Kematian Itu di Depan Mata Saya

DIDATA: TKI korban kapal tenggelam yang selamat didata identitasnya oleh petugas kepolisian Polda Kepri. Data Kepolisian Daerah (Polda) Kepri, ada 18 jasad yang ditemukan. Sementara korban yang selamat sebanyak 41 orang. Total yang belum ditemukan sebanyak 42 orang.

Insiden tenggelamnya kapal yang mengangkut Tenaga Kerja Indonesia (TKI) illegal dari Malaysia  terjadi diperairan Teluk Mata Ikan, Nongsa, Batam, Rabu (2/11) sekitar pukul 06.00 WIB. Saat itu, kapal cepat tersebut mengangkut 101 penumpang dari Malaysia. Berikut penuturan korban selamat.

Herman terdiam, sesekali tangan pria asal Padang, Sumatera Barat mengusap air matanya. Tatapannya tak henti melihat satu persatu mayat yang diturunkan dari mobil ambulan.

''Satu anak kecil sempat ku gengam tangannya.  Tapi ku nggak tahu lagi kemana, terlepas, karena ombak besar," kenang Herman kepada Batam Pos (Jawa Pos Group) kemarin.

Pria 32 tahun ini  satu penumpang yang selamat. Dia bersama tiga korban lainnya yakni Imam Fadoli,39, asal Jawa Timur, Amaq Asan,49, asal Lombok juga Hendra,35, asal Medan dirawat di rumah sakit Bhayangkara Polda Kepulauan Riau.

Menurutnya, usai kapal boat itu terbalik penumpang terjatuh ke air. Sejuruh kemudian, para penumpangpun berusaha menyelamatkan diri di tengah luasnya lautan tersebut. Di tengah perjuangannya mencari bantuan, dia disuguhi tontonan yang memilukan, penumpang yang tidak bisa berenang dan kelelahan begitu sulit mencari nafas. ''Ku sempat menangis, melihat mereka mencari  nafas. Kematian itu di depan mata saya," tuturnya.

Dia beserta penumpang lain yang bisa berenang menyebar mencari bantuan dengan cara melepas baju dan sebisa mungkin mengibas di udara sembari berharap ada bantuan, usaha ini berhasil, nelayan yang sedang mencari ikan di perairan tersebut melihat mereka dan segera mendekat guna memberi bantuan.

"Nelayan-nelayan yang tolong kami, mereka baik  sekali, mereka punya hati, diberinya kami air dan bawa ke darat," ucapnya.

Sejatinya selain perahu nelayan, ada beberapa kapal dalam ukuran yang lumayan besar (di banding perahu nelayan) melintas tidak jauh dari para korban, namun bantuan tidak kunjung di dapatkan para korban. ''Orang (di kapal yang dimaksud, red) tak punya nurani. Ada empat biji (unit kapal, red) tadi, jaraknya sini (tempat dia duduk) sama ambulan itu," ujarnya. Jarak dalam perumpaan Herman tersebut, kira-kira  20 meter.

Dalam penuturannya, dia beserta penumpang lainnya naik di Pasir Gudang Johor Malaysia, dia tak tahu pasti waktunya, namun dipastikan dini hari. Diakuinya, kapal boat yang mereka tumpangi tidak bersandar. "Kita ke dalam, air seleher baru naik,"ungkapnya.

Setelah penumpang semua naik, kapal meninggalkan perairan Pasir Gudang menuju Batam. Hampir sampai di perairan Batam, kapal mereka sempat tersangkut karang. "Yang laki-laki semua turun dorong," katanya.

Usai kejadian tersangkut karang tersebut, perjalananpun dilanjutkan, beberapa waktu berlayar ombak mulai tidak bersahabat. "Padahal ombak tetap dilewati, mungkin takut kalau sudah pagi," ucapnya.

Dia menambahkan suasana yang awalnya tenang berubah mencekam, para penumpang demikian gusar, sahutan tangis terdengar dari para penumpang perempuan juga anak-anak. "Orang pada doa, nangis. Kapal penuh air, miring lalu telungkup," pungkasnya.

 "Kami tak sempat keluar. Semuanya ditumpahkan ke dalam laut," kata Sofianto, salah satu korban selamat lainnya. Sekuat tenaga Sofianto berenang bersama puluhan orang lainnya. Namun saat itu dia menyaksikan ada beberapa orang yang sudah meninggal. Tubuh mereka mengambang dan tak bergerak.

Setelah dua jam berenang, sekitar pukul 08.00 WIB ada tiga kapal nelayan yang menolong para korban selamat. Namun kapal nelayan tersebut tidak bisa mengangkut semua korban secara bersamaan karena kapasitasnya yang terbatas.

Korban selamat lainnya, Zuraida, 32, mengatakan korban meninggal umumnya karena tak bisa berenang. "Kebayankan wanita dan anak-anak," katanya.  Insiden ini membuat wanita asal Medan, Sumatera Utara, itu mengaku kapok bekerja di Malaysia. "Lebih baik hidup di kampung saja," katanya.

Sementara Bustami, 20 tahun mengisahkan kronologis perjalanan mereka dari Johor, Malaysia. Kata dia, dirinya berangkat ke Johor pada Selasa (1/11) sekitar pukul 10 malam waktu Malaysia.

''Saya dari Tiram," katanya.

Sesampainya di Johor, dia dan beberapa temannya sesama TKI ditampung di sebuah rumah penampungan. Di sana sudah ada beberapa TKI bermasalah lainnya. Sebagian di antara mereka sudah di sana sejak beberapa hari sebelumnya.

Mereka digabungkan menjadi satu. Totalnya ada 98 TKI, termasuk anak-anak. "Rata-rata paspor-ny mati. Ada juga yang hanya memegang visa kunjungan," katanya.

Inilah yang menjadi alasan Bustami dan TKI lainnya memilih pulang melalui jalur tak resmi. Bustami mengaku membayar 450 ringgit Malaysia kepada tekong kapal bernama Niza, warga Indonesia asal Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Malam itu, kata Bustami, Niza meminta para TKI tersebut istirahat sambil menunggu kepastian jadwal keberangkatan ke Batam. Namun sekitar pukul 2.50 dini hari waktu Malaysia, mereka dibangunkan dan diminta segera naik ke kapal. Mereka akan segera berangkat ke Batam.

Namun Bustami kaget, karena kapal yang mereka tumpangi tenyata cukup kecil. Kapal berbahan fiber itu hanya berukuran panjang lima meter dan lebar dua meter. Sementara jumlah penumpangnya 101 orang, terdiri dari 98 TKI dan tiga kru kapal. Sehingga mereka harus berdesak-desakan di dalam kapal. "Kami rasa seperti ikan yang dipepes. Sebab selain berdesakan, kapalnya ditutup pakai terpal," kata Bustami.

Sekitar pukul 03.00 dini hari, kapal berangkat. Kapal dengan empat mesin itu melaju kencang. Para penumpang di dalamnya tidak bisa melihat keluar karena kapal tertutup terpal. Mereka yang membawa anak kecil hanya bisa mendekap buah hatinya masing-masing dengan penuh kecemasan.

Setelah beberapa saat berlayar, penumpang mulai gelisah karena air masuk ke dalam kapal. Hingga sekitar pukul 5.40 WIB, kapal tersangkut karang. Posisi kapal sudah masuk perairan Indonesia.

Saat itu, sebagian TKI pria diminta turun untuk membantu mengeluarkan kapal dari karang. Sekitar pukul 06.00 WIB kapal berhasil dikeluarkan dari karang dan kembali melanjutkan perjalanan ke Teluk Mata Ikan, Nongsa.  Namun baru beberapa menit berlayar, tiba-tiba kapal dihadang ombak besar. Seketika itu kapal oleng ke kiri dan berputar-putar sebanyak dua kali sebelum akhirnya tenggelam.

Sekitar pukul 08.00 WIB ada kapal nelayan yang melintas dan memberikan pertolongan. Namun sebagian korban sudah meninggal. (*)