Kisah Baiq Nuril Terdakwa Pelanggaran UU ITE Saat Menjalani Hidup di Tahanan

Baiq Nuril
DI TAHANAN:Baiq Nuril saat berada di ruang tahanan PN Mataram ketika menceritakan pengalaman dipenjara, Rabu kemarin (17/5). (M Haerudin/Radar Lombok)

Wajah Baiq Nuril Maknun  kian pucat. Kendati tegar dan mendapat dukungan dari berbagai kalangan, kesedihan tidak bisa disembunyikannya.


M Haeruddin-Mataram


Usai menjalani sidang di Pengadilan Mataram Rabu kemarin (17/5) sekitar pukul 14.30 Wita,  Baiq Nuril langsung menuju ruang tahanan khusus wanita. Ia dikerumuni puluhan warga yang tetap antusias mendukungnya.

Wanita  asal Desa Perempuan Kecamatan Labuapi Kabupaten Lombok Barat yang tersandung kasus karena merekam pembicaraan cabul atasanya tersebut, menceritakan pengalamanya hidup di tahanan Lapas Mataram. Sebelumnya ia tidak pernah menyangka bisa tidur di ruangan tahanan. Namun saat ini ia menyadari bahwa itu semua bukan mimpi. “Ternyata saya dipenjara bukan hanya halusinasi seperti pengakuan pelapor saat berbicara cabul,” ungkap Nuril ketika mengawali ceritanya kemarin.

Mantan pegawai honorer SMAN 7 Mataram ini  hidup di tahanan sudah hampir dua bulan. Iapun harus rela berpisah dengan tiga orang anaknya. Namun  yang berat baginya ketika harus berbohong kepada anak ketiganya yang masih berusia 5 tahun tersebut. ”Anak saya yang paling kecil selalu nanya kepada saya kenapa saya tidak pernah pulang,”ungkapnya.

Namun Nuril tidak ingin membuat anaknya kecewa  k jika mengetahui ibunya dipenjara. Ia lantas beralasan bahwa tidak pernah pulang karena masih sibuk kerja di sekolah. Namun anaknya selalu bertanya bahwa kapan Nuril libur sekolah sehingga bisa kembali berkumpul dengannya. “Kalau anak saya yang paling kecil saya bilang kalau saya sekolah, namun dia selalu bilang kapan ibu libur,”ujarnya.

Hidup di balik jeruji besi membuat dirinya banyak  belajar bagaimana menjalani hidup dengan penuh sabar. Di ruang tahanan Lapas Mataram,  ia tidur bersama tujuh orang  tahanan lainnya.

“Yang namanya dipenjara ya tahu  sendiri. Tapi alhamdulillah saya dalam keadaan baik disana karena orang- orang sana baik,”ungkapnya.

Nuril lantas menceritakan kejadian yang menimpanya. Setiap hari H Muslim oknum kepala sekolah yang membuat dia masuk penjara tersebut menelponya. Bahkan tidak jarang Nuril dipanggil kedalam ruanganya. Di dalam ruangan atasanya tersebut ia diajak ngobrol masalah asusila. “Kalau saya diajak bicara pasti ujung- ujungnya dia cerita masalah seks,”ujarnya.

Ia tidak bisa menolak menjadi pendengar setia cerita cabul atasannya itu. Ia sadar bahwa ia hanya seorang bawahan dan honorer. Kalaupun ia menolak, maka ia takut pimpinanya akan marah.

Namun ia diam-diam merekam pembicaraan tersebut karena untuk membuktikan pada orang lain bahwa dia tidak selingkuh dengan kepala sekolah itu. “Maklum saya hanya bawahan, honorer lagi. Saya sebenarnya sangat jijik tapi mau gimana lagi,” ujarnya.

Kini Nuril masih mendekam dipenjara. Iapun masih menjalani sidang untuk membuktikan apakah ia memang bersalah atau tidak. Di dalam tahanan, ia aktif belajar keterampilan layaknya narapidana lainya yakni membuat rajukan dan kereativitas lainnya. “Saya di Lapas biasa membuat rajutan bersama teman- teman lainnya,” ujarnya.

Ia berharap keadilan berpihak padanya. Kalaupun ia terbukti bersalah maka ia rela dihukum sesuai dengan perbuatanya. Namun ia meminta agar atasanya juga diadili seadil- adilnya karena telah merendahkan harkat martabat sebagai seorang wanita dengan berbicara cabul padanya. ”Saya juga berharap agar Muslim diadili seadil- adilnya dan hukum harus ditegakan,”tuturnya.

Nuril Maknun  telah ditahan sejak 24 Maret 2017 lalu dengan tuduhan mentransmisikan rekaman elektronik yang bermuatan kesusilaan sebagaimana diatur dalam Pasal 27 ayat (1) jo Pasal 45 ayat (1) UU ITE.

Kasus ini bermula ketika Nuril ditelpon oleh oknum kepala sekolah yang menceritakan pengalaman pribadinya pada Nuril. Percakapan yang sangat bermuatan unsur pelecehan seksual tersebut kemudian direkam oleh Nuril.

Pada Desember 2014, seorang rekannya meminjam handphone Nuril, kemudian mengambil rekaman percakapan antara oknum kepala sekolah dan Nuril. Rekaman tersebut bocor, membuat oknum kepala sekolah yang membeberkan aib dirinya sendiri pada Nuril malu akibat beredarnya rekaman mesumnya. Nuril pun dilaporkan ke polisi. (*)