Kebijakan One Gate Payment Bali – Gili Lebih Efektif

PELABUHAN : Wisatawan mancanegara di Pelabuhan Bangsal menggunakan pastboat public dari Gli Trawangan. (DOK / RADAR LOMBOK)

MATARAM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB kini tengah mempertimbangkan skema One Gate Payment (pembayaran satu pintu) pada moda transportasi kapal cepat dari Bali menuju Gili Trawangan dan sebaliknya.

Pengamat Pariwisata NTB sekaligus Akademisi Politeknik Pariwisata Lombok Anas Pattaray menilai kebijakan one gate payment untuk menggantikan sementara one gate system atau sistem satu pintu kedatangan kapal cepat pengangkut wisatawan dari Bali menuju Gili merupakan opsi yang tepat dan efektif demi kemajuan pariwisata NTB.

“Kenapa tidak kita mengikuti contoh one gate payment di Sanur-Nusa Penida Bali, itu sangat bagus sekali dan menguntugnkan,” katanya kepada Radar Lombok, kemarin.

Dikatakan, kebijakan one gate payment juga sudah pernah diterapkan di Queensland Australia. Hal itu diyakini bisa meretas kemungkinan adanya pungli kepada masyarakat maupun wisatawan. Disamping sangat efektif dalam memacu pelaku pariwisata untuk meningkatkan pelayanan, kompetensi sumber daya dan lainnya.

“Jika one gate payment diterapkan di Gili mau tidak mau pelaku pariwisata akan meningkatkan pelayanan, kompetensi mereka, dan menghindari hal-hal yang selama ini dialami di Gili. Jika tidak maka berpengaruh pada kepuasan wisatawan,” jelasnya.

Tidak hanya itu, keuntungan lain dengan adanya kebijakan one gate payment adalah pengawasan dan pengamanan terhadap penumpang lebih terkontrol. Sebagai contoh penumpang yang sudah membayar tiket akan diberikan satu tanda sebagai syarat masuk kapal. Sehingga tatkala ditemukan kapasitas kapal melebihi aturan yang ada, maka pelaku akan mudah diberi hukuman oleh Syahbandar.

Baca Juga :  PHRI Tuding Pihak Ketiga Naikkan Harga Hotel Tinggi

“Penerapan one gate payment di Bali hampir tidak menuai kendala karena sudah terorganisir dengan baik, tidak mengalami pro kontra,” ujarnya.

Anas menyebut selama ini kebijakan one gate system terlalu banyak menuai kontoversi di kalangan wisatawan. Banyak wisatawan mengeluhkan kebijakan one gate system, karena dianggap terlalu ribet dan memperpanjang waktu perjalanan mereka. Mengingat waktu untuk sampai ke Gili harus melewati Bangsal baru kemudian ke Gili. Alhasil berdampak pada kepuasan dan kenyamanan tamu saat ingin berlibur ke Lombok.

“Wisatawan akan kapok datang ke Lombok kalau sitem seperti itu (one gate system). Sebelumnya sudah pernah saya usulkan untuk one gate payment ke pemangku kebijakan di sektor pariwisata,” bebernya.

Disisi lain, lanjut Anas, penerapan one gate payment harus diikuti oleh infrastruktur yang bagus. Karena kalau fasilitas infrastruktur belum siap, tentunya akan kurang berimbang antara regulasi dengan apa yang diinginkan oleh Pemerintah.

Anas juga mengingatkan agar penerapan one gate payment harus melewati proses kajian yang mendalam dan sosialisasi yang masif kepada masyarakat dan pelaku pariwisata yang mengalami langsung atas perubahan sistem baru ini.

Baca Juga :  Petani Tembakau Menolak Tanam Komoditi Lain

“Harus juga didukung dengan fasilitas infrastruktur yang memadai. Selama infrastruktur dibangun itu lah waktu yang tepat bagi pemerintah untuk memberikan sosialisasi,” pungkasnya.

Sementara Pemkab Lombok Utara tetap ngotot akan menerapkan one gate system dengan tujuan untuk meningkatkan perhatian terhadap aspek pelestarian lingkungan (konservasi), sekaligus untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Melalui kebijakan one gate sytem nantinya kapal cepat yang mengangkut wisatawan dari Bali akan langsung menuju Pelabuhan Bangsal, Lombok Utara. Dari Pelabuhan Bangsal, wisatawan lalu diangkut menggunakan angkutan kapal milik Koperasi Karya Bahari menuju Gili Tramena.

“Kebijakan satu pintu (one gate) menuju Gili Trawangan, Meno, dan Air (Tramena) Lombok Utara tidak akan diterapkan dalam waktu dekat ini, yang pasti, ini masih butuh kesiapan untuk standarisasi local transport,” Kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) NTB H Lalu Mohammad Paozal.

Sementara dengan aturan one gate payment, maka setiap unsur akan mendapatkan bagiannya. Seperti retribusi untuk pemda maupun Koperasi Karya Bahari. Wisatawan juga tidak dibingungkan dengan pembayaran.

”Nanti di tiket fast boat yang dibeli, itu harganya sudah mencakup retribusi dan lain-lain. Wisatawan cukup bayar satu kali saja,” tandasnya. (cr-rat)

Komentar Anda