Ketika Pecinta Catur Membuka Kafe

Tidak sedikit hobi yang akhirnya menjadi sumber rezeki. Namun akan terlihat unik apabila sebuah kafe yang identik sebagai tempat makan-minum dan tempat hiburan, disulap menjadi tempat bermain catur.  Itulah inovasi yang dilakukan Muhammad Ramadhan,  seorang pencinta catur yang membuka usaha kafé di Kota Mataram.

 


AZWAR ZAMHURI – MATARAM


 

Beberapa orang terlihat duduk serius di sebuah kafe di Jalan Dr Sutomo, Karang Baru. Bangunan dua lantai di sebelah kiri jalan arah Rembiga ke Monjok itu berbeda dengan kafe-kafe lainnya yang biasa mempertontonkan suasana romantis atau gelak tawa pengunjung. Baru melihatnya saja, sudah terlihat desain kafe  tersebut pasti milik seseorang yang sangat hobi dengan catur.

 Di lantai satu, beberapa kursi dan meja telah terisi. Namun pengunjung tersebut bukan sedang makan kala Radar Lombok memasuki tempat tersebut. Matanya serius memandang ke arah meja dengan kening mengkerut.

Bentuk meja sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang lain. Tetapi uniknya, meja disini dilapisi spanduk yang bergambar papan catur, sebuah desain yang memang dihajatkan agar pengunjung bisa bermain catur.

 Seorang pria muncul. Rupanya dia  salah seorang pendiri kafe ini. Muhammad Ramadhan namanya, seperti diduga dia pasti pencinta catur bahkan mungkin juga mantan atlet catur.

Kafe yang masih belum banyak dikenal oleh kalangan umum masyarakat ini ternyata telah dibuka sejak 24 April tahun 2015 lalu.  Permainan catur telah mendarah daging pada diri Muhammad Ramadhan yang ternyata juga Pengurus Persatuan Catur Indonesia (Percasi) Provinsi NTB. “Saya jadi pemain catur sejak muda, ketika buka usaha ini dengan teman-teman, kita ingin memberikan sesuatu yang berbeda. Terutama agar para pemain catur bisa merasa ada tempat nongkrong yang nyaman dan enak. Masyarakat biasa juga tentu akan merasa nyaman, karena desain ini tidak mengganggu,” tuturnya mulai bercerita.

 Dalam dunia catur NTB, nama Muhammad Ramadhan memang tidak asing. Ia sudah dikenal di kalangan pemain catur di Pulau Lombok maupun NTB.  Sebagai pencinta catur, hadirnya kafe dengan desain ala catur ternyata memang dihajatkan utamanya untuk para pemain catur. Disinilah, selama ini banyak pemain catur dari berbagai kabupaten/kota berkumpul. Disini pula pemain catur bisa makan, minum, ngopi dan nongkrong sambil bermain catur. “Namanya kafe tentu kita punya menu beraneka ragam, silahkan bisa pilih apa saja dan soal main catur bisa main sepuasnya disini,” kata Ramadhan.

 Untuk bisa menikmati suasana di kafe ini tidak perlu merogoh kocek banyak. Pengunjung cukup membayar  Rp 5 ribu untuk satu orang. Biaya tersebut untuk bermain selama 12 jam atau seharian. Bahkan untuk bermain catur sehari semalam biayanya tidak bertambah berkali-kali lipat, hanya dengan Rp 10 ribu saja semuanya bisa diatur seperti mengatur pion-pion bidak catur.

 Puluhan petarung catur hadir setiap harinya di Cafe Catur. Banyak diantara mereka yang datang ingin mengasah kemampuannya. Lawan tinggal dipilih saja sesuai keinginan. “Ada remaja, orang tua an anak SD yang hobi main catur juga datang kesini. Asal mereka macam-macam, ada dari Lotim, Loteng dan juga Sumabawa,” sebutnya.

 Khusus untuk remaja atau pelajar yang hobi main catur sangat disarankan untuk datang ke sini. Mereka bisa mengasah kemampuan menghadapi pecatur senior dari berbagai wilayah yang ada di NTB. Semakin banyak  lawan yang dihadapi tentunya semakin meningkat kemampuan seseorang.

Tidak jarang, orang luar Kota Mataram menghabiskan waktu sampai menginap hanya untuk bermain catur. Pengunjung atau pemain catur yang datang bisa memesan berbagai hidangan yang disediakan Cafe Catur. ”Disini ada kopi, jus, minuman berenergi dan yang lainnya. Mau makan, ada juga kami jual nasi goreng, ayam sambal sasak, mie telur dan menu  Sasak lainnya, jelasnya.

Ramadhan sendiri sangat memimpikan adanya sekolah catur di NTB. Ia yakin akan banyak peminatnya, apabila sekolah dikelola dengan baik dan mengedepankan kualitas. “Sekolah sepakbola sudah banyak, sekolah catur kok belum ada yang kembangkan. Semoga kedepan kami bisa mendirikan sekolah catur,” harapnya.(*)