Kerumunan ‘Bau Nyale’ Tak Terbendung

BAU NYALE: Ribuan warga yang tumpah ruah untuk bau nyale di pantai Seger, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kamis (4/3). (ISTIMEWA/RADAR LOMBOK)

PRAYA – Pesta rakyat Sasak Lombok untuk menangkap cacing laut (bau nyale) tak terbendung pada Rabu-Kamis (3-4/3) dini hari tak terbendung. Meski sudah diwanti-wanti aparat berwenang, tapi warga tak bisa menahan hasratnya untuk tidak terlibat dalam momentum langka ini.

Ribuan masyarakat mulai memadati pantai, terutama di pantai Seger Kuta Kecamatan Pujut sebagai pusat kegiatan bau nyale. Apa yang menjadi keputusan dari Sangkep Warige ini juga sangat tepat. Hal ini terbukti dengan banyaknya nyale yang didapatkan warga. Meski ada warga yang menilai jumlahnya tidak banyak tapi ada juga yang mengklaim jumlahnya lebih banyak dari tahun sebelumnya. “Nyale yang kita dapatkan saat ini sama dengan tahun sebelumnya, jumlahnya sedikit. Karena kayaknya kurang keluar, tapi yang terpenting ada yang kita dapatkan,” ungkap salah seorang warga Desa Rembitan Kecamatan Pujut, Inaq Mainun, Kamis (4/3).

Inaq Mainun mengaku tetap pergi untuk bau nyale karena ini menjadi tradisi yang turun temurun dilakukan. Dia juga tidak menafikan bahwa takut akan pandemi Covid-19 meski saat bau nyale dirinya tidak menggunakan masker. “Takut sih (Covid-19) tapi mau bagaimana lagi nyale sudah keluar,” katanya.

Warga lainnya, Zainul Anwar juga tak bisa menghindari agenda tahunan masyarakat Sasak Lombok ini. Dia bersama keluarganya tetap turun untuk bau nyale. Dia mengaku nyale yang didapatkan tahun ini jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Lumayan kita dapat, kalau tahun lalu sedikit kita dapat bahkan dulu nyale air semua tapi sekarang banyak. Saya datang dari pukul 04.00 Wita bersama keluarga dan nyale ini kita makan nanti,” katanya.

Hasil tangkapan nyale warga ini sudah banyak terjual di pasaran dan harga yang mereka jual juga sangat bervariasi. Mulai dari Rp 50 ribu bahkan hingga Rp 100 ribu untuk satu bungkus nyale. “Harganya memang segitu dari tahun-tahun sebelumnya dan saya ambil nyale dari nelayan untuk saya jual,” ungkap salah seorang pedagang di pasar Sengkol.

Di satu sisi untuk memastikan perayaan tradisi adat bau nyale yang dilaksanakan mulai tadi malam hingga hari ini (3-4 Maret) oleh masyarakat berjalan aman dan kondusif serta sesuai prokes. Dandim 1620/Loteng Letkol Inf I Putu Tangkas Wiratawan turun langsung memantau di lokasi perayaan dengan patroli di seluruh titik lokasi. “Kita patroli di beberapa lokasi perayaan bau nyale di pantai selatan. Tujuannya agar memastikan semuanya dalam keadaan aman dan kondusif,” ungkap Letkol Inf I Putu Tangkas Wiratawan.

Putu menegaskan, saat berada dibeberapa lokasi perayaan bau nyale, ia juga berkomunikasi dengan warga yang hadir kemudian mengimbau kepada warga agar menjaga keamanan diri dan selalu mematuhi protokol kesehatan. “Tidak dipungkiri masih banyak ditemukan warga yang belum mematuhi prokes dengan tidak menggunakan masker. Dan itu kami ingatkan terus agar terhindar dari covid-19,” jelasnya.

Disampaikan juga terkait sistem pengamanan seperti apa yang dilakukan TNI, untuk tahun ini Kodim 1620/Loteng menyerahkan sepenuhnya kepada Koramil yang mempunyai wilayah pesisir pantai. Seperti Koramil 04/Praya Barat dan Koramil 02/Pujut. Sesuai dengan pemetaan lokasi, anggota ditugaskan di 16 titik lokais pengawasan dan pemantauan pelaksanaan bau nyale bersama-sama dengan kepolisian dan Satpol PP. “Lokasinya seperti di kawasan pantai Torok Aik Belek, Selong Belanak, Serangan, Lancing, Tampah, Semeti, Sebuwuk, Tunak, Berinding, Mawun, Areguling, Seger, Tanjung Aan, Meresek, Bebuak, dan pantai Kuta,” jelasnya.

Pihaknya juga mengajak seluruh warga Lombok Tengah agar selalu menjaga situasi seperti sekarang ini yang aman, damai dan kondusif. Karena kunci untuk kemajuan pariwisata adalah keamanan. “Terima kasih kepada seluruh warga Lombok Tengah,yang sudah menjaga keamanan dan kenyamanan dalam pelaksanaan bau nyale,” ucap Putu.

Sementara dalam rangka antisipasi kerumunan dan pelanggaran protokol kesehatan Covid-19 pada saat acara puncak malam bau nyale, Polres Lombok Tengah menerjunkan 350 lebih personel gabungan TNI-Polri untuk lakukan pengamanan. Pihak kepolisian bersama Fokopimda dan seluruh stakeholder sudah sepakat pelaksanaan tradisi bau nyale di pantai wilayah selatan, dilaksanakan tanpa adanya perayaan dalam bentuk apapun. Karena akan menimbulkan kerumunan dan bisa menimbulkan klaster baru. “Bulan Februari kemarin, Kapolres bersama Bupati, Dandim, Kajari, Ketua PN Praya dan seluruh stakeholder turun langsung ke setiap kecamatan untuk sosialisasikan hal tersebut,” ungkap Kabag Ops Polres Lombok Tengah, Kompol I Kadek Suparta.

Meski sepenuhnya pihak pemda tidak bisa melarang kegiatan tersebut, karena acara bau nyale sudah menjadi bagian tradisi dari masyarakat, bahkan sudah masuk dalam kalender event nasional. Kendati demikian, pihak kepolisian tetap menerjunkan personelnya untuk melakukan pengamanan pada saat pelaksanaan acara bau nyale. “Walaupun tidak ada acara perayaan yang disertai hiburan, kami dari Polres tetap melakukan pengamanan untuk mengantisipasi kerumunan,” tegasnya.

Sedikitnya sekitar 350 lebih personel gabungan Polres Lombok Tengah dan Kodim 1620 Lombok Tengah, diterjunkan dalam pengamanan acara bau nyale pada 3-4 Maret ini. Dalam pengamanan, personel yang melaksanakan pengamanan dengan melakukan penyekatan di berbagai titik dan pengamanan di lokasi yang berpotensi kerumunan di sepanjang pesisir pantai wilayah selatan. “Ada 350 orang personel gabungan kita tempatkan di lokasi yang sudah ditentukan di seluruh wilayah pantai selatan untuk lakukan penyekatan dan pengamanan,” tambah Suparta. (met)