Kecelakaan, TKI Asal Lombok Tengah Tewas di Malaysia

Kecelakaan, TKI Asal Lombok Tengah Tewas di Malaysia
JASAD: Keluarga Abdurrahman saat berada di rumah duka sebelum acara pemakaman dimulai. (M Haeruddin/Radar Lombok)

PRAYA – Salah seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) bernama Abdurrahman, 20 tahun, asal Dusun Kebon Tengak Desa Gemel Kecamatan Jonggat Lombok Tengah, tewas di Negeri Sembilan, Malaysia.

Jenazahnya tiba di rumah duka sekitar pukul 23.00 Wita, Rabu malam (18/10). Menurut keterangan Ramli, keluarga korban yang menyertainya pulang, kematian korban masih misterius dan tidak masuk akal. Awalnya, korban memang jatuh dari sepeda motor sekitar pukul 09.00 waktu setempat, Selasa lalu (17/10). Ketika jatuh, korban sempat menelepon Ramli.

Ramli pun lantas secepatnya mencari korban dan menemukannya tergelatak tidak jauh dari motornya. Waktu itu, kondisinya sudah sangat lemas hingga kemudian Ramli membawa pulang ke mes tempat penginapan mereka.

Waktu itu, Ramli dan teman lainnya tidak membawa korban rumah sakit, karena beberapa pertimbangan. Antaranya tidak ada luka yang di sekujur tubuh Abdurrahman. “Saya juga heran kok tidak ada luka sedikit pun di tubuhnya, padahal kalau jatuh pasti ada luka. Saya kira ada mahluk gaib yang menyebabkan dirinya kemudian meninggal. Karena kalau penyebabnya hanya karena jatuh, maka hal itu tidak masuk akal karena korban tidak luka,’’ tutur Ramli saat ditemui di rumah duka, Kamis kemarin (19/10).

Sementara ayah korban Muhaji tak bisa menyembunyikan kesedihannya akibat kematian anaknya itu. Ia menuturkan, korban awalnya berangkat untuk merantau melalui jalur resmi. Akan tetapi, karena tergiur dengan gaji besar, korban akhirnya memilih kabur dari tempat majikannya. Korban sebelumnya berada di Malaysia sekitar satu tahun. “Karena kabur jadi asuransi tidak diberikan, karena sudah dianggap ilegal. Tapi kami berharap ada bantuan dari pemerintah ataupun dinas terkait untuk bisa meringankan beban penderitaan yang dialami oleh anak kami,” pungkasnya.

Kepala Dusun Kebon Tengak Desa Gemel, Ahyar Rosidi mengaku, di kampungnya hampir 30 persen warga bekerja sebagai TKI. Tujuan yang paling banyak yakni ke Malaysia, kemudian Taiwan dan Singapura. “Warga kami di sini memang banyak yang jadi TKI. Karena memang himpitan ekonomi yang memaksa mereka untuk pergi merantau dengan harapan bisa merubah perekonomian keluarganya,” tuturnya.

Selain itu, karena banyaknya warga yang mengadu nasib menjadi pekerja di luar negeri. Sehingga kasus yang sama sudah seringkali terjadi. Setidaknya, sudah ada empat yang warga Desa Gemel meninggal dunia di Malaysia. “Tapi kalau di dusun ini baru Abdurahman saja. Ini menjadi pembelajaran kita bersama agar masyarakat juga saat pergi merantau agar menggunakan jalur resmi. Sehingga jika terjadi permasalahan bisa mendapat bantuan dari pemerintah,” imbuhnya.

Jenazah sendiri dimakamkan di pemakaman umum setempat pada setelah salat Duhur. (cr-met)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid