Keluh Kesah Masyarakat Pesisir Yang Terisolir

Keluh Kesah Masyarakat Pesisir Yang Terisolir
JALAN RUSAK: Tampak salah satu mobil PDAM Lombok Timur saat hendak mengantarkan bantuan air bersih, mencoba menghindari jalanan yang rusak dan berlubang di Dusun Saung. (IRWAN/RADAR LOMBOK)

Warga Dusun Saung, Desa Wakan, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), bukan hanya mengalami kekurangan air bersih saja. Namun warga sekitar juga mengeluhkan akses jalan yang puluhan tahun belum tersentuh pembangunan oleh Pemda Lotim.


JANWARI IRWAN – LOTIM


KONDISI jalan di Dusun Saung memang sungguh sangat memprihatinkan. Jalan yang merupakan penghubung antar pedusunan di Desa Wakan ini sekarang hanya tingga bebatuan saja. Apalagi kalau musim hujan, jalanan akan menyerupai sungai kecil, sehingga sukar untuk dilalui para pejalan kaki maupun kendaraan.

“Bukan hanya kekurangan air yang kita rasakan, tetapi jalan disini hanya tinggal bebatuan yang ada. Kalau hujan tidak bisa dilewati,” kata Selamet, salah satu warga Dusun Saung, kepada Radar Lombok, Selasa kemarin (22/8).

Kondisi jalan yag buruk seperti ini sambungnya, sudah terjadi selama puluhan tahun, dan belum pernah sekalipun diperbaiki Pemkab lotim. “Dari saya masuk pada tahun 2002 disini, jalan ini sudah jelek seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, warga pesisir itu memang dilupakan,” keluhnya.

Hal senada juga disampaikan Inaq Oden, warga lainnya. Dimana saat turun hujan, banyak mobil yang bannya terselip karena licin. Selain itu, seringkali belasan pengendara roda dua juga terjatuh. Sehingga dia berharap pada pemerintah agar jalan tersebut segera diperbaiki, baik dengan cara hotmix (aspal) maupun betonisasi. “Minimal jalan bisa dilalui, walau saat hujan sekali pun. Soalnya kami sering terisolir,” keluhnya.

Selain jalan yang rusak, kebutuhan hidup sehari hari seperti air minum juga kekurangan. Kelangkaan air bersih ini juga dialami sejak puluhan tahun. Bahkan kelangkaan ini sudah menjadi warisan turun temurun. Kenapa demikian? Sejak dia menikah hingga mempunyai cucu, air bersih di dusunnya harus dia beli. Tidak seperti desa-desa lain yang berada jauh dari pesisir. “Dulu pemerintah pernah menjanjikan kita untuk memasangkan pipa, tapi hingga saat ini janji itu tidak bisa dilaksanakan,” tagihnya.

Meski demikian, dengan adanya pembagian air bersih yang dilakukan oleh pemerintah daerah, tentu juga membuatnya bahagia. Meski air yang dibagikan oleh pemerintah dia hanya mendapat jatah sebanyak 2 ember saja. “Yang namanya bantuan, kita pasti senang. Karena bisa mengurangi biaya keseharian,” ujarnya. (*)