Kesan Relawan Yang Membantu Korban Gempa

Hati Tertinggal di Lombok, Berjanji akan Kembali

KESAN RELAWAN YANG MEMBANTU KORBAN GEMPA
RELAWAN: Di balik aktivitasnya sebagai relawan, hati Natasya Svetlana Madaga Alhaq (tengah) tertawan oleh banyak kenangan selama di Lombok. (SPECIAL FOR RADAR LOMBOK)

Ribuan relawan datang membantu korban gempa di Lombok. Mereka datang demi misi kemanusiaan. Di balik itu banyak kesan yang melekat. Salah satu relawan itu adalah gadis asal Makassar, Natasya Svetlana Madaga Alhaq.


*ALI MA’SHUM—MATARAM*


GEMPA beruntun yang meluluh-lantahkan sebagian Pulau  Lombok menggerakkan hati para relawan untuk datang membantu. Tidak saja bantuan tenaga, bantuan logistik juga beruntun. Kerja-kerja para relawan membuat pemerintah dan korban sangat terbantu.

Khusus untuk para relawan, mereka datang karena tergugah membantu warga yang menjadi korban. Natasya Svetlana Madaga Alhaq misalnya. Ia adalah satu diantara ratusan relawan yang datang sehari setelah gempa pertama menghantam Lombok.

BACA JUGA: Melihat Aktivitas Warga Sembalun Pasca Diguncang Gempa

Kepada Radar Lombok, gadis ini mengaku langsung memutuskan membantu sebagai relawan. Bersama rombongan TNI, Tasya (panggilan akrabnya, Red) berangkat ke Lombok menaiki pesawat Hercules. “Itu karena panggilan hati. Orang tua juga meminta saya untuk turun membantu saudara-saudara kita di sana,” ungkap dokter muda yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Chongqing Medical University China itu, Minggu kemarin (26/8).

Sebagai calon dokter, Tasya terlibat membantu pengobatan kepada korban. Di hari pertama, ia menilai penanganan kesehatan masih kurang. Padahal tidak sedikit korban yang terkena hipertensi, trauma dan shock.

Untuk korban yang shock dan trauma, jelasnya, masih bisa dilakukan trauma healing. Tapi itu tidak berlaku bagi yang terkena reruntuhan. Ini karena di lokasi paramedis masih kekurangan alat dan tenaga. “Kita saat itu yang ada di posko tidak bisa berbuat apa-apa karena kekurangan alat. Dirujuk ke rumah sakit tidak ada kendaraan. Kalaupun ada kendaraan, keluarganya sendiri tidak ada yang mau jaga. Katanya kalau dijagain nanti tidak ada yang ambil sumbangan logistik,” kata wanita 21 tahun itu.

Sebagai relawan, Tasya menolong korban di beberapa tempat. Seperti di Pemenang Barat di Lombok Utara. Selesai dari sana, ia lanjut ke Mekar Sari, kemudian ke Ranjok Barat dan Ranjok Timur Lombok Barat.

Ia mengaku sedih dengan kerusakan akibat musibah gempa. Terlebih dengan banyaknya pengungsi. Tekanan batin pun dirasakan melihat sekitar. “ Saya pengen nangis. Tapi diwajibkan tetap tersenyum itu susah. Saat itu saya baru ngerasain kekeluargaan sama orang yang baru dikenal. Soalnya saya sendirian ke sana tidak ada kenalan sama sekali,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Karena ada urusan lain yang harus dikerjakan, sebagai relawan dilakoninya selama 10 hari. Ia pun sempat merasakan gempa susulan berkekuatan signifikan. Namun hal itu tidak menyurutkan niatnya menjadi relawan.”Saat gempa susulan itu, saya berada di Tanjung. Bukan karena itu saya pulang. Saya tetap tahan. Seandainya tidak ada urusan di Jakarta mungkin saya masih di sana,’’ katanya.

Setelah menjadi relawan di Lombok, banyak pelajaran yang didapat. Terutama belajar banyak bersabar, disamping ikhlas dan bersyukur serta saling membantu dengan sesama.

Ia mengaku tidak jera datang ke Lombok. Tasya antusias untuk datang kembali. Angannya juga ingin menjadi warga Lombok. ‘’Suatu saat nanti saya ingin balik lagi. Ingin jadi orang Lombok juga malahan. Hati saya tertinggal di sana. Semua tentang Lombok membekas dalam hidup saya,’’ terangnya menceritakan kesannya.

Musibah gempa katanya, pasti berlalu. Ia berharap Lombok kembali seperti semula. Lombok akan indah seperti biasanya.

BACA JUGA: Semangat Para Siswa Di Tengah Duka Gempa, Tetap Ingin Sekolah Meski Rumah Hancur

Kepada korban, dia berharap agar tetap bersatu. Karena di balik musibah pasti ada hikmah. Kondisi saat ini pasti diganti lebih baik.

Mengutip bahasa China, Tasya menitipkan harapannya untuk Lombok. “Lombok bixu ba (Lombok harus bangkit),’’ harap Tasya. (*)