Kementan Tak Respon Usulan Tambahan Kuota Pupuk Subsidi NTB

H Fathul Gani ( Budi Ratna Sari/radar lombok )

MATARAM – Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB mencatat distribusi pupuk subsidi bagi petani per Mei 2022 baru mencapai 38,9 persen atau sekitar 133,680.97 ton, dari target yang dialokasikan Pemerintah Pusat sebanyak 342.831.00 ton.

Kepala Distanbun NTB H Fathul Gani menyebut 133,680.97 ton pupuk subsidi yang telah didistribusi ke tingkat petani adalah jenis pupuk urea, NPK, ZA-36,organik dan POC. Ia merinci penyaluran pupuk urea sudah mencapai 87,265.60 ton, dari total yang dialokasikan mencapai 186,922 ton. Kemudian pupuk SP-36 telah disalurkan sebanyak 5.752.75 ton dari yang ditargetkan sekitar 11,443.00 ton.

Begitu juga pupuk ZA telah disalurkan sebanyak 5,474.95 ton dari 10,653.00. Berikut pupuk NPK sebanyak 29,642.90 ton dari target alokasi 48,634.00 ton. Pupuk organik sebanyak 3,107.77 ton dari yang dialokasikan Pemerintah sebanyak 14,302.00 ton.Terakhir adalah pupuk POC sekitar 2,437.00 dari target yang dialokasikan sebanyak 70,877.00 ton.

Baca Juga :  NTB Siap Pasok 5 Ribu Ekor Sapi Potong untuk Jabodetabek

“Untuk NPK dari 15 persen yang dialokasikan, kita minta tambahan 70 persen. Tapi sampai saat ini belum ada balasan dari surat yang kami ajukan,” imbuhnya.

Melihat kebiasaan tanam para petani di NTB banyak menggunakan jenis pupuk urea. Padahal di pupuk NPK sudah ada kandungan urea, terutama kandungan N -nya. Apalagi NPK adalah pupuk majemuk, karena sudah ada kandungan N, P dan K nya. Di mana kandungan N- nya mampu menggantikan pupuk fungsi urea. Tapi melihat fungsi dari masing-masing kandungan pupuk. Maka tentu dibutuhkan beberapa jenis pupuk. Secara bertahap akan dikurangi subsidi urea agar petani  tidak terlalu tergantung sama subsidinya.

Baca Juga :  Pakan Mahal, Harga Telur Ayam Semakin Meroket

Diakuinya masalah pupuk menjadi masalah sensitif yang sering terjadi dikalangan petani. Terlebih Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian (Kementan) RI telah mencabut sejumlah penjualan pupuk bersubsidi bagi petani. Artinya penyaluran pupuk jenis ZA, SP-36 dan Organik granula sudah mulai dikenakan harga non subsidi, sehingga margin atau perbedaan harga antara pupuk subsidi dan non subsidi yang terlalu besar.

“Tidak apa-apa pupuk subsidi dicabut, asalkan ada intervensi bentuk lain yang mendukung produksi atau aktivitas para petani,”ujarnya. (cr-rat)