Kiprah Yunita Susanti Menyulap Kain Tenun jadi Sepatu Etnik

Yunita Susanti
PRESTASI: Yunita Susanti memegang penghargaan sebagai juara 1 lomba desain sepatu kategori purwarupa tahun 2016 yang diadakan oleh BPIPI dan Kementerian Perindustrian. (Yunita Susanti for Radar Lombok)

Kain tenun tak hanya digunakan untuk pakaian, namun bisa juga dijadikan kerajinan yang tak kalah bernilai seni yang tinggi. Salah satunya  dijadikan sebagai sepatu kain tenun yang tampil unik dan klasik. Hal tersebut dilakoni Yunita Susanti, perajin sepatu kain tenun asal Desa Kekeri, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat.


LUKMANUL HAKIM – GIRI MENANG


Berawal dari  kesulitan mendapatkan ukuran sepatu yang sesuai ukuran kakinya, membuat Yunita Susanti berpikir untuk membuat  sepatu.  Hanya saja, untuk  membuat sepatu, Yunita membutuhkan waktu  mencari inspirasi menghasilkan karya yang unik, klasik dan bisa direspon oleh pasar.

Setelah lama mencari ide, akhirnya  Yunita tertarik menciptakan sepatu yang unik dan klasik yakni membuat sepatu dan sandal berbahan baku tenun khas NTB yang lebih dikenal dengan sebutan Sasak Samawa Mbojo (Sasambo).    Kain tenun Sasambo berbagai jenis serta corak  mulai dari kain tenun kahas Sasak, yang terdiri atas berbagai motif dan corak. Lali kain tenun Sumbawa dengan berbagai motif serta corak. Begitu juga dengan kain tenun Bima dan Dompu yang terdapat motif serta corak yang anekaragaman dan sama-sama memiliki khas dan keunggulan tersendiri. “Berawal dari keterbatasan itu, akhirnya saya berpikir merubah kekurangan itu menjadi sebuah peluang usaha yang sampai sekarang berjalan lancar,” ungkap Yunita Susanti kemarin.

[postingan number=5 tag=”features”]

Keberanianya bereksplorasi di bisnis fashion khususnya sepatu etnik dengan berbahan baku dasar kain tenun khas Sasambo ini, terinspirasi dari perjalananya yang berkeliling ke sejumlah daerah di Indonesia  untuk mencari hal- hal unik tentang sejarah kain tenun dan batik ataupun songket. Begitu yakin akan peluang usaha ini, Yunita lalu memulai produksi sepatunya dengan brand  ‘Tresne’.

Jauh sebelumnya, Yunita sudah memiliki toko fashion yang bernama Sasambo Colection yang menjual berbagai merek sepatu. Namun setelah  mulai memproduksi sepatu berbahan baku kain tenun, Yunita mulai fokus menjual dan memasarkan  berbagai alas kaki yang lebih spesifik dan tetap berpegang pada konsep etnik klasik dan eksploratif yang menjadi ciri khas dari merek ‘Trense’. Dalam memproduksi sepatu dan sandal Yunita lebih menitikberatkan pada pemilihan motif dan warna benang pada bahan baku.

Produk sepatu tenun ini mendapat respon pasar dari berbagai kalangan dengan segmentasi produk medium dan premium. Pemesananpun terus berdatangan. Dalam sebulan, perempuan kelahiran 25 Juni 1988 ini berhasil memproduksi 300 pasang sepatu dan sandal dengan melibatkan 3 orang tenaga kerja. Selain pasar dalam negeri,  bahkan kini pemasarannya  sudah tembus hinngga sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Prancis. Pembeli dari luar negeri tertarik dengan motif dan corak serta penggunaan bahan baku dari kain tenun itu. 

Dalam perjalanannya mengangkat kain tenun Sasambo ini, Yunita mendapat penghargaan. Dia  meraih juara 1 kategori lomba desain Purwarupa tingkat nasional yang diadakan Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesa ( BPIPI) bersama dengan Kementerian Perindustrian RI pada tahun 2016.  “Saya ingin memperkenalkan berbagai budaya daerah ke berbagai lapisan masyarakat melalui sepatu berbahan baku kain tenun khas NTB untuk  mengglobalkan budaya produk daerah go internasional,” tutupnya. (*)