Kedelai Mahal, Pedagang Tahu Tempe Ancam Mogok Jualan

KEDELAI NAIK : Agen pedagang tahu dan tempe di Pasar Kebon Roek yang mengeluhkan harga kedelai naik menyebabkan sepi pembeli. (DEVI HANDAYANI /RADAR LOMBOK )

MATARAM – Harga kedelai kian melambung tinggi mencapai Rp 1.030.000 per kwintal. Harga mahal kedelai tersebut membuat pedagang tahu dan tempe terancam berhenti berpoduksi. Pasalnya, harga kedelai selaku bahan baku tahu dan tempe tidak sebanding dengan harga jual kepada konsumen. Bahkan, sejumlah pedagang tahu dan tempe menganam mogok jualan, karena harga yang semakin mahal. 

“Tahu tiga biji Rp 1000 jadi lima biji Rp 2000, dalam satu bak ini kita dinaikin sama bos jadi Rp 50 ribu. Saya ambil dua bak jadi Rp 100 ribu,” ujar salah seorang pedagang tahu dan tempe di Pasar Kebon Roek, Ampenan Aen, Selasa (9/2).

Aen mengaku jika tidak menaikkan harga jual, maka modalnya tidak kembali. Kenaikan harga kedelai mulai Senin (1/2) lalu mencapai Rp 1.030.000 per kwintal (100 kg) ini membuat harga jual mau tidak mau semakin naik. Sebelumnya berkisaran Rp 700 ribu per kwintal, lambat laun menjadi semakin naik, bahkan kenaikanya mencapai Rp 310 ribu per kwintal.

“Ada 1 bulanan naiknya, kalau naik menjadi Rp 1.030.000  juta ini mulai Senin kemarin. Memangnya Rp 800 terus Rp 900, naik lagi Rp 980,” sebutnya.

Saat ini untuk penjualan tahu biasanya Rp 5000 mendapatkan 10 biji tahu. Namun kini hanya 8 biji, itu saja sudah menuai protes dari pembeli lantaran berkurang. Padahal, harga kedelai saat ini cukup tinggi.

“Memang sih kurangnya selisih sedikit saja, tapi namanya pembeli pasti ada saja yang bertanya,” katanya.

Senada dengan Aen, Hidayatul mengatakan harga tahu dan tempe yang naik membuat pembeli semakin sepi. Apalagi banyak para pembeli yang tidak mau tau jika harga naik, tetapi ingin diberikan harga murah. Seperti pada tempe biasanya Rp 3000 satu papan, tetapi sekarang Rp 3.500, naik Rp 500 dari sebelumnya.

“Susah pembelinya, malah mereka tidak mau tau kalau kita kasi tau. Misalnya dia nanyak tempe berapa harganya, kita bilang Rp 3500. Kalau kita kasi tau kedelai mahal mereka bilangnya tidak kita beli kedelai mau beli tempe,” tuturnya.

Karena harga semakin tinggi membuat pedagang terpaksa mengurangi pembelian tahu dan tempe kepada pengusaha tempat mengambil. Bahkan harga jual akan kembali dinaikan, karena tingginya harga kedelai yang mencapai Rp 1.030.000 per kwintal.

“Rencananya mau dinaikin lagi, tapi saya bilang kalau tambah naik saya berhenti ambil tahu tempe. Soalnya pemasarannya tidak sesuai dengan harga di bos sama harga jualnya. Makanya benar benar susah kita ini jualan,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Pasar Induk Mandalika H Ismail mengatakan, kedelai harganya masih Rp 12.000, sedangkan yang  mengambil di pengepul masih dikisaran Rp 10.000. Harga masih sama dari dua minggu yang lalu.

“Ada barangnya, karena Covid-19 ini juga biaya operasional itu yang bertambah dari Surabaya ke sini, makanya harganya naik. Kalau stok ada, untuk membuat tempe dengan harga yang sekarang ini kurang untung buat pedagang,” katanya. (dev)