Kisah H Abdul Kasim Berhaji dan Kuliahkan Anak Dari Hasil Penjualan Gula Merah

Kisah H Abdul Kasim Berhaji dan Kuliahkan Anak Dari Hasil Penjualan Gula Merah
GULA MERAH: H Abdul Kasim Ashari menujukkan hasil panen tuak manis dan olahan gula merah berbahan baku tuak manis. (Lukmanul Hakim/Radar Lombok )

Warga  Dusun Penimbung Barat, Desa Penimbung, Kecamatan Gunungsari Kabupaten Lombok Barat mayoritas keseharian mereka  mengolah  air Nira menjadi gula merah. Hal serupa juga dilakukan  H Abdul Kasim Ashari.


LUKMANUL HAKIM – GIRI MENANG


H Abdul Kasim Ashari kini sudah berusia lebih dari 65 tahun. Namun usia tak menjadi halangan baginya untuk tetap menjalankan aktivitas sehari-harinya untuk mengolah air Nira dari pohon Nira menjadi gula merah. Profesi ini sudah digelutinya    sejak masih berusia 10 tahun.

Abdul Kasim sudah mulai menjadikan air Nira yang oleh warga setempat disebut  tuak manis sebagai mata pencahariannya. Selama puluhan tahun, Abdul Kasim tetap menekuni pekerjaan ini. Tak hanya Abdul Kasim, tapi mayoritas penduduk  di kawasan pegunungan di Desa Penimbung, Gunungsari ini menggantungkan hidup mereka dari menjadi petani tuak manis dan beternak sapi. Tidak heran jika, Desa Penimbung ini dikenal dengan penghasil gula merah yang bahan bakunya bersumber dari air tuak manis.

Abdul Kasim menuturkan, sebagai petani tuak manis, ia sangat menikmatinya.  Dari hasil mengolah tuak manis inilah, dia membiayai keluarganya sehari-hari.   Bahkan, dari hasilnya sebagai petani tuak manis, Abdul Kasim bisa membeli sapi kemudian menjadikan ternak sapi sebagai kerjaan sampingan. Selain itu, Abdul Karim juga berhasil menunaikan ibadah haji ke tanah suci Makkah pada  tahun 2005 silam dari hasil menjual tuak manis dan gula merah.

“Petani tuak manis ini menjadi mata pencaharian utama saya hingga saat ini. Hasilnya sangat memuaskan,” ungkap Abdul Kasim.

Aktivitas memanen air tuak manis dilakukan dalam sehari itu sebanyak dua kali. Panen dilakukan pada pagi hari antara pukul 06.00  hingga pukul 10.00 Wita. Selanjutnya untuk panen kedua dilakukan pada sore hari, pada pukul 17.00 hingga pukul 18.00 Wita. Hanya saja untuk mendapatkan air tuak manis yang lebih banyak, memiliki teknik dan tata cara tersendiri.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, seorang petani tuak manis harus menyatukan hatinya dengan pohon Nira tersebut. Selain itu, petani juga harus memberikan perhatian dengan tetap menyambanginya untuk datang memantau dan memberikan bahasa-bahasa isyarat sebagaimana keyakinan para petani.  Jika, tidak, maka jangan berharap air nNra akan bisa keluar dari tempat yang sudah dibuatkan  oleh petani. Kalaupun keluar, airnya sangat sedikit. Karena itu, Abdul Kasim betul-betul merawat dan memberikan perhatian yang baik  kepada sedikitnya 20 pohon Nira yang sudah mulai masa panen air tuak manis.

Tuak manis cukup digemari oleh konsumen. Bahkan, tak sedikit konsumen yang langsung datang untuk membeli tuak  manis yang dipanen pada pagi hari dan sore harinya. Dengan harga Rp 10 ribu/botol air kemasan dengan isi 1.500 ml. Jika pembeli kurang, Abdul Karim bersama sang istri mengolahnya menjadi gula merah. Dalam sehari istri Abdul Karim bisa  mendapatkan penjualan gula merah mencapai Rp 80 ribu.

Hasil yang lumayan besar bagi mereka ini tentu saja sangat membantu ekonomi keluarga. Tak hanya itu, dari hasil penjualan tuak manis dan gula merah itu, Abdul Kasim bisa membiayai anaknya sekolah bahkan hingga mendapatkan gelar sarjana. Keberhasilan Abdul Kasim dari bertani tuak manis dan mengolahnya menjadi gula merah, tak lepas dari tetap konsisten dan menjaga pohon Nira sebagai mata pencaharian yang dia sebut sebagai ‘rezeki nomplok’. Karena pohon Nira ini perawatannya sangat mudah dan murah, namun mampu memberikan rezeki yang melimpah hingga 5 tahun untuk 1 pohon Nira. “Pohon Nira ini seperti rezeki nomplok yang tak pernah habis, selama kita merawatnya dengan baik. Kalau kita serius untuk menekuni usaha tuak manis dan gula merah ini, hasilnya sangat banyak untuk kebutuhan sehari hari,” tutupnya.(*)