Keluarga TKI Korban Kapal Tenggelam di Perairan Malaysia Cemas

CEMAS : Keluarga salah satu TKI asal Dusun Anjani Timur 2 Desa Anjani Kecamatan Suralaga yang dikabarkan meninggal dunia tampak cemas karena masih menunggu kepastian nasib korban. (M GAZALI/RADAR LOMBOK)

SELONG – Keluarga korban kapal karam di perairan Tanjung Balau, Johor Bahru, Malaysia pada Rabu (15/12) mulai dihinggapi rasa cemas. Soalnya, mereka belum mendapatkan kabar resmi dari pemerintah hingga kemarin (19/12).

Informasi awal yang beredar dari sekitar 50 orang penumpang yang diangkut, 11 orang dinyatakan meninggal dunia. Lima di antaranya TKI asal Lombok Timur. Sedangkan sebagian lagi masih sedang dalam pencairan dan juga ditemukan selamat.

Dari lima orang TKI Lotim yang dikabarkan meninggal mereka adalah Gunawan, warga Dasan Rambanbela, Desa Lenek Rabanbiak, Kecamatan Aikmel, Yoan Eki Sudiatma, warga Kedondong Daya Kecamatan Pringgasela, Dedi Suryadi warga Anjani Timur Kecamatan Suralaga, Samsudin, Pemasah,  dan Alwi, warga Dusun Mampe Kecamatan Jerowaru. Para keluarga TKI yang meninggal ini pun saat ini  sedang dalam kondisi cemas. Meski telah mengetahui kejadian tersebut, namun sejauh ini mereka belum mendapatkan informasi resmi dari pemerintah terkait nasip para TKI  yang meninggal dunia ini. “Saya dikasih tahu sama Pak Kadus setelah diinformasikan oleh Pak Kades. Anak saya ini hanya ditemukan KTP dan kartu vaksinnya,” tutur Amaq Rohmi, ayah Dedi Suryadi TKI asal Dusun Anjani Timur 2 Desa Anjani Kecamatan Suralaga yang dikabarkan meninggal dunia.

Dari lima TKI Lotim yang meninggal itu  salah satu adalah anaknya sendiri. Yang bersangkutan  termasuk istri korban langsung syok setelah mendengar kabar tragedi kapal karam yang mengangkut puluhan TKI gelap itu. “Kalau informasi resmi dari  pemerintah sampai sekarang ini belum kita dapatkan,” terangnya.

Karenanya, ia berharap kepada pihak terkait terutama pemerintah untuk segera turun tangan mencari tahu data pasti para para korban. Entah yang meninggal dunia maupun yang selamat dalam kejadian ini. Jika anaknya itu memang benar meninggal dunia, diminta supaya jenazahnya segera dibawa pulang. “Kalau pun meninggal atau masih hidup, tolong bawa pulang,” harap dia.

Anaknya ini, lanjut dia, berangkat dari rumah ke pada Senin (13/12) lalu. Dia mengetahui jika anaknya itu pergi ke Malaysia menjadi TKI ilegal. Bahkan korban ketika itu juga sempat ingin mengajak adiknya, namun dilarang. “Saya tidak kasih bawa adiknya karena tidak pernah pergi sama sekali   . Termasuk korban juga saya larang soalnya kan Malaysia belum buka. Namun dikasih tahu saya akan  masuk lewat Batam. Sekalian di sana akan cari tekong,” ujar Amaq Rohmi.

Korban sendiri memang sudah berulang kali keluar masuk ke Malaysia, termasuk melalui jalur tidak resmi. Sejak berangkat, korban memang tidak pernah berkomunikasi lagi dengan pihak keluarga di rumah. Bahkan pihak keluarga juga termasuk dia sendiri sama sekali tidak pernah punya firasat apapun jika anaknya akan mengalami kejadian seperti ini. “Di mana pun memang kita akan mati. Tapi yang saya minta nasib anaknya saya harus ada kejelasannya,” tandas Amaq Rohmi.

BACA JUGA :  Dewan Sesalkan Pelatih Tak Dapat Bonus

Hal sama juga disampaikan Inaq Nasruh Hadi, ibu dari Hernawandi, warga Dusun Anjani Timur 2 Desa Anjani, TKI yang dikabarkan selamat dalam kejadian tersebut. Kejadian tersebut diketahuinya juga setelah dikasih tahu oleh pemerintah desa setempat. Di mana yang bersangkutan diperlihatkan foto anaknya bersama dengan sejumlah TKI lainnya duduk di pinggir pantai yang selamat dalam kejadian tersebut. “Kalau dilihat dari baju yang digunakan, itu anak saya. Tapi sampai sekarang saya juga belum mendapatkan informasi dari pemerintah seperti apa kabar anak saya. Apapun kondisinya saya minta supaya secepatnya dipulangkan,” pintanya.

Terpisah, Kades Anjani Muhammad Said  membenarkan jika dua warganya menjadi korban tenggelamnya kapal speadboat di Malaysia tersebut. Dijelaskan, kejadian ini diketahuinya dari media sosial. “Meski ada foto dan rilis yang beredar di media sosial ini, tapi kita juga belum menerima rilis yang resmi dari pemerintah terutama KBRI Malaysia,” ungkapnya.

Terhadap dua korbannya yang menjadi korban kapal tenggelam ini, terang dia, memang mereka berangkat melalui jalur ilegal. Bahkan ketika itu pernah datang ke kantor desa untuk meminta surat persetujuan dari keluarga untuk pergi ke Malaysia. Namun karena diketahui, jika pengiriman TKI ke Malaysia ini belum diperbolehkan, pemerintah desa pun akhirnya menolak permohonan tersebut. Hingga kemudian mereka pun pergi secara diam- diam. “Jadi kita sudah berulang kali memberikan sosialiasi dan mengingatkan ke masyarakat kita supaya jangan pergi secara ilegal. Apalagi kita tahu pengiriman TKI ke Malaysia ini masih dilarang,” terang Said.

Selain itu, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Disnakertran Lotim untuk memastikan data 5 orang TKI dari Lotim yang meninggal dunia tersebut. Pihak Disnakertran juga katanya masih menunggu informasi resmi dari KBRI Malaysia.  Karenanya Said berharap, agar dua warganya yang menjadi korban supaya segara disampaikan kondisinya. Kalaupun memang ada yang meninggal maupun selamat sebaiknya segera dipulangkan ke kampung halamannya. “Kalau pun ditemukan masih hidup atau meninggal saya selaku pemerintah desa berharap warga saya ini segera dipulangkan,” tandasnya.

Harapan yang sama juga disampaikan Ali Mulachela, orang tua Syech Mulachela dari Kampung Bineka Desa Kopang Rembige Kecamatan Kopang. “Kita berharap jenazah dapat dipulangkan secapatnya,” ucap Ali.

Ali menuturkan, awalnya keluarga tidak percaya jika anaknya menjadi salah satu korban dalam musibah nahas kapal karam itu. Pasalnya, almarhum ketika pamitan dari rumah tidak memberitahu jika berangkat ke Malaysia tapi berangkat kerja dengan tujuan Bangka Belitung Provinsi Sumatra Selatan.

Sesampai di Bangka Belitung, anaknya menghubungi keluarga sembari memberi kabar jika sudah mendapatkan tempat kerja yang nyaman. “Dan Insya Allah katanya akan bertahan di sana, apalagi di tempat dia bekerja dekat dengan masjid dan pasar. Pokoknya dia merasa senang sudah di sana,” kenang Ali.

Mendengar cerita bahagia dari anaknya, Ali sebagai orang tua ikut merasakan kebagian anaknya. Namun rasa bahagia itu tidak berlangsung lama karena dua hari setelah mendapatkan kabar itu, Ali bersama keluarga mendapatkan kabar buruk yang menimpa anaknya yang ikut menjadi korban atas kejadian kapal karam yang menimpa puluhan TKI. “Awalnya kita tidak percaya kalau berita yang kita tonton di layar TV, kalau ada anak saya ada di dalam kejadian itu. Karena memang dia tidak pernah cerita kalau pergi ke Malaysia, yang kita tahu kalau dia ada di Bangka Belitung,” ulasnya.

BACA JUGA :  PPKM di Lombok Barat dan KSB Turun ke Level 1

Ali berharap atas kejadian yang meminpa anaknya dapat diungkap oleh pemerintah. Mengenai siapa pelaku atau calo yang memberangkatkan anaknya. Karena informasi yang diserap jika ada teman dari anaknya yang mengajak sehingga anaknya yang sudah bekerja ikut berangkat ke Malaysia. “Siapa yang merasa yang berbuat atas kejadian ini harus dihukum seberat-beratnya. Entah namanya calo atau siapapun harus dihukum seberat-beratnya,” harapnya.

Sedana juga disampaikan Kepala Dusun Kopang, Lalu Junaidi Abdillah, praktik percaloan keberangkatan ke luar negeri harus ditindak tegas. Sehingga tidak ada korban selanjutnya seperti apa yang menimpa warganya. “Jadi harapan kita untuk selanjutnya mengenai keberangkatan keluar negeri harus ada pemberitahuan dari pemerintah setempat dan mengikuti alur dan prosedur yang ditetapkan pemerintah serta harapan kami calo-calo keberangkatan illegal tindak tegas,” timpalnya.

Kepala Disnakertrans Provinsi NTB, I Gede Putu Ariyadi menyampaikan perkembangan informasi atas kejadian yang menimpa TKI asal NTB hingga kemarin belum ada perubahan dari informasi sebelumnya. Terlebih untuk jumlah korban masih tetap sama. “Belum ada info tambahan dari KJRI, masih seperti yang kemarin untuk jumlah korban yang ditemukan,” katanya.

Untuk korban yang meninggal dua yang ditemukan masih dua orang berasal dari Lombok Tengah. Meski identitas yang ditemukan juga ada 6 orang dari Lombok Timur tapi orangnya belum ditemukan. Karena ada belasan penumpang yang masih dalam proses pencarian. “Sehingga kita nggak bisa hanya mengira-ngira jumlah warga NTB di situ. Tunggulah hasil akhir dari proses evakuasi petugas di sana. Kita tidak boleh membuat informasi seperti ini hanya bersifat asumsi,” katanya.

Terkait dengan proses pemulangan dua jenazah yang sudah ditemukan yang berasal dari Lombok Tengah, pihaknya telah meminta agar segera dilengkapi dokumen yanga diperlukan. “Saya sudah minta Kadis Naker Loteng menemui keluarga korban dan kades setempat untuk melengkapi dokumen yang diperlukan KJRI untuk pemulangan jenazah yang sudah teridentifikasi,” katanya.

Untuk langkah penanganan selanjutnya, tentu setelah proses indentifikasi dan evakuasi selesai dan proses  penindakan yang terukur akan dilakukan berkoordinasi dengan instansi yang terkait. “Kami berharap, musibah pilu  mestinya menyadarkan kita semua, agar jangan lagi ada yang berangkat secara nonprosedural,” tutupnya.  (lie/sal)