab setempat. “Pemkab harus bekerja lebih baik. Proyek Labuaan Haji ini kan anggaranya besar,” pungkas Rijal.(lie)