Kecenderungan Pemilih di NTB Terus Menurun

MATARAM—Tingkat partisipasi pemilih di pilkada NTB menjadi perhatian serius KPU setempat. Ini  karena adanya tren penurunanan tingkat partisipasi pemilih dari pilkada NTB 2013, pemilu legislatif, pemilu presiden dan pilkada serentak 2015 lalu.

Ketua KPU NTB, Lalu Aksar Anshori mengatakan, selain pemilihan legislatif, kecenderungan tingkat partisipasi pemilih di NTB dalam pemilihan presiden  dan pilkada terus menurun. Pada Pileg 2014, tingkat partisipasi sebesar 77,32 persen, atau naik dibanding Pileg 2009 sebesar 74,99 persen.

Pilpres 2009 hanya 75,70 persen, ada tren penurunan pada 2014 sebesar 71,80 persen. Penurunan tingkat partisipasi juga terjadi pada pilkada NTB. Pada Pilkada 2010, tingkat partisipasi mencapai 78,31 persen, dan mengalami penurunan pada Pilkada 2015 sebesar 71,98 persen.

"Yang banyak mengalami penurunan di Mataram dan Loteng  pada pilkada 2015," paparnya, kepada Radar Lombok, Rabu kemarin (26/10).

Ia menilai, adanya tren penurunan lantaran adanya kecenderungan keengganan memilih para masyarakat terhadap para pemimpin. Itu terjadi baik untuk tingkat provinsi maupun nasional.  "Mungkin juga bosan karena terlalu banyak pemilihan. Bayangkan, dari 2009 ada Pilkades, Pemilu, Pilkada," ujarnya.

Kendati begitu, berbagai upaya dan strategi dilakukan KPU NTB dalam rangka mendorong adanya peningkatan partisipasi pemilih. Terutama partisipasi pemilih di kalangan pemilih pemula.

KPU pun sudah menggandeng sejumlah komunitas peduli pemilu yang berasal dari sejumlah kabupaten kota di Pulau Lombok. "Mereka kita sasar adalah pemilih pemula,” kata Komisioner KPU NTB Divisi Sosialisasi dan Teknis, Suhardi Soud.

Mereka tergabung dalam komunitas peduli pemilih tersebut, kata Suhardi, diberikan pendidikan dan pelatihan terkait kepemiluan atau kursus kepemiluan. Tujuan dari diselenggarakan kursus kepemiluan tersebut, yakni, memberikan pengetahuan dan pemahaman terkait sistem kepemiluan kepada para pemilih.

Tujuan lainnya, mendorong dan meningkatkan angka partisipasi pemilih terutama di kalangan pemilih pemula. Baik di pilkada, pemilu legislatif dan pemilu presiden. Di lain sisi, tujuannya juga memberikan pendidikan politik dan demokrasi mencerahkan dan mencerdaskan kepada generasi muda terkait sistem penyelenggaraan kepemiluan dan rekrutmen pejabat politis melalui demokrasi kepemiluan.

Langkah ini dianggap penting lantaran generasi muda adalah estafet penerus kepemimpinan kedepan. Baik di tingkat nasional maupun daerah. "Melalui kursus kepemiluan ini generasi muda kita berikan kesadaran dan pemahaman betapa penting proses demokrasi kepemiluan bagi dilangsungkan kehidupan kita berbangsa dan bernegara," ucapnya.

Ia menambahkan, bahwa  KPU NTB pun dalam pilkada NTB 2018 menargetkan tingkat partisipasi pemilih  mencapai 75 persen. "Kita targetkan 75 persen serta yang penting jangan di bawah 70 persen," pungkasnya. (yan)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid