Kasus PMK Tembus 75.799 Kasus, 151 Ekor Mati

PMK: Tampak petugas sedang mengecek kesehatan sapi yang diduga terjangkit PMK.(BUDI RATNASARI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Penyebaran wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang ternak berkaki genap, khususnya sapi di Pulau Lombok semakin bertambah.  Jumlah ternak sapi yang terjangkit PMK per 14 Juli 2022 mencapai 75.799 ekor.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB Muslih menyebut dari 950.511 ternak sapi di Pulau Lombok berpotensi terkena PMK. Sebanyak 75.799 ternak sudah terjangkit wabah PMK di Pulau Lombok. Di mana 14.516 ekor, diantaranya masih sakit dan 60.924 ekor sudah sembuh.

“Adapun ternak yang dipotong bersyarat sekitar 208 ekor dan ternak mati akibat penyakit PMK sebanyak 151 ekor,” sebut Muslih kepada Radar Lombok, Jumat (15/7).

Muslih menerangkan daerah yang paling banyak terjangkit kasus PMK adalah Kabupaten Lombok Tengah. Total kasus mencapai 24.129 ekor, ternak sakit 3.966 ekor, ternak sembuh 20.149 ekor, dan ternak yang dipotong bersyarat 12 ekor, ternak mati 2 ekor. Disusul Kabupaten Lombok Timur dengan kasus PMK sebanyak 22.253 ekor. Di mana ternak sakit 207, ternak sembuh 21.860 ekor. Kemudian ternak potong bersyarat ada 97 ekor dan ternak mati 89 ekor.

Baca Juga :  Dua Warga Kotaraja Lombok Timur Diduga Kena Tembak

Kabupaten Lombok Utara memilki kasus sebanyak 14.798 ekor, ternak sakit 6.107 ekor, ternak sembuh 8.617 ekor, ternak yang dipotong bersyarat  33 dan ternak mati 41 ekor. Selanjutnya Kabupaten Lombok Barat total kasus PMK sebanyak 13.998 ekor, ternak sakit 4.173 ekor, ternak sembuh 9.806 ekor, ternak yang dipotong bersyarat 6 ekor dan ternak mati ekor.

Kemudian kasus PMK di Kota Mataram sebanyak 621 ekor, ternak sakit 63 ekor, ternak sembuh 492 ekor dan ternak yang dipotong bersyarat  60 ekor serta ternak mati 6 ekor.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) NTB H Lalu Gita Ariadi meyakinkan meski terjadi peningkatan kasus PMK setiap harinya, namun diikuti juga dengan tingkat kesembuhan yang lebih tinggi. Hal tersebut terlihat dari tren angka ternak sakit yang semakin menurun, seiring dengan penanganan yang masif dan baik.

“Penanganan wabah PMK pada ternak yang merata terjadi di lima kabupaten/kota di Pulau Lombok, kini mulai dapat teratasi dan trennya turun,” ungkapnya.

Lalu Gita menjelaskan setelah dilakukan penanganan dengan pengobatan ternak sakit, isolasi ternak, desinfektan kandang, dan diberikan vaksin, maka tingkat kesembuhan ternak sapi yang terinveksi PMK semakin meningkat.

Baca Juga :  FKKD NTB Tolak Perpres 104

“Sehingga ternak sapi yang sakit semakin menurun, ini terjadi di semua Kabupaten,” jelasnya.

Lebih lanjut Gita, terbentuknya Satgas Penanagan Wabah PMK di 6 Kabupaten/ kota. Termasuk di Kabupaten Sumbawa menjadi kunci percepatan penanganan kasus PMK di Pulau Lombok, NTB

“Dalam waktu dekat, kepala BNPB berencana akan berkunjung ke NTB untuk meninjau perkembangan penanganan PMK,” tutupnya.

Pihaknya juga akan tetap mempertahankan pulau Sumbawa untuk tetap bebas PMK. Adapun langkah yang ditempuh seperti, menutup masuknya hewan rentan PMK ke Pulau Sumbawa, melakukan protokol biosecurity di pintu-pintu masuk pelabuhan Pulau Sumbawa serta mengusulkan vaksinasi di daerah tersebut.

“Langkah penanganan PMK, telah kami lakukan dengan membentuk Satgas dan Posko, memperketat dan mengawasi lalu lintas ternak, menyediakan dan menyiapkan logistik penunjang, seperti antibiotic, melakukan vaksinasi, menyiapkan SDM di lapangan seperti dokter hewan dan sosialiasi, serta edukasi kepada masyarakat,” tutupnya. (cr-rat)