Kisah Polisi Pahlawan Pendidikan yang Diundang ke Istana Negara

Brigadir Dahmanto Polisi Pahlawan Pendidikan
PRESTASI: Brigadir Dahmanto bersalaman dengan Presiden Joko Widodo. Dahmanto bersama pegiat literasi lainnya diundang ke Istana Negara, tanggal 2 Mei 2017 lalu. (Dahmanto for Radar Lombok)

Brigadir Dahmanto Bhabinkamtibmas Desa Taman Indah Kecamatan Pringgarata Lombok Tengah tidak  menyangka  apa yang ia lakukan belakangan ini bisa membawanya bertemu langsung dengan  Presiden  RI Joko Widodo. Mobil perpustakaan keliling   yang dibuatnya ternyata membawanya ke Istana bersama 25 pegiat literasi lainnya dari seantero Indonesia.


M Haeruddin- Praya


Tepat di Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2017 lalu, menjadi hari yang tak terlupakan bagi Brigadir Dahmanto. Atas dedikasinya terhadap dunia pendidikan di desa tempatnya bertugas, dia pun mendapat apresiasi. Tidak tanggung-tanggung, dia mendapat penghargaan dari Presiden Joko Widodo dengan diundang ke Istana Negara. Dia juga mendapat penghargaan dari Kapolri  Jenderal Pol Tito Karnavian  yang dianggap membuat terobosan bidang pendidikan di wilayah tugasnya. Kapolri memberikan penghargaan berupa ticket holder untuk mengikuti Pendidikan Sekolah Inspektur Polisi.

Penghargaan yang diraih  Brigadir Dahmanto atas kegigihannya keluar  masuk kampung memberikan edukasi kepada masyarakat dengan membawa buku bacaan untuk mencerdaskan anak bangsa. Sebagai  Bhabinkamtibmas, Brigadir Dahmanto yang merupakan anak kedua dari pasangan Bapak Siban dan Ibu Seneng itu sehari- harinya mendatangi masyarakat. Ketika terjun ke masyarakat itu, ia melihat berbagai macam persoalan yang membalut masyarakat di desa tempatnya bertugas. Salah satunya masih banyaknya masyarakat yang tidak memiliki ijazah dan tidak gemar membaca.

Berdasarkan temuan itu, ia mendapat  ide agar masyarakat gemar membaca. Berbekal mobil Suzuki Escudo miliknya, ia keliling membawa buku bacaan kepada masyarakat. Buku itupun ia dapatkan dari sisihan gajinya sebagai seorang polisi. ”Saya beli buku dari gaji saya. Ada juga buku yang diberi sama orang lain,”ujarnya ketika dikonfirmasi Radar Lombok, Senin kemarin (8/5).

Aksi ini dimulai sekitar  November 2016.

Diceritakan Dahmanto, di salah satu dusun tepatnya di Dusun Repok Sintung hendak diadakan pemilihan kepala dusun, namun saat itu musyawarah pemilihan ternyata tidak kunjung menemui kata mufakat. Hal itu karena sosok warga yang hendak diusung tidak ada yang sesuai. “Setidaknya dari kacamata tingkat  pendidikan, di dusun tersebut tidak ada yang memiliki ijazah,”ungkapnya.

Atas permasalah tersebut akhirnya masyarakat bingung siapa yang mau dijadikan kadus. Akhirnya pemilihan tersebut urung dilakukan. Hal itu juga yang membuat Dahmanto memikirkan permasalahan tersebut. Berbekal pengalamannya yang sudah mengunjungi dusun lain, ia menemukan fakta bahwa minimnya akses dan sarana pendidikan menjadi faktor utamanya. Lalu dia terpikir membuat perpustakaan keliling. “Dari permasalahan itu juga saya menyulap mobil pribadi saya menjadi perpustakaan, karena bagi saya mencerdaskan anak bangsa merupakan tugas yang mulia. Apalagi saya sebagai seorang polisi  yang memang kewajiban saya untuk mengayom dan  melindungi masyarakat, bagi saya salah satu caranya yakni mencerdaskan anak bangsa,”ungkapnya.

Awalnya ia ketika berkeliling ke masyarakat tidak menggunakan seragam dinas.  Saat itu ia menyadari betul jika banyak masyarakat yang masih takut dengan seragam aparat kepolisian.

“Awalnya masyarakat mengira saya pedagang saat membawa buku. Saat itu saya menggunakan pakaian bebas ketika menelusuri jalan- jalan   di Desa Taman Indah. Karena saat itu masyarakat terutama anak- anak kalau mengetahui polisi malah mereka takut dan akan lari,”ungkapnya.

Masyarakat saat itu tidak hanya menganggap Dahmanto sebagai seorang pedagang buku, bahkan tidak jarang masyarakat acuh tak acuh melihatnya ketika menawarkan untuk membaca buku. “Awalnya juga masyarakat jarang yang mau mendekat karena selain mereka tidak mau membaca karena saya dikira jualan,”ujarnya.

Dahmanto  tidak putus asa. Dia terus meyakinkan masyarakat akan  manfaat  banyak membaca. Masyarakat pun mulai menerima. Mereka mau membaca buku yang dibawa Dahmanto. Kini, warga antusias menanti kedatangan perpustakaan keliling Dahmanto ini.

Bermacam buku bacaan yang  ia bawa.  Biasanya  disesuaikan dengan keadaan masyarakat tersebut, mulai dari buku cerita anak- anak, buku pelajaran tingkat SD hingga SMA dan buku umum. ”Kalau yang tua terutama ibu rumah tangga biasanya senang membaca buku untuk memasak,”ujarnya.

Saat ini Dahmanto memiliki banyak koleksi buku bahkan banyak masyarakat yang menyumbangkan buku untuknya. Ketika dipanggil sama presiden untuk makan siang di istana, bahkan presiden langsung memerintahkan PT Pos Indonesia u menggratiskan biaya pengiriman buku ke daerah-daerah. “Alhamdulilah saat ini banyak dukungan mulai dari SPN dan masyarakat lainnya. Bahkan saat ini saya sudah menggunakan seragam ketika ke masyarakat untuk membawa buku bacaan itu,”ungkapnya.

Saat ini, ia merasa bersyukur karena masyarakat yang ia kunjungi semakin giat untuk membaca. Bahkan tidak jarang masyarakat menghubunginya agar datang membawa buku untuk dibaca.

Dahmanto  bertekad akan semakin giat memacu kendaraanya untuk menelusuri tidak hanya desa tempatnya bertugas. ”Semoga kedepan masyarakat lebih semangat dalam membaca karena bagi saya salah satu cara untuk menjadi cerdas adalah dengan membaca,”tuturnya.(*)