Kisah Muliati Melawan Tiga Pria yang Hendak Memperkosanya

Muliati TKW Lomboka
KORBAN: Muliati eks TKW dari Dusun Kebon Orong Desa Dasan Baru Kecamatan Kediri dipapah keluar oleh suaminya Mawardi. (ZULKIFLI/RADARLOMBOK)

Masih ingat TKW Muliati yang diduga diperkosa oleh anak  majikan dan temannya di Arab Saudi akhir April 2017?. Kini perempuan itu sudah dipulangkan ke rumahnya di Dusun Kebon Orong Desa Dasan Baru Kecamatan Kediri pada Jumat malam lalu (12/5).


ZULKIFLI-GIRI MENANG


Saat ditemui di kediamannya Sabtu (13/5), Muliati yang didampingi suaminya Mawardi tampak masih lemah. Sesekali dia pun harus dipapah untuk berdiri dan berjalan oleh suaminya.

Muliati berangkat dari Arab Saudi pada 12 Mei, pukul 10.00 Wita. Sebelum sampai di Lombok, Muliati lebih dahulu transit di Bandara Soekarno Hatta. Kemudian diterima BNP2TKI, di sana guna  dicek kesehatannya oleh tim dokter. Begitu juga saat tiba di Lombok, ada lagi pengecekan kesehatan. Muliati juga didampingi pihak Dinas Tenaga Kerja Lombok Barat.

Muliati mengaku kapok menjadi TKW lagi. Cukup baginya pengalaman tidak mengenakkan hendak diperkosa tiga pria sebagai pelajaran berharga. Diceritakannya, dia di Arab Saudi sekitar delapan bulan lalu, dirinya bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) melalui Kantor Mahara Agency. Muliati sendiri tahu persis bahwa dirinya akan bekerja sebagai PRT, karena dia menyadari, pendidikannya yang rendah tidak cukup untuk bekerja di mal, pabrik dan lainnya. Apalagi tidak memiliki keterampilan Bahasa Inggris.

Melalui agen penyalurnya, dia dipekerjakan di satu majikan dengan kontrak selama tiga bulan. Sudah dua kali berganti majikan, tidak ada persoalan. Semua lancar. Namun ketika satu minggu berada di majikan yang ketiga, barulah timbul persoalan.

Diceritakannya, waktu itu sekeluarga dari majikan pergi ke pantai. Namun naas, satu jam setelah keluarga itu pergi, salah satu anak majikan kembali bersama dua pria. Di sanalah kemudian Muliati yang tengah menjemur pakaian di lantai dua diminta meladeni nafsu bejad ketiga pria ini. Tidak mau meladeni, Muliati pun berontak. Kendatipun kedua tangan diikat dan mulutnya dibekap, dia berhasil melawan.  “Dia juga sempat lempar aku biar pingsan, cuma ndak bisa, aku juga ngelawan. Di situ ada kayu terus aku lempar yang dua itu dan jatuh mereka, yang satunya aku tendang pakai kaki. Dan akhirnya aku geleleng-geleleng (guling-guling) jatuh ke bawah (lantai dasar),”ceritanya.

Saat jatuh itu, Muliati mengaku tidak sadarkan diri. Beruntung ada warga dan polisi yang mengetahui kejadian itu, kemudian dibawa ke rumah sakit. “Dibawa aku ke rumah sakit, setelah dirawat aku dikembalikan ke kantor (agen). Saat itu kondisiku dalam keadaan lemah dan kembali lagi di rawat ke rumah sakit. Setelah itu di rawat dua minggu di kantor (agen),” jelasnya.

Namun dalam keadaan belum sehat betul, ternyata pihak agen memintanya untuk kembali bekerja. Itu yang  membuat lukanya kembali terbuka. Saat itu teman-temannya melihat darah di baju yang dipakai. Itu pun kemudian difoto dan divideokan tanpa diketahui dirinya. Sampailah kemudian dokumentasi tersebut ke KBRI Riyadh. “Awalnya tidak ada tanggapan apapun, diam begitu. Akhirnya lama-kelamaan diketahui KBRI baru tanggung jawab,” ujarnya.

Muliati sendiri berharap ada proses hukum terhadap para pria yang hendak memperkosanya. Dia pun memastikan tidak akan menjadi TKW lagi, karena pihak keluarga juga sudah trauma.

Mawardi suami korban mengaku sangat sedih dan menyayangkan apa yang menimpa istrinya tersebut. Dia tidak ingin hal ini kembali menimpa istrinya. “Cukup satu kali saja, jangan sampai terjadi lagi,” tandasnya.

Sementara itu, Koordinator Pusat Bantuan Hukum Buruh Migran NTB M. Saleh mengatakan, pihaknya tetap akan mendampingi proses hukum. Diharapkan, kasus semacam Muliati tidak lagi terjadi. Perlu diketahui kata Saleh, pekerjaan PRT sudah dimoratorium di Timur Tengah termasuk Arab Saudi. Tetapi faktanya masih ada sekitar 220 TKW di Arab Saudi yang bekerja sebagai TKW. “Kita harapkan ini menjadi perhatian. Jangan sampai kasus serupa terjadi lagi,” tandasnya. (*)