Kereta Gantung Rinjani: Merusakkah?

Suaeb Qury
Suaeb Qury.(ist)

Oleh :Suaeb Qury

Ketua LTN-NU NTB 

Baru  beberapa minggu ini semakin ramai para aktivis lingkungan dan penggiat pariwisata, merespon pertemuan dan rencana Gubernur NTB dengan investor dari Jepang dan Cina yang berkeinginan membangun kerata gantung di gunung Rinjani. Sebagai mode transportasi pariwisata. Rencana pembangunan proyek fantasi kereta gantung di kawasan Geopark Rinjani bisa jadi menjawab problem transportasi yang menuju gunung rinjani.  Dan bagaimana pula nasip para pengusa tranportasi dan trevel tour yang sudah sejak lama menjadi mode transportasi alternatif bagi para pengunjung dan pendaki gunung rinjani Lombok Timur.

Beragamnya tanggapan dan respon para penggiat pariwisata, sangat berbeda dengan kehendak baik pihak pemerintah daearah. Ada yang perpandangan akan  “melukai’ rasa cinta terhadap alam ” yang justru di saat kita sedang gencar-gencarnya melakukan upaya konservasi dan proteksi lingkungan, apalagi ditengah bencana lingkungan dan hilangnya sumber daya air yang semakin parah,” 

 Apa iya, bilamana kerata gantung akan menjadi issu public interest dan sentral,  karena Rinjani adalah sumber daya hidup bagi masyarakat suku Sasak dan penduduk di Pulau Lombok.

Setidak pihak eksekutif (Gubernur) dalam setiap pengambilan kepetusan yang berdanpak pada kepentingan dan hajat hidup masyarakat sekitar rinjani. Penting juga melakukan uji publik dan konsultasi publik melalui mekanis legislatif atau para pihak yang bergerak dibidang lingkungan dan pariwisata.

Tapi itu, mungkin saja akan dilakukan oleh Gubernur NTB, jika dipandang perlu. Namun, harus diakui juga apa yang dilakukan oleh Gubernur dengan menyediakan ruang yang mudah,cepat dan aman bagi para investor adalah peluang bagi tumbuhnya ekonomi di NTB. 

Ada banyak pihak melihat dengan cara pandang sosial buda yang berbeda ,jika kereta gantung gunung rinjani dilaksanakan dengan alasan.  

Bahwa gunung rinjani adalah kawasan adat atau warisan budaya, bahkan menjadi warisan dunia dan diakui sebagai kawasan UNESCO Global Geopark yang harus dijaga nilai-nilai yang melekat padanya. Begitu juga dengan gunung rinjani dimaknai sebagia tempat yang sakral bagi orang Sasak, masyarakat Hindu dan Budha di NTB.

Tapi tidak sampai disitu juga, bahwa selama ini gunung rinjani juga telah menghidupkan usaha bagi para gaet dan traveling yang sudah berpuluhan tahun bekerja dan ikut menjaga kelestarian gunung rinjani. Lalu bagian pekerjaan mereka ini, mau dikemanakan juga, jika benar adanya kereta gantung. Bagi para penggiat dan pencinta lingkungan, memaknai gunung renjani bukan sekedar taman nasional yang harus dijaga dan pilihara, akan tetap merupakan paru-paru hidup yang menghidupakan, bagi tumbuhan air dan udara bagi penduduk di sekitarnya.

Mencari solusi dan ragamnya pandangan serta kritikan dari berbagai pihak adalah kebesaran hati bagi seorang Gubernur “Jangan sesuatu yang baru kemudian jadi polemik. Kalau sesuatu pembangunan itu ada negatif dan positif pasti iya. Tapi jangan lantas negatif itu ditonjolkan terus kita kehilangan gambaran dari proses pembangunan kereta gantung itu,” . Begitulah cara sang Gubernur, ingin menjelaskan kepada publik bahwa rencana pembangunan kereta gantung itu sudah lima tahun tak berjalan di Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, lantaran persoalan kewenangan yang telah berganti dari kabupaten ke provinsi.

Namun, setelah kewenangannya beralih provinsi, ternyata rencana proses pembangunan kereta gantung menjadi lebih cepat karena analisa studinya sudah bagus.Tentu kita memahami cara pandang ahli-ahli yang melihat faktor lingkungan. Jangan sampai merusak hutan, sehingga menjaganya pun menjadi keharusan. Bukan juga mrngganggu bagian yang lain dari kereta gantung, sebab

Kerata gantung berada di luar kawasan konservasi.

Bisa juga, dimaknai apa yang menjadi kritik dari para aktivis lingkungan dan pelaku pariwisata dengan cara pandang yang berbeda melihat pada aspek branding Rinjani di dunia masuk kategori pendakian gunung ringan atau light mountaineering yang digemari oleh banyak kalangan pecinta “outdoor” di seluruh dunia, karena track nya yang nyaman dan tidak extreme. Namun, karena kereta gantung justru akan menurunkan minat pasar tersebut untuk ke Rinjani. Benarkah itu semua,  dengan adanya kerata gantung akan menurunkan peminat pasar dunia berkunjung dan mendaki ke gunung Rinjani. 

Hal yang sama juga, apa yang dikritik oleh pencinta lingkungan Walhi ntb yang melihat dengan kerata gantung akan mengganggu habitat flora dan fauna di sepanjang jalur kabel kereta gantung. Intensitas beroperasinya fasilitas ini akan merubah perilaku dan pergerakan fauna yang bisa menyebabkan kepunahan. 

Ragamnya pandangan dan kritikan dari berbagai pihak, bukan berati menyurutkan niat Gubernur untuk mewujudkan kerata gantung di gunung rinjani,  sebab prospek dan aset wisata dengan mode yang lebih moderen adalah tanda krmajuan suatu daerah.  

Respon dan dukungan sang Bupati  Lombok Tengah, H Moh Suhaili FT, pun bukan sekedar mendukung akan keberadaan  rencana pembangunan kereta gantung menuju kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Bagi sang Bupati H. Suhaili FT,  kerata gantung rinjani adalah satu bagian dari colaburation pembangunan destinasi baru yang akan menjadi pendukung pengembangan pariwisata di NTB dengan pelaksana MotoGP Tahun 2021 di Sirkuit Mandalika Resort. Dan kerata gantung juga,  menjadi bagian dari alternatif,  bagi para pelancong menikmati keindahan alam kawasan Gunung Rinjani.

Semoga saja kehendak publik seirama dengan kenyataan dari sebuah kemajuan dan tumbuhnya ekonomi wisata.  Dengan hadirnya kereta gantung kelak nanti, menjadi kenyataan bagi sebuah ekologi dan kelestarian hutan dan lingkungan berjalan serasi tanpa merusak dan merugikan pihak lainnya. Wallahu’awam bissawab.(*)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid