Kepanikan Warga Lombok Diguncang Gempa 6,4 Skala Richter (Bagian 2)

Ya Allah...Ya Allah..Gempa..Gempa..

Masyarakat yang awalnya hendak masuk kembali ke dalam rumah untuk memeriksa berbagai kerusakan atau barang-barangnya, otomatis kembali berhamburan keluar rumah mencari lokasi yang aman, di jalan-jalan maupun tanah lapang, jauh dari bangunan.

Berikutnya guncangan-guncangan yang lebih kecil terus terjadi susul menyusul, hingga matahari pun terbenam. Karena tidak berani masuk ke dalam rumah, takut terjadi gempa susulan yang lebih besar, ribuan warga pun akhirnya mendirikan tenda-tenda darurat di tanah lapang, maupun di depan rumahnya sendiri. Bahkan tidak sedikit diantaranya yang terpaksa beratapkan langit, karena tidak memiliki terpal.

Meskipun gempa yang terjadi hampir setiap jam itu tidak sebesar gempa pertama, namun getarannya cukup membuat warga menjadi panik. Sehingga nyaris tidak ada warga yang bisa tidur dengan nyenyak. Apalagi ketika terjadi gempa susulan, warga banyak yang teriak ketakutan.

Kepanikan warga itu pun bertambah lengkap, setelah di tenda-tenda darurat beredar khabar hoax akan terjadi tsunami, hingga kabar bohong terkait maling yang banyak berkeliaran mengincar harta benda di rumah-rumah warga.

BACA JUGA: Jokowi Minta Rumah Korban Gempa Segera Dibangun

Namun khabar hoax itu berhasil di redam oleh Kapolres KLU melalui Kapolsek Bayan, Iptu Sumedane, yang dengan sigap langsung turun lapangan, dan ternyata berita maling berkeliaran mengincar harta benda warga itu tidak benar. “Memang benar beredar khabar itu, tetapi setelah kami telusuri, ternyata tidak ada terjadi kasus pencurian. Tidak ada maling, kita sudah cek ke semua tempat yang disebutkan, tetapi tidak ada apa-apa,” ungkap Sumedane.

BACA JUGA :  Baiq Siti Suryani, Olah Rumput Laut jadi Oleh-oleh Khas Lombok