Kiprah Kades Cantik Sesaot Meraih Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan dari Kementerian

Kades Sesaot Yuni Hariseni

Desa Sesaot Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat menerima piagam penghargaan sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan 2020 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Selasa (2/3) lalu. Piagam penghargaan ini jatuh ke Desa Sesaot tak terlepas dari sentuhan tangan dingin Yuni Hariseni, Kepala Desa Sesaot.


ZULFAHMI–LOMBOK BARAT


KABUPATEN Lombok Barat memiliki 119 desa. Dari jumlah ini, hanya ada satu kepala desa yang dijabat oleh seorang perempuan. Dia adalah Kepala Desa Sesaot Kecamatan Narmada, Yuni Hariseni.

Yuni sendiri bukan setahun dua tahun menjabat sebagai kepala desa. Tapi ia sudah dua periode ini memegang pucuk pimpinan di tingkat desa setempat. Tentunya saja masyarakat setempat memiliki alasan jelas memilih Yuni sebagai pengayom mereka. Sebab, berkat sentuhan tangan dingin Yuni telah mampu membuat nama Sesaot melambung tinggi, khususnya di sektor pariwisata.

Selasa (2/3) lalu, Yuni terbang langsung ke Jakarta untuk menerima untuk menerima piagam sertifikasi sebagai Desa Wisata Berkelanjutan. Piagam penghargaan itu diserahkan langsung Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno di gedung Kemenparekraf Jakarta. Yuni sendiri menerima piagam penghargaan itu bersama 16 kepala desa lainnya se Indonesia.

Untuk Provinsi NTB sendiri, Yuni menerima piagam penghargaan itu bersama Kepala Desa Bilebante Kecamatan Pringgarata Kabupaten Lombok Tengah dan Kepala Desa Kembang Kuning Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur. Penghargaan tersebut diraih setelah pihak kementerian menilai desanya sebagai salah satu desa wisata. ‘’Dalam penilaian itu ada sekitar 174 indikator yang harus dipenuhi desa,’’ ujar Yuni kepada Radar Lombok, Selasa (9/3).

Yuni bertutur, penilaian dilakukan pada bulan Oktober 2020 . Penilaian itu menyoroti masalah pengelolaan, lingkungan, budaya, sosial, dan  ekonomi. Pada tanggal 29-30 November 2020, ada dilakukan asessment lapangan untuk melihat bagaimana pelaksanaan program yang sudah dimasukan dalam indikator. “Alhamdulillah, dari semua penilaian dalam indikator sudah bisa kita penuhi,” katanya.

Setelah menerima penghargaan ini, tentunya menjadi tanggung jawab besar bagi Desa Sesaot. Karena banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk bisa mempertahankan sertifikat yang sudah didapatkan ini. ” Sertifikat ini tentunya harus kita pertahankan,” tegasnya.

Dengan adanya sertifikat ini menunjukkan Desa Sesaot sudah diakui secara nasional. Jadi harus bisa dipertahankan dengan terus melakukan peningkatan kualitas desa wisata Sesaot. “Kita akan lebih saling sinergi dengan perangkat desa, lembaga desa, dan pemerintah desa, agar 174 indikator bisa tetap dipertahankan,” tegasnya.

Apa yang belum ada dan belum dikembangkan, akan terus dikembangkan lagi. Agar lebih bisa membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat, karena saat ini ada enam dusun di Desa Sesaot, dan masing-masing desa memiliki potensi yang sangat untuk dikembangkan. “Masing-masing dusun kita ingin kembangkan sesuai dengan potensi yang mereka miliki,” tegasnya.

Apa yang dicapai oleh Desa Sesaot ini bukan didapatkan secara instan. Pihaknya bersama dengan pemerintah desa dan warga masyarakat sudah bekerja panjang untuk bisa mendapatkan hasil seperti sekarang ini. Butuh waktu hingga bertahun-tahun untuk bisa menata Desa Sesaot yang dikenal sebagai desa wisata ini. “Butuh waktu panjang melakukan penataan destinasi wisata yang ada di Desa Sesaot,” ungkap Yuni.

Yuni menambahkan, Desa Sesaot dikenal dengan desa wisata. Banyak tempat wisata yang ada di desa ini. Sadar akan potensi desa yang dia miliki, periode kedua ini Yuni  membuat inovasi dengan membuat beberapa destinasi wisata di Desa Sesaot. ”Saya sudah merencanakan tahun 2020 akan membuka peluang bagi anak-anak muda di setiap dusun untuk membuka destinasi wisata. Dengan dibukanya destinasi wisata ini akan memberikan dampak ekonomi dan mengurangi tingkat pengangguran,’’ ujarnya.

Beberapa potenis wisata yang nantinya akan dikembangkan selain pusat rekreasi masyarakat yaitu, Bukit Petung (Petung Hills). Begitu juga di dusun-dusun lain yang ada di desa mereka memiliki keunggulan masing-masing untuk bisa diciptakan menjadi sebuah destinasi wisata. ”Masing-masing dusun memiliki destinasi wisata sendiri,” tegasnya.

Selain keberadaan desa wisata, Yuni saat hadir di Jakarta juga memperkenalkan produk UMKM Desa Sesaot. Beberapa program UMKM tersebut ada kopi kocor Sesaot, dodol nangka, dodol rumput laut, pisang sale, kripik ubi, keripik talas, keripik pare, stik rumput laut, tas rajutan, topeng kayu. “Potensi UMKM yang kita miliki juga saya bawa ke Jakarta untuk dipromosikan,” tandas Yuni. (**)