Kematian Kerbau Warga Disebabkan Penyakit Pneumonia

DIAMBIL: Petugas saat mengambil daging kerbau yang sudah disembelih sebagai sempel untuk kemudian diuji laboratorium, Senin (13/9) lalu. (M HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

PRAYA – Teka teki penyebab matinya kerbau warga Desa Kuta Kecamatan Pujut secara misterius beberapa waktu lalu akhirnya terjawab. Penyebab ini terkuak Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Lombok Tengah bersama Balai Besar Veteriner Denpasar turun meneliti organ tubuh kerbau milik warga.

Sampel laboraturium menunjukkan, matinya kerbau ini disebabkan penyakit pneumonia yang mengarah pada penyakit septicaemia epizootica (SE). Penyakit ini cenderung disebabkan infeksi bakteri, virus, dan jamur. Untuk mengantisipasi penyebaran penyakit tersebut, Distanak akan melakukan vaksinasi ternak kerbau warga.

Kasi Kesehatan Hewan Distanak Lombok Tengah, Firman Hidayatullah menerangkan, penyebab matinya kerbau warga ini sudah diketahui dan murni disebabkan penyakit hewan. Pihaknya sudah mengantisipasi agar penyakit tersebut tidak menular ke hewan lain. “Hasil laboratorium sudah keluar dan penyebab kematian murni karena penyakit hewan dengan jenis penyakit pneumonia atau gangguan pernapasan dan mengarah pada penyakit septicaemia epizootica. Ini penyakit lama dan tercatat sebagai jenis penyakit menular,” terang Firman Hidayatullah kepada Radar Lombok, Selasa (28/9).

Baca Juga :  Turun Mendaki, Sodok Dijebloskan ke Penjara

Untuk mengantisipasi agar penyakit tersebut tidak menular ke kerbau atau hewan lainnya, Distanak dalam waktu dekat akan melakukan vaksinasi. Pihaknya sedang mengusulkan vaksin ke pemerintah pusat yang rencana vaksin ini menyasar kerbau-kerbau warga di dua desa di Kecamatan Pujut. “Di Desa Kuta sama Desa Tumpak kita akan lakukan vaksinasinya. Jadi dua desa dulu untuk mengisolir supaya tidak meluas atau agar penyakit ini tidak keluar. Karena m populasi kerbau di dua desa ini mencapai 850 ekor, makanya dua desa ini yang kita utamakan dulu. Baru ke desa lainnya,” tambahnya.

Firman juga menjelaskan, penyakit pneumonia ini bisa menular ke jenis hewan lainnya seperti sapi. Tapi yang paling rentan dijangkit adalah kerbau karena dari kejadian ini dilihat kerbau warga kurus. Ditambah warga mengembalakan kerbau mereka pada kondisi pakan sudah mulai musim kering. “Karena kondisi badan menurun membuat penyakit pneumonia muncul. Tahun-tahun sebelumnya memang ada penyakit pneumonia tapi tidak separah tahun ini. Parahnya tahun ini karena tidak ada kerja sama dengan pihak peternak. Padahal sudah kita sarankan agar dipisahkan tapi malah digembalakan sama-sama, sehingga kerbau yang satu dengan yang lainnya melakukan kontak langsung,” tegasnya.

Baca Juga :  Pemkab Kaji Permohonan Keringanan Pajak ITDC

Disampaikan juga, jumlah kerbau warga tinggal 13 ekor dari 86 ekor. Jumlah ini khusus bagi kerbau di Desa Kuta. Artinya, 75 ekor sudah mati. Terdiri dari 3 ekor mati bangkang atau mati mendadak. Sedangkan sisanya masih bisa dikonsumsi atau disembelih. “Beberapa waktu lalu kita sudah melakukan bedah untuk mengambil organ yang akan diperiksa lebih lanjut untuk mengetahui apa sebenarnya penyakitnya,” pungkasnya. (met)