Kedubes Malaysia Kenalkan 20 Universitas Negeri di Malaysia

DR. Mior: Kuliah di Universitas Negeri Malaysia Tidak Mahal

Universitas Negeri di Malaysia
EDUCATION MALAYSIA: Menteri Penasihat (Pendidikan) Kedubes Malaysia di Jakarta, Profesor Madya DR. Mior Haris Bin Mior Harun, didampingi Setiausaha Pertama (Pendidikan) Kedubes Malaysia di Jakarta, Mohd Mubarak Bin Shamsuddin, ketika menggelar sosialisasi Education Malaysia, untuk mengenalkan 20 Universitas Negeri di Malaysia, Senin (19/11). (SIGIT SETYO/RADAR LOMBOK)

MATARAM—Menyambut program unggulan Gubernur/Wakil Gubernur NTB, DR Zulkieflimansyah dan Hj Sitti Rohmi Djalilah, terkait peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) NTB melalui pengiriman 1000 mahasiswa per tahun keluar negeri. Kedutaan Besar (Kedubes) Malaysia di Jakarta, melalui Menteri Penasihat (Pendidikan) Kedubes Malaysia di Jakarta, Profesor Madya DR. Mior Haris Bin Mior Harun, dan Setiausaha Pertama (Pendidikan) Kedubes Malaysia di Jakarta, Mohd Mubarak Bin Shamsuddin, menggelar sosialisasi Education Malaysia, untuk mengenalkan 20 Universitas Negeri di Malaysia, Senin (19/11).

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Astoria Mataram itu, diikuti oleh para Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMA/SMK di Kota Mataram. “Kesempatan pertemuan pertama ini kami sengaja mengajak para Guru BK, dan bukan Kepala Sekolah. Karena mereka yang lebih banyak bersentuhan dengan para siswa di sekolah (SMA/SMK) masing-masing. Harapannya, informasi terkait melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA/SMK ke universitas-universitas di Malaysia, khususnya 20 Universitas Negeri di Malaysia, bisa langsung sampai kepada para siswa,” kata Menteri Penasihat (Pendidikan) Kedubes Malaysia di Jakarta, Profesor Madya DR. Mior Haris Bin Mior Harun.

Universitas Negeri di Malaysia
GURU BK: Usai sosialisasi Education Malaysia, para Guru BK SMA/SMK di Kota Mataram foto bersama Menteri Penasihat (Pendidikan) Kedubes Malaysia di Jakarta, Profesor Madya DR. Mior Haris Bin Mior Harun, Senin (19/11). (SIGIT SETYO/RADAR LOMBOK)

Disampaikan DR. Mior, selama ini informasi perkuliahan di Malaysia lebih banyak dilakukan oleh universitas-universitas swasta Malaysia, melalui agen-agen pendidikan profesional (swasta), yang tentu saja akan berimbas terhadap mahalnya biaya pendidikan. Hasilnya, kesan yang tertangkap oleh para calon mahasiswa di Indonesia, melanjutkan kuliah di Malaysia itu sangat mahal.

“Kuliah di universitas-universitas swasta di Malaysia, biayanya memang mahal. Itu karena universitas swasta membiayai operasional perkuliahannya dengan bayaran yang dikeluarkan oleh para mahasiswanya. Tentu berbeda kalau kuliah di universitas-universitas negeri di Malaysia, yang mendapatkan subsidi dari Kerajaan (pemerintah), biaya kuliah bisa murah,” ujar DR. Mior.

“Sebagai gambaran, kuliah di universitas swasta di Malaysia biayanya bisa mencapai 30 ribu USD per semester, yang kalau di konversi ke uang rupiah mencapai Rp 435 juta (kurs 1 USD/Rp14.500). Sementara kalau kuliah di Universitas Negeri di Malaysia, biayanya hanya sekitar Rp 9 juta per semester, atau sekitar Rp 20 juta sampai Rp Rp 25 juta per tahun. Artinya, kuliah hingga S1 di Universitas Negeri di Malaysia hanya butuh biaya sekitar Rp 100 juta saja,” jelas DR. Mior.

Selain biaya perkuliahan yang terjangkau, universitas-universitas negeri di Malaysia juga memiliki kualitas yang sangat baik di dunia. Dimana dari 20 Universitas Negeri di Malaysia, berdasarkan QS Work Ranking University, satu universitas, yakni Universitas Malaya (UM) berada di ranking 87 dunia. Kemudian empat universitas negeri lainnya di kisaran ranking 100 sampai 200 dunia, dan sisanya (15 universitas negeri) berada di kisaran ranking 800-an dunia.

Saat ini, jumlah mahasiswa dari berbagai dunia yang kuliah di universitas-universitas Malaysia ada sebanyak 170 ribu mahasiswa, dimana 10 ribu diantaranya berasal dari Indonesia. “Melalui program-program sosialisasi seperti ini, kami berharap ada lebih banyak lagi mahasiswa asal Indonesia, khususnya dari NTB (Lombok) yang mau melanjutkan kuliah di Malaysia. Paling tidak target kami ada penambahan menjadi 15 ribu sampai 17 ribu mahasiswa. Apalagi jurusan yang tersedia di masing-masing universitas negeri di Malaysia juga banyak, hampir 500-an jurusan. Sehingga sangat lengkap, dan mahasiswa juga banyak pilihan. Dan terpenting, biaya hidup di Malaysia juga tidak berbeda jauh dengan di Indonesia (Jakarta), bahkan lebih murah, karena untuk bahan pokok seperti beras, penjualannya di subsidi oleh Kerajaan (pemerintah),” tutur DR. Mior.

Disampaikan, kerjasama pendidikan seperti ini juga telah dilakukan oleh Kedubes Malaysia di berbagai kota besar di Indonesia, seperti di Jakarta, Yogyakarta, dan lainnya. Kali ini di Lombok (NTB), agar SDM di Lombok meningkat, dan tidak lagi bekerja di sektor-sektor pekerjaan buruh saja. “Jujur, saya sangat tidak setuju pekerja Lombok (TKI) yang dikirim ke Malaysia hanya menempati pekerjaan menjadi buruh saja. SDM Lombok harus lebih berkualitas, sehingga bisa bersaing di ranah global,” harap DR. Mior.

“Kedepan, kami juga akan berbicara dengan pemerintah di NTB (Gubernur), untuk mendukung program pengiriman 1000 mahasiswa keluar negeri setiap tahun. Paling tidak ada aplikasi sekitar 100 mahasiswa asal NTB per tahun, yang dikirim untuk melanjutkan kuliah ke Malaysia. Selain juga calon-calon mahasiswa lainnya yang hendak melanjutkan kuliah di Malaysia secara mandiri,” harap DR. Mior.

Mengingat seluruh perkuliahan di universitas negeri di Malaysia menggunakan pengantar bahasa Inggris, maka DR. Mior juga berharap agar para calon mahasiswa meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris-nya. “Paling tidak untuk TOEFL (Test of English Foreign Language), atau test bahasa Inggris sebagai bahasa asingnya mencapai 550. Dan pihak universitas pasti juga akan membantu melalui kursus-kursus di internal kampus, sehingga para mahasiswa tidak hanya memiliki kemampuan berbahsa Inggris dalam bentuk percakapan saja, tetapi juga penulisannya,” ucap DR. Mior.

Apresiasi dan ucapan terima kasih juga disampaikan para Guru BK di Kota Mataram, kepada Kedubes Malaysia di Jakarta, yang telah memberikan sosialisasi dan informasi terkait perkuliahan di universitas-universitas negeri di Malaysia.

“Jujur saja, kami masih sangat minim dengan informasi universitas-universitas negeri di Malaysia. Adanya kegiatan ini, kami berharap tidak hanya sekali saja dilakukan, tetapi berkelanjutan, sehingga bisa diketahui oleh seluruh Guru BK di NTB, yang selanjutnya akan diteruskan informasinya kepada para siswa SMA/SMK di NTB yang hendak melanjutkan kuliah. Sehingga universitas-universitas negeri di Malaysia bisa menjadi pilihan untuk kuliah,” harap Christian Pakeseko, salah satu Guru BK.

“Sebenarnya sudah banyak siswa asal NTB yang melanjutkan kuliah keluar negeri, termasuk ke Malaysia, yang mungkin saja masih terbatas di universitas swasta tujuannya. Itu karena info soal universitas negeri di Malaysia masih sangat sedikit. Untuk itu kami berharap, kedepan info yang disajikan tidak hanya dalam bentuk online (website) saja, tetapi juga dalam bentuk brosur-brosur yang bisa dibagikan langsung kepada para siswa yang akan lulus SMA/SMK,” pinta Handoko, Guru BK SMAN 1 Mataram.

Menanggapi permintaan para Guru BK di Kota Mataram tersebut, DR. Mior berjanji akan secepatnya menindaklanjuti, dengan pertemuan-pertemuan berikutnya secara lebih efektif lagi. “Karena ini pertemuan pertama di NTB, tujuannya adalah untuk mencari masukan-masukan lebih dahulu. Sehingga kedepan bisa diterapkan strategi apa yang sangat tepat. Insya Allah, selambatnya awal tahun (Januari 2019), kita akan segera tindak lanjuti dengan pertemuan lagi,” janji DR. Mior. (gt)