Kawasan Gili Jadi Pilot Project New Normal Pariwisata NTB

TRAWANGAN
Suasana Gili Terawangan sebelum pandemi virus Corona mewabah.

MATARAM – Pemerintah Pusat mulai mematangkan kesiapan penerapan era baru sektor pariwisata pascapandemi virus Corona (Covid-19), yakni mempersiapkan destinasi wisata andalan segera bangkit dan kembali beroperasi. Salah satunya kawasan Tiga Gili (Trawangan, Meno, Air) di Kabupaten Lombok Utara dijadikan sebagai pilot projek penerapan New Normal.

Ketua Gili Hotel Association (GHA) Lalu Kusnawan mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata (Dispar) NTB dan Dispar Kabupaten Lombok Utara terkait percepatan proses penerapan pariwisata Ne Normal. Di mana pekan lalu pihaknya sudah ada pertemuan dengan Dispar NTB membahas percepatan untuk pemulihan pariwisata NTB.

“Gili Trawangan ditunjuk sebagai pilot project (percontohan) untuk era baru paririwisata (New Normal) ini,” kata Lalu Kusnawan, Selasa (19/5).

Dikatakannya, kesiapan mematangkan rencana tersebut dilakukan juga bersama Pemkab KLU dan stakeholder terkait. Di mana, setidaknya ada tiga fase harus dilewati untuk mempersiapan era baru pariwisata, yakni persiapan untuk mengatur akses masuk dan keluar dari kawasan Tiga Gili sendiri.

“Jadi kita bikinkan SOP yang detail, siapa yang boleh masuk dan tidak boleh masuk. Syarat-syaratnya apa saja,” jelasnya.

Nantinya, aturan itu berlaku untuk mengatur akses masuk tukang, karyawan, dan fendor lainnya. Seperti penyedia layanan ATM, peralatan dapur, dan lain-lain. Kemudian fase kedua, yakni proses pembersihan dan sterilisasi menjadi fokus utama. Mulai dari pembersihan sampah, fogging dan disinfektan. Sedangkan fase ketiga dipersiapkan SOP pembukaan Tiga Gili sebagai destinasi wisata dalam era baru pascapandemi Covid-19.

“Setelah Gili dibuka, yang jelas akan lebih higienis dan steril. Karena sudah diatur beberapa peraturan dan protokol,” imbuhnya.

Selain itu, juga dibutuhkan peran pemerintah, terutama untuk mengatur syarat masuk bagi wisatawan. Seperti persyaratan yang berupa surat-surat lengkap menerangkan bebas Covid-19 dari hasil swab dan lain-lain. Selain itu, peran aktif pemda setempat khususnya dalam mematangkan persiapan menyambut era baru pariwisata.

“Kita sih sudah siap, tapi tolong diberikan SOP yang jelas. Sekarang pemerintah siap tidak?. Karena ini tidak bisa kita kerja sendiri-sendiri,” tegasnya.

Jika seluruh perisapan tersebut berjalan dengan baik, maka pihaknya menargetkan kawasan Tiga Gili dapat kembali beroperasi paling cepat pertengahan Juni mendatang.

Terpisah, Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB, Ni Ketut Wolini mengatakan, pelaku usaha di NTB telah siap menyambut era baru pascapandemi Covid-19, termasuk untuk sektor pariwisata.

“Di PHRI, dari sekarang kita sudah siap-siap menyambut era baru setelah Covid-19. Tapi itu perlu sentuhan dari pemerintah kepada pengusaha,” katanya.

Sentuhan yang dimaksud adalah dukungan untuk promosi yang akan dilakukan. Untuk mendukung kegiatan promosi sendiri diperlukan beberapa hal, diantaranya persiapan produk-produk unggulan yang ada di NTB, serta menyusun target pasar.

“Kita jangan dulu konsepnya ke luar negeri. Karena yang di luar negeri situasinya sedang lebih parah dari Indonesia. Paling tidak kita di dalam negeri (domestik) dulu berpromosi,” ucapnya.

Ia melanjutkan, dengan begitu event-event MICE di tingkat nasional diharapkan dapat diselenggarakan di NTB, terutama untuk memperkenalkan bahwa NTB telah berhasil menerapkan protokol penanganan Covid-19.

“Misalnya tamu datang kita sambut dulu dengan cuci tangan, pakai masker, dan menerapkan pembatasan fisik itu pasti. Menu makanan dan cara menyiapkan juga, semua kita sterilisasi,” pungkasnya. (dev)

BACA JUGA :  Protokol Covid-19 Keluar Masuk Gili Dikeluhkan