Kemarau Lobar Diprediksi Hingga Akhir Oktober

Kemarau Diprediksi Hingga Akhir Oktober
KEMARAU : Seorang ibu di Dusun Kambeng Barat Desa Sekotong Timur menunggu iring-iringan mobil pembawa air bersih dari Polres Lobar sembari meletakkan beberapa galon air untuk diisikan belum lama ini. (ZULKIFLI/RADARLOMBOK)

GIRI MENANG-Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas I Lombok Barat (Lobar) memprediksi musim kemarau di Lobar akan terjadi hingga akhir Oktober 2017. Kemudian bertahap mengikuti sebagian daerah lainnya. “Jadi kita prediksi musim kemarau di sebagian daerah di Lobar dan Kota Mataram terjadi hingga akhir Oktober ini,” ungkap prakirawan BMKG Restu Patria Megantara, Rabu (13/9).

Selanjutnya untuk turun hujan diprediksi pada dasawarsa I Desember. Kemudian musim hujan diprediksi akan terjadi mulai pertengahan Desember. Suatu keadaan dikatakan sudah memasuki musim hujan itu apabila dalam satu bulan, satu meter persegi lahan minimal mendapatkan 150 liter air hujan.

Dijelaskan, musim kemarau tahun ini normal, tidak lebih cepat dan tidak lebih lambat. Hanya saja kalau ukuran di NTB, Lobar bersama Kota Mataram termasuk paling lambat mengalami kemarau pada Mei lalu. Di Lobar sendiri kekeringannya juga tidak separah daerah lain seperti Bima, Sambelia Lombok Timur dan lainnya, di mana pada daerah tersebut Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut lebih dari 100 hari. Sementara yang terparah di Lobar itu seperti di Kecamatan Sekotong, Lembar dan Lingsar, rata-rata hanya 60 HTH. “Jadi kemarau tahun ini normal. Hanya saja tidak kemarau basah, tetapi kemarau kering,” jelasnya.

Seperti diketahui, dampak kekeringan saat ini sudah mulai dirasakan oleh warga Lobar pada 11 desa, di antaranya Desa Giri Sasak, Desa Banyu Urip, Kuripan Selatan, Giri Tembesi, Labuan Tereng, Eyat Mayang, Jembatan Gantung, Cendi Manik, Batulayar Barat, Senggigi, Bukit Tinggi. BPBD pun menyalurkan bantuan air bersih bekerja sama dengan Dinas Sosial, Dinas Damkar, PDAM Giri Menang, Polres Lobar, serta BPBD NTB. Dikarenakan kemampuan BPBD sesuai Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) yaitu 90 kali pendistribusian untuk desa-desa yang dianggap tingkat kerawanan air bersihnya parah. Jumlah kemampuan tersebut jelas kurang, oleh karenanya BPBD meminta bantuan kepada pihak lain seperti PT Bank NTB.(zul)