Keluarga Zainal Minta Bantuan Hukum

Keluarga Zainal Minta Bantuan Hukum
BERTEMU: Puluhan warga Dusun Tunjang Desa Paokmotong Kecamatan Masbagik Lombok Timur meminta BKBH Unram mendampingi kasus kematian Zainal Abidin.(DERY HARJAN/RADAR LOMBOk)

MATARAM – Puluhan warga Dusun Tunjang Lauk Desa Paokmotong Kecamatan Masbagik Kabupaten Lombok Timur, berkunjung ke Sekretariat Biro Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKBH) Fakultas Hukum Universitas Mataram, Senin sore (16/9). Mereka adalah keluarga Zainal Abidin, terduga korban pengeroyokan oleh oknum anggota Satlantas Polres Lombok Timur hingga tewas. Mereka datang untuk meminta bantuan hukum agar oknum anggota polisi yang diduga menganiaya dan mengakibatkan Zainal Abidin meninggal dunia diusut tuntas.

Salah satu keluarga almarhum Zainal Abidin, Saprudin mengatakan, dirinya sangat prihatin terhadap kejadian yang menimpa keluarganya itu. Menurut dia, polisi yang seharusnya mengayomi masyarakat malah melakukan tindakan kekerasan. “Kami datang ke sini untuk menyerahkan surat kuasa pada BKBH untuk menjadi kuasa hukum dalam kasus ini. Kami ingin kasus ini dapat diusut tuntas dan pelaku dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku,’’ kata Saprudin.

Selain memberikan surat kuasa, Saprudin bersama warga yang ikut bersamanya juga menyerahkan tanda tangan dari 66 warga Dusun Tunjang Selatan, Desa Paokmotong Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur. Tanda tangan tersebut berisi dukungan dari warga disana untuk mengusut tuntas kasus ini. “Kami tidak ingin ada lagi Zainal yang lain. Cukup kali ini saja terjadi,’’ ungkapnya.

Kedatangan Saprudin dan warga dalam agenda meminta bantuan hukum disambut baik oleh BKBH Fakultas Hukum Unram. Pertemuan dilakukan di salah satu ruangan di lantai dua Fakultas Hukum Unram. Hadir pada kesempatan itu Tim BKBH Fakultas Hukum Unram yang diwakili Yan Mangandar dan Dekan Fakultas Hukum Unram, Hirsanuddin.

Yan Mangandar mengaku siap siap membantu agar kasus meninggalnya Zaenal bisa diproses secara hukum. ”Ini support yang luar biasa dari masyarakat kepada BKBH dan kami sangat berterima kasih. Setelah ini kami akan lebih gencar lagi untuk melakukan pendampingan, terutama berkordinasi dengan pihak Polda NTB terkait kasus tewasnya Zainal Abidin,’’ katanya usai pertemuan.

Kedatangan masyarakat tersebut menurutnya bentuk kecintaan masyarakat terhadap institusi Polri. “Masyarakat sebetulnya ingin mendorong pihak kepolisian dalam hal ini Polda NTB untuk tetap bekerja secara profesional,’’ tambahnya.

Sementara itu terkait perkembangan penanganan kasus tersebut, Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Purnama yang dikonfirmasi via whatshap mengatakan bahwa pihak masih memproses kasus tersebut. “Masih pembuatan BAP saksi-saksi karena berkas di splitzing (pisah-pisah). Kalau sudah semua baru dilaksanakan gelar perkara untuk menentukan tersangkanya,’’ jelasnya.

Diketahui, kronologi kejadian ini bermula ketika Zainal Abidin, 29 tahun, warga Dusun Tunjang Lauk Desa Paokmotong hendak menebus sepeda motornya yang ditilang, Kamis (5/9). Zainal datang ke kantor Satlantas Polres Lombok Timur bersama keponakannya, Ihsan Juni Saputra sekitar pukul 20.20 Wita. Zainal Abidin datang menggunakan sepeda motor Honda Vario warna putih. Ia datang dari arah melawan arus tanpa menggunakan helm. Ia kemudian masuk menerobos pintu gerbang kantor Satlantas Polres Lombok Timur.

Waktu itu, ada dua orang anggota satlantas yang sedang piket. Keduanya adalah Aipda I Wayan Merta Subagia dan Bripka Nuzul Huzaen. Mereka sedang piket menjaga barang bukti hasil razia OPS Patuh di lapangan apel Satlantas. Melihat gelagat Zaenal Abidin yang kurang bersahabat, Aiptu I Wayan Merta Subagia kemudian meminta Zainal Abidin turun dari kendaraannya dulu. Namun masih dengan nada keras Zainal Abidin tidak mau dan membentak anggota yang sedang piket itu.

Bripka Nuzul Huzaen kemudian menghampiri Zainal Abidin dengan tujuan menenangkan. Namun, secara tiba-tiba Zainal Abidin menyerang Bripka Nuzul Huzaen. Serangan itu dilayangkan secara bertubi-tubi sambil merangkul, sehingga keduanya terjatuh. Setelah itu, Bripka Nuzul Huzaen berusaha melepaskan diri namun telunjuk tangannya digigit sehingga mengalami robek.

Dengan adanya kejadian itu, Aipda I Wayan Merta Subagia berusaha melerai keduanya. Namun, Zainal Abidin malah berbalik menyerang keduanya. Sehingga kedua anggota Satlantas ini melakukan pembelaan diri. Selang beberapa saat datang Briptu Bagus Bayu memisahkan perkelahian tersebut disusul Aiptu Hery Suardana. Zainal memukul bertubi-tubi ke arah Bripka Nuzul Huzen dan keduanya bergelut di halaman kantor namun. Zainal Abidin berontak dan sempat untuk melarikan diri, namun mencoba ditahan anggota piket. Kembali Zainal Abidin melawan dan anggota melakukan pembelaan diri hingga mengakibatkan Zainal terjatuh.

Zainal juga menabrak pot bunga di lapangan apel satlantas hingga mampu dilumpuhkan. Akibat serangan Zainal Abidin, Bripka Nuzul Husen juga langsung dilarikan ke rumah sakit karena luka- luka yang cukup serius. Zainal Abidin kemudian diperiksa anggota penyidik Satreskrim Polres Lotim, namun saat pemeriksaan Zainal Abidin tiba-tiba tidak sadarkan diri. (der)