Kejati Sorot Proyek Mubazir

Tomo Sitepu (DERY HARJAN/RADAR LOMBOK)

MATARAM–Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTB menyoroti  sejumlah proyek fisik yang pengerjaannya sudah selesai tetapi kondisinya  terbengkalai di sejumlah daerah di NTB.

“Itu sudah selesai dikerjakan dan diserahkan ke daerah untuk dikelola. Nah oleh daerah seharusnya diserahkan ke pengelola untuk difungsikan tetapi tidak,” ungkap Kepala Kejati NTB Tomo Sitepu, Sabtu (28/8).

Nah, akibat tidak difungsikan tersebut kata Tomo, bangunan tersebut terkesan mubazir. Padahal negara sudah mengeluarkan dana cukup besar dengan tujuan membantu masyarakat. “Itu mubazir jadinya. Percuma kan dibangun. Seharusnya dimanfaatkan dan dirawat sebaik-baiknya,” ujarnya.

Terhadap adanya pembiaran ini, pihaknya turun untuk menelusuri permasalahan yang sebenarnya. Dalam upaya tersebut, tim dari bidang intelijen sedang turun lapangan. Selain mengecek kondisi proyek, rangkaian klarifikasi kepada para pihak terkait juga dilaksanakan.

BACA JUGA :  32 Ribu Pekerja di Mataram Dapat Bantuan Subsidi Upah

Terkait apakah ada indikasi korupsi, Tomo membantah hal tersebut. Sebab proyeknya bukan mangkrak tetapi itu bangunan jadi. “Tapi bangunannya sia-sia. Saat ini belum ada dasarnya menyia-nyiakan bangunan itu masuk kategori korupsi. Tim turun hanya untuk klarifikasi,” bebernya.

Adapun beberapa proyek tersebut di antaranya sarana penyulingan air laut di Gili Gede, Kabupaten Lombok Barat. Menurut informasi, proyek tersebut berasal dari anggaran Kementerian Kelautan dan Perikanan. Sarana dalam bentuk mesin tersebut dianggarkan Rp 4,6 miliar. Meskipun telah berdiri, kabarnya saat ini masyarakat belum juga dapat memanfaatkan air bersih dari hasil mesin penyulingan tersebut.

BACA JUGA :  Puncak Gerhana Bulan Total di NTB Pukul 19.18 Wita

Kemudian ada lagi proyek fisik berupa pabrik pengolahan rumput laut untuk bahan kosmetik di kawasan Science Technology and Industrial Park (STIP) Banyumulek, Kabupaten Lombok Barat. Proyek ini dikerjakan dengan anggaran Rp 1,17 miliar pada 2015.

Proyek lainnya itu, pembangunan gedung pengolahan benih jagung “Seed Processing and Corn Dryer” pada 2020. Audit BPK menemukan indikasi kekurangan volume pekerjaan pada proyek senilai Rp 30,4 miliar. Proyek di kawasan STIP Banyumulek ini dikerjakan PT DIU. (der)