Kemendag Pastikan Stok Bahan Pokok Aman

Stok Bahan Pokok
PEMANTAUAN HARGA: Staf Ahli Bidang Perdagangan Jasa, Kemendag RI, Lasminingsih, bersama Kadis Perdagangan NTB, Hj Selly Andayani memantau harga bahan pokok di Pasar Mandalika, Kamis kemarin (27/4). (LUKMAN HAKIM/RADAR LOMBOK)

MATARAM–Jelang bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri 2017/1438 Hijriah mendatang, jajaran Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengantisipasi melonjaknya permintaan barang pokok. Salah satunya adalah memastikan harga kebutuhan bahan pokok tetap stabil di Provinsi NTB.

Staf Ahli Bidang Perdagangan Jasa, Kemendag RI, Lasminingsih, Kamis kemarin (27/4), terlihat turun langsung ke sejumlah pasar tradisional, maupun ritel modern yang ada di Kota Mataram, dengan didampingi Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Hj Selly Andayani. “Harga bahan pokok di NTB relatif masih stabil dan stok di gudang penyimpanan distributor juga terlihat aman,” kata Lasminingsih, di sela memantau harga kebutuhan pokok di Pasar Mandalika.

Lasminingsih mengunjungi sejumlah pasar tradisional diantaranya Pasar Mandalika dan Pasar Dasan Agung. Selain turun memantau harga di pasar tradisional, Staf Ahli Menteri ini juga memantau harga bahan pokok di sejumlah ritel modern, seperti Indomart, Giant dan Alfamart.

Menurut Lasminingsih, jaminan ketersediaan stok di gudang penyimpanan dan stabilisasi harga di pasar tradisional dan ritel modern sebagai salah satu upaya untuk mengantisipasi sedini mungkin terjadinya lonjakan permintaan yang bisa memicu kenaikan harga.

Pemerintah ingin memastikan stok bahan pokok (bapok) secara nasional aman dan harga stabil. “Dari hasil pantauan di Pasar Mandalika dan Pasar Dasan Agung, menunjukkan harga barang kebutuhan pokok dan stok barang di NTB  stabil, ” ujar Lasminingsih.

Hasil pantauan menunjukkan harga barang kebutuhan pokok di kota Mataram per 27 April 2017, relatif terkendali. Harga beras sebesar Rp8.500/kg, gula pasir Rp 12.667/kg, minyak goreng curah Rp 12.667/liter, daging sapi Rp 116.667/kg dan tepung terigu Rp 9.000/kg.

Menghadapi bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri tahun 2017, Kemendag menurunkan tim pemantauan harga dan pasokan barang kebutuhan pokok ke sejumlah daerah di Indonesia. Para Direktur Jenderal dan jajaran Eselon 1 lainnya turun langsung blusukan ke pasar-pasar di kota besar maupun di pelosok daerah.

Usai memantau harga kebutuhan pokok di pasar tradisional dan ritel modern, Lasminingsih kemudian menggelar pertemuan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) NTB untuk identifikasi barang kebutuhan pokok menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) di Hotel Grand Madani, Mataram.

“Pemerintah daerah diharapkan memantau dan melaporkan perkembangan harga harian secara intensif mulai H-7 Puasa sampai dengan H+1 Lebaran. Bila terjadi kenaikan harga yang di luar kewajaran, pemda harus siap mengambil langkah-langkah koordinatif untuk menstabilkannya,” tegas Lasminingsih.

Dalam paparannya, Lasminingsih juga menjelaskan bahwa pengaturan terkait distribusi barang kini telah diatur dalam Permendag No 20/M-DAG/PER/3/2017 tentang Pendaftaran Pelaku Usaha Distribusi Barang Kebutuhan 
Pokok.

Permendag tersebut mengatur agar setiap pelaku usaha distribusi, baik distributor, sub-distributor, dan agen yang memperdagangkan barang kebutuhan pokok wajib memiliki Tanda Daftar Pelaku Usaha Distribusi Barang Kebutuhan Pokok.

Selain itu, mereka yang telah terdaftar wajib menyampaikan laporan pengadaan dan penyaluran barang kebutuhan pokok dan/atau barang penting yang diperdagangkan ke Dirjen PDN melalui SIPT paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya. Bagi mereka yang melanggar ketentuan ini akan mendapatkan sanksi berupa pencabutan izin usaha oleh pejabat penerbit, sedangkan apabila tidak menyampaikan laporan, akan dilakukan pembekuan Tanda Daftar Perusahaan.

Dalam upaya menjaga stabilitas harga 3 bahan pokok yaitu daging, gula, dan minyak goreng, Kemendag telah memfasilitasi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dengan distributor gula, minyak goreng, dan daging beku.

Hal itu adalah untuk menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk komoditas gula sebesar Rp12.500/kg, minyak goreng kemasan sederhana Rp11.000/liter, dan daging beku dengan harga maksimal Rp 80.000/kg. Penetapan ini berlaku mulai 10 April 2017 sampai dengan September 2017.

Lasminingsih menjelaskan bahwa ritel modern berperan penting dalam membantu pengendalian harga barang kebutuhan pokok di masyarakat.
Usai kunjungan di ritel modern, Lasminingsih juga mengunjungi gudang BULOG Divre NTB. Dari hasil pantauan tersebut diketahui ketersediaan beras mencukupi untuk 8 bulan ke depan, dengan jumlah stok sebanyak 2.200 ton.

Sementara Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi NTB, Dr. H. Rosiadi Sayuti mengatakan, Pemprov NTB melalui SKPD teknis terkait bersama TPID NTB dan pihak terkait lainnya akan terus mengawal dan mengawasi untuk ketersediaan stok kebutuhan pokok termasuk juga harga di tingkat kosnumen. Selain itu juga memastikan arus distribusi kebutuhan pokok hingga sampai di pasar tradisional dan konsumen.

“Kami tentunya akan terus mengawal masalah ketersediaan dan harga yang stabil selama Puasa Ramadhan dan juga lebaran Idul Fitri. Harga bapok sah-sah saja, naik tapi jangan sampai berlebihan kenaikannya,” ujar Rosiadi. (luk)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid