Kedubes RI di Vietnam Siap Bantu Petani dan Pengusaha Lobster NTB

PELUANG EKSPOR: Kedutaan Besar Republik Indonesi untuk Vietnam siap membantu petani dan pengusaha lobster di NTB mencari peluang ekspor benih lobster ke Vietnam. (dok/)
PELUANG EKSPOR: Kedutaan Besar Republik Indonesi untuk Vietnam siap membantu petani dan pengusaha lobster di NTB mencari peluang ekspor benih lobster ke Vietnam. (dok/)

MATARAM –Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dikenal sebagai salah satu penghasil benih lobster berkualitas tinggi. Namun potensi itu belum digarap untuk dimaksimalkan. Justru benih lobster dijual secara illegal ke para pembeli terutama dari Vietnam.

Melihat potensi itu, Duta Besar Republik Indonesia untuk Vietnam, Ibnu Hadi siap membantu petani muaupun pengusaha benih lobster asal NTB untuk mencari mitra di Vietnam. Dengan demikian, benih lobster asal daerah ini tidak dijual secara illegal melalui penyelundupan. Apalagi sekarang Menteri Kelauatan dan Perikanan (KKP) telah menerbitkan peraturan yang membolehkan  dilakukan eksport tentang lobster.

Dikatakan Ibnu Hadi sejumlah perusahaan telah menawarkan hasil lobsternya, karena memang kenyataannya benih lobster itu dibeli  dari perusahaan yang umumnya melalui Singapura, tapi ada juga yang suplai langsung. ‘’Mohon maaf ya, itukan illegal dulu tuh, tapi sekarang praktek itu berlangsung tuh, saya sendiri gak tau kenapa bisa begitu,’’ katanya saat menjadi pembicara Webinar  Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) ‘’Kisah Sukses Vietnam Tangani Covid-19’’ yang dipandu oleh CEO RMOL Network, Teguh Santosa  Sabtu sore (20/6).

Di Vietnam sendiri, lobster di budidayakan di Provinsi Ha Giang dan Phu Yen di sekitar tengah-tengah Vietnam. ‘’Saya pernah ke sana,’’ ujar Dubes Ibnu Hadi. Hasilnya 75 sampai 80 persen diekspor ke China. Dengan adanya Covid-19 ini. Perlu diketahui lobster yang diternakkan butuh waktu 8-12 bulan untuk bisa dipijah itu berkurang. Sehingga pembelian bibit dari Indonesia melalui Singapura itu ikut berkurang. Apalagi di masa Pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, permintaan akan lobster tidak sebesar seperti sebelumnya.

Ibnu Hadi siap membantu para petani maupun pengusaha benih lobster di daerah ini guna mencari peluang ekspor ke Vietnam. ‘’Kami akan coba bantu, tolong dikasi daftar namanya atau perusahaannya. Nanti bisa langsung email atau lewat laman FB (facebook) kami, tolong dikomunikasikan di situ. Kami akan buat seminar virtual, judulnya mengenai Peluang Eksport Lobster di Vietnam,’’ ujarnya sembari mengungkapkan mungkin bisa ditunggu 2-3 minggu lagi kami akan sebarkan informasinya.

 Provinsi NTB memiliki banyak potensi kelautan dan perikanan salah satunya berupa lobster karang, bambu, pasir dan mutiara bernilai tinggi dan berorientasi ekspor. Data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTB tahun 2013 dan 2014 menyebutkan, potensi benih lobster di daerah ini mencapai 10 juta ekor. Di NTB, ada 10 ribu nelayan pencari benih lobster dan 500 pelaku budidaya. Sebelum dilarang ekspor, tahun 2013 NTB menghasilkan benih lobster hingga 10 juta ekor setahun. 25 persen berupa benih lobster mutiara yang harganya di pasaran per ekor Rp 30 ribu dan lobster pasir per ekornya Rp 5 ribu.

Potensi benih lobster di NTB tersebut disebabkan lokasi strategis dasar perairan yang cocok untuk kehidupan lobster berupa perairan yang bersih dan adanya batu cadas yang berlubang di sepanjang pantai selatan pulau Lombok dan pulau Sumbawa.  Namun potensi ini belum digarap maksimal. Padahal menurut Ketua Umum Asosiasi Nelayan Lobster Indonesia (ANLI) Rusdianto Samawa dalam siaran persnya belum lama ini menyebutkan sebelum Peraturan Menteri Nomor 56 Tahun 2016 tentang larangan ekspor benih lobster direvisi,penyelundupan lobster 5 tahun belakangan ini ternyata sangat besar.

Hampir tiap hari ada yang masuk ke Vietnam dari Indonesia, terutama dari Lombok. Nilai penyelundupan benih lobster selama ini bisa mencapai Rp 1 triliun lebih. ”Selama 5 tahun ini gak ada perkembangan di budidaya lobster, hanya ada pelarangan tangkapan. Kemudian, harga bibit lobster minimal Rp 60 ribu perekor, sampai Vietnam harga lobster dewasa bisa sampai Rp  1 juta per kilogram,” katanya.

Karena itu, Pemprov NTB bisa melakukan intervensi paket kebijakan untuk memaksimalkan partisipasi masyarakat melalui pemanfaatan, penangkap benih bening, dan pembudidayaan benih lobster.  Dia membandingkan dengan Vietnam yang bisa mengembangkan budidaya lobster yang berdaya saing tinggi walaupun dengan harga benih lobster yang tinggi dari Indonesia. Maka, Rusdianto mengimbau agar Pemprov NTB perlu melakukan penelitian untuk mendapatkan teknologi budidaya lobster yang berdaya saing tinggi.

”Kalau penghasilan Provinsi NTB dari sektor kelautan dan perikanan bisa pakai subsidi pendidikan, pengembangan industrialisasi, perkuat ekspor, bangun coldstorage, menambah APBD dan suplay anggaran untuk pembangunan galangan, kapal-kapal nelayan serta mempercepat pertumbuhan pasar-pasar baru tempat transaksi masyarakat. Tentu sangat luar biasa perkembangannya kedepan,” terangnya.(sal)