Kepanikan Warga Lombok Diguncang Gempa 6,4 Skala Richter (Bagian 2)

Ya Allah...Ya Allah..Gempa..Gempa..

Gempa Lombok
ATAP LANGIT: Warga Dusun Gereneng yang mengungsi di Lapangan Desa Anyar, Kecamatan Bayan, KLU terpaksa harus tidur beratapkan langit pada hari pertama mengungsi, karena di lokasi belum ada tenda yang terbangun. (DERRY HARJAN/RADAR LOMBOK)

Gempa berkekuatan 6,4 skala richter (SR) yang mengguncang Pulau Lombok, Minggu pagi (29/7), sekitar pukul 06.47 Wita. Tak hanya meluluhlantakkan bangunan dan rumah-rumah warga di Kecamatan Sembalun, Sambelia, Wanasaba, Pringgabaya, dan Aikmel di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) saja. Guncangan maha dahsyat itu juga dialami oleh masyarakat di Kabupaten Lombok Utara (KLU).

BACA : Kepanikan Warga Lombok Diguncang Gempa 6,4 Skala Richter (Bagian 1)


*DERRY HARJAN – LOMBOK UTARA*


MINGGU pagi itu, kesibukan masyarakat Dusun Gereneng, Desa Anyar, Kecamatan Bayan, KLU, baru saja dimulai. Kaum ibu-ibu tampak sedang sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk sarapan pagi keluarga. Sementara sang bapak usai sholat subuh, duduk santai lesehan di teras rumah, menyeruput kopi, sambil mengisap rokok kretek dengan nikmatnya.

Namun pagi yang indah itu pun berubah petaka, ketika bumi yang awalnya tenang, tiba-tiba bergetar dengan hebatnya. Belum hilang kekagetan warga, disusul kemudian dengan hingar bingar seperti suara bangunan yang roboh. Sedetik kemudian, suara jerit kepanikan dan teriakan takbir menyebut asma Allah mulai terdengar riuh. “Ya Allah…Ya Allah…Gempa..Gempa..,” teriak Handayani, salah satu warga setempat, sembari memanggil-manggil suami dan anak-anaknya, agar segera keluar dari rumah untuk menyelamatkan diri.

Sampai di jalan depan rumah, Handayani ternyata tidak sendiri, tetapi warga desa lainnya dengan raut muka panik juga sudah ramai, sambil tak henti-hentinya bertakbir. Bahkan ada diantaranya yang histeris, berlarian kesana-kemari, kebingungan karena belum menemukan anggota keluarganya.

Belum hilang kepanikan warga karena merasakan guncangan yang cukup besar, tak berapa lama kemudian terjadi lagi gempa susulan dengan kekuatan 5,0 SR. Kali ini warga Desa Gereneng merasakan guncangan yang lebih besar, karena pusat gempa memang ada di wilayah KLU. Berbeda dengan gempa sebelumnya yang berpusat di daerah Lombok Timur.