Kementan Masukan Ganja Salah Satu Komoditas Tanaman Obat

Tanaman ganja (ist0

MATARAM –Kementerian Pertanian (Kementan) menetapkan ganja (Cannabis Sativa) sebagai komoditas binaan pada komoditas tanaman obat.

Penetapan ganja ini tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor 104 Tahun 2020 tentang Komoditas Binaan Kementerian Pertanian yang ditandatangani Menteri Pertanian Sahrul Yasin Limpo pada tanggal 3 Februari 2020. ” Komoditas binaan dan produk turunananya dibina oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Direktorat Jenderal Hortikultura, Direktorat Jenderal Perkebunan, dan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan,” bunyi Keputusan Menteri (Kepmen) itu seperti yang dikutip radarlombok.co.id dari laman resmi Kementerian Pertanian, Sabtu (29/8).

Dalam Kepmen itu disebutkan bahwa komoditas binaan sebagaimana dimaksud dalam diktum KESATU dan produk turunannya dibina oleh Direktorat Jenderal masing-masing sesuai dengan kewenangannya. Selanjutnya, Direktur Jenderal dalam menetapkan komoditas binaan dan produk turunannya sebagaimana dimaksud dalam diktum keempat harus berkoordinasi dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Direktorat Jenderal teknis Lingkup Kementerian Pertanian, pakar/perguruan tinggi, dan Kementerian/Lembaga. “Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan,” bunyi diktum ketujuh.

Dalam Kepmen itu, ganja masuk komoditas binaan Direktorat Jenderal Holtikultura Kementerian Pertanian pada komoditas tanaman obat. Dalam daftar itu, ganja di urutan 12 dari 66 tanaman obat. Selain ganja, ada juga tercatat kecubung, mahkota dewa, sereh, sambiloto dan tanaman obat lainnya. Sedangkan untuk komoditas buah-buahan sebanyak 60 jenis, sayuran 42 jenis serta tanaman hias berjumlah 361 jenis.

Ganja sendiri sudah lama ditetapkan masuk sebagai salah satu jenis narkotika. Menurut Undang Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, ganja masuk jenis narkotika golongan I. Selain ganja, jenis narkotika golongan I yang lain adalah sabu, kokain, opium, heroin.

UU Nomor 35/2009 juga melarang konsumsi, produksi, hingga distribusi narkotika golongan I. Artinya narkotika golongan I tidak boleh dikonsumsi untuk pengobatan sekalipun. Izin penggunaan terhadap narkotika golongan I hanya dibolehkan dalam hal-hal tertentu seperti untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tapi dalam jumlah terbatas dengan persetujuan menteri atas rekomendasi Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Dirangkum dari berbagai sumber, ganja mengandung delta 9-tetrahydrocannabinol atau disingkat THC yakni zat yang memberikan efek memabukkan. Efek paling banyak dilaporkan adalah bikin rileks dan dalam kadar berlebih memicu halusinasi. Kandungan lainnya adalah CBD ata cannabidiol, yang efeknya berlawanan dengan THC. Zat ini memicu kegelisahan dan paranoia. Laman Drugabuse.gov menyebut pemakaian ganja bisa menyebabkan masalah kejiwaan seperti halusinasi dan paranoia temporer. Penyalagunaan ganja juga dikaitkan dengan depresi, kegelisahan, dan keinginan bunuh diri. Dalam jangka panjang, ganja juga berpengaruh pada perkembangan otak. Di sejumlah negara penggunaan ganja untuk pengobatan sudah dilegalkan. Bahkan negara seperti Belanda melegalkan ganja untuk keperluan rekreatif.(rl)