Kendala Sarana dan Prasarana Dihadapi Sekolah

SIMULASI: Siwa SMKN 1 Praya Tengah sedang menjalankan simulasi ujian berbasis komputer (Saparudin/RADAR LOMBOK)

PRAYA—Ujian Nasional Berbasis Komputer, (UNBK) tahun 2016 masih menyisakan masalah hingga saat ini. Pasalnya Listrik di Lombok Tengah (Loteng), belum mampu memberikan pelayanan maksimal, khususnya saat ujian sedang berlangsung.

Kepala SMKN 1 Praya Tengah Loteng, Khaerul Ahmad mengatakan, tahun lalu sempat terjadi listrik padam. Hanya saja, pemadaman itu hanya sebentar.

“Meski sebentar tapi itu sangat vital dalam pelaksanaan UNBK,” ungkapnya, Sabtu (7/1).

Vitalnya aliran listri, jelasnya, karena dalam proses UNBK berdampak terhadap proses kelancaran ujian tersebut. Di lain sisi, pemadaman listrik juga bisa mengganggu konsentrasi siswa yang ikut sebagai peserta ujian.

Kejadian semacam itu, ungkapnya, sering kali ditakutkan pada pelaksanaan UNBK. Pihaknya, kejadian tersebut akan terulang pada UNBK tahun ini. “Kita sih tidak takut, hanya saja khawatir dan kasihan kepada siswa, sudah lelah-lelah menjawab soal tapi tiba-tiba hilang,” imbuhnya.

Kesalahan semacam ini, jelasnya, harus bisa ditanggulangi pada pelaksanaan UNBK tahun ini. Sedangkan permasalahan lain seperti kendala teknis kemampuan siswa menjawab soal menggunakan perangkat komputer disebutnya tidak ada masalah.

Ditambahkan, saat ini jumlah peserta UNBK bertambah dari tahun lalu. Dimana tahun ini berjumlah 401 orang siswa. Dari jumlah tersebut terbagi menjadi 5 jurusan, yakni jurusan Akuntansi, Administrasi Perkantoran, Pemasaran, Multimedia dan jurusan Perbankan.

[postingan number=3 tag=”unbk”]

Selanjutnya, atas bertambah jumlah siswa tersebut, fasilitas seperti komputer dan yang lainnya sudah disiasati. Dimana jumlah komputer saat ini berjumlah 136 dan 6 server. “Insya Allah segala persiapan baik dari segi kualitas dan kuantitas siswa, kami sudah siap termasuk sarana dan prasarana, sebab kita melaksanakan UNBK yang keduakalinya,” terangnya.

Selain soal listrik, sekolah juga masih dihadapkan pada persoalan  peralatan yang memadai seperti  server dan komputer. Seperti yang dialami SMPN 1 Mataram, kendati persiapan UNBK sudah dibicarakan dengan orangtua sekolah  namun sekolah berharap bantuan pemerintah terutama pengadaan sarana dan perasarana.”Peserta kami yang akan mengikuti UNBK sebanyak 565 siswa dan minimal kita memiliki 190 komputer dengan 5 ruangan,” ungkap Saptadi Akbar  Kepala SMPN 1 Mataram.

Diungkapkanya  saat ini SMPN 1 Mataram hanya memiliki 1 laboraturium  dengan 40 komputer. Namun sisanya nanti akan disiasati dengan cara bekerja sama dengan orang tua untuk meminjam laptop. Kalaupun hal tersebut tidak memungkinkan maka sekolah akan bekerja sama dengan SMA yang sudah terlebih dahulu menjalankan UNBK.

“Kalau masalah kekurangan komputer, kita masih ada dua solusi yakni dengan cara meminjam laptop kepada orangtua siswa atau dengan cara meminjam ke SMA. Namun yang menjadi kendala aat ini yakni tidak adanya server yang kita miliki. Padahal kita butuh 5 server yang setiap ruagan masing- masing harus ada 1 server,” tambahnya.

Siswa sendiri  sudah dibekali jauh hari sebelumnya dengan cara pengayaan dan try out mandiri berbasis UNBK. Siswa diyakini sudah memahami akan tata caranya UNBK ini.” Kalau masalah persiapan siswa dan siswi sudah tidak diragukan lagi, tapi sarana dan perasarana ini yang masih menjadi kendala sehingga kita berharap ada solusi dari pemerintah,”ungkap laki- laki yang juga sebagai ketua PGRI Kota Mataram tersebut.(cr-ap/cr-met)