Kerugian Banjir Lobar Diperkirakan Ratusan Miliar Rupiah

RUSAK: Kondisi jembatan dan rumah warga yang rusak akibat banjir di Desa Kekait Kecamatan Gunungsari Kabupaten Lombok Barat. (ZULFAHMI/RADAR LOMBOK)

TIGA kampung korban banjir bandang di Kecamatan Gunungsari Kabupaten Lombok Barat masih terisolir. Material longsor masih menutupi akses jalan menuju dua kampung ini. Salah satunya menuju kampung Seleser Dusun Poan Selatan Desa Guntur Macan.

Material terpaksa dibersihkan warga dengan peralatan seadanya karena belum ada alat berat yang didatangkan untuk membersihkan material longsor. ‘’Belum ada alat berat, makanya kita semprot pakai air seadanya, ” terang Sekdes Guntur Macan, H Jumaah, Rabu (8/12).

Jumaah menyebutkan, ada ratusan kepala keluarga (KK) yang tinggal di Dusun Poan Selatan. Kawasan itu sampai kemarin belum bisa dijangkau menggunakan kendaraan. Untuk menyalurkan bantuan sendiri, warga masyarakat harus melintas daerah yang lebih jauh melewati jalan Dusun Poan Utara. “Untuk sementara, warga lewat Poan utara untuk mendapatkan bantuan,” tambah Jumaah.

Kondisi yang sama juga terjadi di Desa Pusuk Lestari. Hingga hari ketiga, material longsor masih menutupi jalan. Akibatnya, ada dua dusun yang masih terisolir di wilayah desa itu. “Ini sudah masuk alat berat sedang pembongkaran material longsor. Kalau sudah selesai kondisi akan normal,” kata Zulfan, warga setempat.

Dari sisi kerugian akibat bencana banjir diperkirakan mencapai ratusan miliar. Karena kerusakan akibat banjir tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga merusak sejumlah fasilitas umum dan lahan pertanian hingga peternakan warga.  Seperti di Desa Kekait, puluhan rumah rusak, deretan rumah di pinggir sungai bendungan Sandik ambles dibawa derasnya arus banjir. Besarnya pinggiran sungai yang ambles membuat ukuran sungai dua kali lebih besar dari ukuran semula.

Perkiraan kerugian dampak bencana ini dilihat dari beberapa aspek. Di antaranya kerusakan rumah warga, fasilitas umum seperti jalan dan jembatan serta fasilitas lainnya akan bertambah menyusul sedang dilakukan penghitungan dan kajian lapangan.

Seperti disampaikan Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Lobar, Hartono Ahmad. Ia menyebut, data kerusakan dampak bencana mencapai puluhan miliar. Perkiraan kerugian mencapai puluhan miliaran itu perkiraan sementara dari kerusakan yang ditimbulkan, baik rumah maupun fasilitas umum dan lainnya. ‘’Perkiraannya itu mengacu data sementara BPBD yang mencatat ada 448 unit rumah warga yang rusak. Kalau biaya penanganan satu unit rumah dengan biaya Rp 30-35 juta,’’ kata Hartono.

BACA JUGA :  Baru Dibangun, Plafon Ruang Tunggu Gili Mas Ambruk

Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Lombok Barat, Lalu Winengan memperkirakan kerugian akibat banjir bandang dan longsor mencapai Rp 100 miliar lebih. Hal itu berdasarkan data kerusakan rumah sebanyak 5.574, ditambah kerusakan alat elektronik yang dimiliki korban. “Kalau gempa bumi itu mungkin yang rusak hanya rumah, belum tentu peralatan elektronik. Nah, kalau banjir, ketika air menggenangi rumah, pasti akan merusak peralatan elektronik itu,” ungkapnya.

Winengan menjelaskan, data 5.574 rumah itu didapat dari beberapa kecamatan terdampak banjir bandang seperti di Kecamatan Gunungsari, Sekotong, Batulayar dan Lingsar. Bahkan, di Batulayar ada 5 orang meninggal dunia. Oleh karenanya, ia diperintahkan oleh Bupati untuk langsung memantau kondisi masyarakat dan berkoordinasi dengan BPBD. Hasil koordinasi dengan Kalak BPBD Lobar akan sampaikan kondisi ini ke BNPB dan Menko PMK supaya ada atensi terhadap korban banjir bandang ini sebagaimana pemerintah pusat atensi gempa tahun 2018.

Terlebih masyarakat korban banjir bandang tidak mau meninggalkan rumahnya, takut isi rumah dicuri orang tidak bertanggung jawab seperti halnya terjadi saat gempa bumi tahun lalu. Padahal, Bupati telah menawarkan solusi supaya korban banjir bandang menempati Rusunawa, tapi menolak. Sehingga Winengan mengusulkan pembangunan hunian sementara (huntara), baik rusak ringan, sedang dan berat. “Saya diperintahkan Bupati pantau kebutuhan makanan pokok, korban dan itu sangat tersedia,” tuturnya.

Untuk usulan Huntara, sambungnya, sedang dikoordinasikan dengan pemerintah pusat. Setidaknya dapat diatensi untuk yang rusak ringan mendapatkan Rp 15 juta, rusak sedang Rp 25 juta dan rusak berat Rp 50 juta. Winengan berharap hati mulia Presiden Joko Widodo agar memperhatikan korban bencana ini. “Saya sangat berharap, bila perlu Pak Presiden tinjau korban banjir bandang di Lombok,” harapnya.

BPBD Provinsi NTB mencatat, data sementara jumlah korban terdampak akibat bencana banjir bandang yang melanda wilayah Lombok Barat sekitar 5.879 KK atau 14.842 jiwa. Korban ini terdapat di empat kecamatan yang terdampak, yakni Kecamatan Batulayar, Gunungsari, Sekotong, dan Lingsar. Rincinya Kecamatan Gunungsari 2.956 KK atau 5.530 jiwa, Kecamatan Batulayar 985 KK atau 3.355 jiwa, Kecamatan Lingsar 157 KK atau 471 jiwa, dan Kecamatan Sekotong 1.781 KK atau 5.486 jiwa.

BACA JUGA :  Rahmat Nilai Program Zero Waste Gagal

Sementara untuk korban yang masih bertahan di tempat pengungsian sebanyak 1.880 jiwa. Mereka berada di sejumlah lokasi pengungsian yang disiapkan seperti Dusun Batulayar Utara Desa Batulayar, Dusun Karang Telage dan Dusun Aik Genit Desa Senteluk. Kemudian tempat pengungsian ada di 4 titik di Desa Kekait, 2 titik di Desa Gunungsari, 3 titik di Desa Ranjok, 3 titik di Desa Guntur Macan, 2 titik di Desa Sesela. “Karena sekarang air sudah surut makanya warga sudah banyak yang kembali ke rumah masing-masing sambil membersihkan rumahnya,’’ kata Kepala BPBD Provinsi NTB, H Sahdan.

Untuk kerusakan rumah penduduk masih proses pendataan. Data sementara yang dikumpulkan terdapat 845 unit rumah penduduk yang rusak, fasilitas pendidikan 37 unit, fasilitas kesehatan masih proses pendataan, fasilitas peribadatan 1 unit, 3 jembatan putus, puluhan titik talud rusak, dan kerusakan lainnya masih didata. ‘’Kalau jumlah kerugian sendiri belum bisa kita taksir karena masih proses pendataan,’’ ujar Sahdan.

Sahdan juga menyampaikan bagi warga yang rentan bencana banjir seperti orang tua, anak-anak, dan bayi belum dapat diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing. Alangkah baiknya mereka tetap tinggal di pengungsian untuk sementara, terlebih adanya informasi jika ada kabar banjir susulan.

Sahdan juga menyebutkan, ada dua kabupaten/ kota di NTB telah menetapkan tanggap darurat bencana banjir. Yakni Lombok Barat dan Kota Bima. “Untuk tanggap darurat selama 14 hari sejak terjadi bencana banjir sejak hari Senin lalu. Bahkan kalau Bima sudah lebih dahulu tanggap darurat dari 29 November karena lebih dulu dihajar banjir,” katanya.

Data sementara jumlah korban di Kota Bima akibat hujan dengan intensitas sedang hingga lebat Senin (6/7) lalu, terdapat 5.457 KK terdampak. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, hanya satu orang korban mengalami luka-luka. Untuk kerusakan, perumahan tidak ada yang terendam banjir. Begitu juga tidak ada fasilitas pendidikan yang rusak tapi satu fasilitas kesehatan 1 puskesman pembantu dan dampak lainnya seperti 2 jembatan putus  dan 4 hektare lahan pertanian. ‘’Kita juga mengimbau agar warga tetap waspada terhadap cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi,’’ imbaunya. (ami/sal)