Kisah Bripka Muhammad Hujaini Abdilah, Polisi yang Nyambi jadi Guru Ngaji

Bripka Muhammad Hujaini Abdilah Polisi yang Nyambi jadi Guru Ngaji
MENGAJAR: Bripka Muhammad Hujaini Abdilah mengajar anak- anak mengaji. Ratusan anak-anak menjadi muridnya di TPQ yang didirikannya. (M.Haeruddin/Radar Lombok)

Menjalani  tugas sebagai seorang polisi di Sat Sabara Polres Mataram tidak lantas membuat Bripka Muhammad Hujaini Abdilah menjadi sombong. Di tengah kesibukanya dia menyisihkan waktu mengajar mengaji bagi anak-anak di sekitar tempat tinggalnya.


M Haeruddin–Mataram


Pria kelahiran  Desa Embung Tiang Kecamatan Sakra Barat Lombok Timur 19 Juli 1984 tersebut, sama dengan polisi lainnya yang sehari- hari datang ke kantor menjalankan tugas sebagai pengayom dan pelindung masyarakat.

Namun jika polisi begitu lepas jam kerja, lalu istrahat maka berbeda dengan  Bripka Muhammad Hujaini Abdilah. Setiap sore hingga malam, waktunya  dihabiskan  Taman Pendidikan Alquran (TPQ) di tempat tinggalnya di Gunung Sari, Lombok Barat. “Saya kalau ham 04.00 sore pulang dari kantor langsung ngajar ngaji,”ungkapnya kepada Radar Lombok, Rabu lalu (12/7).

Pria yang akrab dipanggil Abdilah ini memang sehari-hari mengajar mengaji  ratusan anak-anak di tempat tinggalnya. Ia terkadang belum sempat mengganti pakaian dinasnya karena di TPQ tempatnya mengajar sudah ditunggu oleh murid- muridnya. “Belakangan ini bahkan saya langsung saja ke TPQ tanpa mengganti pakaian dinas saya,”ujarnya.

Bersama-sama teman-temannya, Abdilah mendirikan TPQ Darul Mansur  tiga tahun lalu. Jumlah murid TPQ ini terus bertambah. Sekarang saja jumlahnya sekitar 150 orang, baik dari kalangan anak- anak hingga orang dewasa. Kendati ia tidak digaji, namun ia merasa bangga karena bisa memberikan kontribusi bagi masyarakatnya. “Karena kita sebagai polisi tugas kita melayani masyarakat, jadi dengan mengajar ngaji kita bisa lebih dekat dengan masyarakat,”ujarnya.

Menjadi seorang guru ngaji selain merupakan perintah agama, namun dirinya  ingin membuktikan bahwa polisi bukan orang yang menyeramkan. Polisi juga bisa memberi kontribusi dengan  memberikan edukasi terkait ajaran agama. “Seperti kita ketahui jika masih  ada stigma negatif. Jadi hal itu harus kita rubah,”ujarnya.

Dia mendirikan TPQ ini karena merasa terpanggil. Dia melihat banyaknya generasi muda yang sudah tidak rindu lagi dengan Alquran. Anak-anak lebih senang menghabiskan waktunya bermain atau menonton televisi. “Padahal dalam agama sudah jelas kita dianjurkan untuk tetap gemar membaca Alquran, Namun disatu sisi saat ini banyak anak muda kita yang lebih senang terkait duniawi saja, maka kalau kita tidak melakukan perubahan maka siapa lagi yang akan melakukannya,”ujar pria yang 9 tahun menimba ilmu di pondok pesantren (ponpes) ini.

Dirinya tidak hanya mengajarkan membaca Alquran  tapi juga  mengajarkan ilmu  tajwid dan ilmu agama lainnya.”Dan yang terpenting bahwa salah satu tujuan saya mengajar adalah supaya bapak saya yang telah meninggal selalu mendapat rahmat di dalam kuburnya, sebab dari kecil saya selalu diajarkan membaca Alquran,”ungkapnya.

Selain menjadi seorang guru ngaji, Abdila juga aktif di giat dakwah dan pengajian bersama teman- temannya yang lain. Kegiatannya ini tidak membuatnya  pekerjaannya  terganggu.

Bahkan ia mengaku sangat nyaman dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk menambah murid- muridnya. “Alhamdulilah saya merasa tenang dan tidak merasa diganggu aktivitas saya dalam kepolisian. Bahkan dengan kegiatan yang saya laksanakan membuat saya semakin banyak pembelajaran. Karena selain saya menerapkan ilmu saya namun saya juga sambil belajar,”tutupnya.(*)