Kasus Pengeroyokan Ketua BKD Diupayakan Berdamai

Kompol Nasrullah (M Haeruddin/Radar Lombok)

PRAYA – Kepolisian Polres Lombok Tengah memfasilitasi upaya perdamaian penyelesaian kasus tindak pidana pengeroyokan terhadap Ketua Forum Badan Keamanan Desa/Kelurahan (BKD/BKK) M Istakim Mawali yang dilakukan Ketua LSM Sasaka Nusantara, Lalu Ibnu Hajar dan satu rekannya.

Yang mana dalam kasus pengeroyokan ini sebelumnya Satreskrim Polres Lombok Tengah sudah menangkap dan melakukan penahanan terhadap Ketua LSM Sasaka Nusantara, Lalu Ibnu Hajar dan satu anggotanya akibat kasus pengeroyokan yang terjadi di salah satu rumah makan di Praya, Jumat (3/5) saat korban sedang menghadiri mediasi antara BPJS Ketenagakerjaan dengan LSM Sasaka Nusantara.

Wakapolres Lombok Tengah, Kompol Nasrullah menyatakan, mediasi masih terus diupayakan antara kedua belah pihak untuk dilakukan perdamaian. Namun yang menjadi catatan bahwa untuk perdamaian ini bukan atas nama lembaga (Sasaka Nusantara dengan BKD/BKK) tapi personal. “Mediasi untuk upaya perdamaian masih terus kita lakukan tapi bukan atas nama lembaga. Tadi kita upayakan mediasi tapi pihak korban tidak ada yang datang maka hasilnya nanti akan dilakukan pendekatan kembali,” ungkap Kompol Nasrullah, Senin (20/5).

Baca Juga :  Suhaili Bantah Perintahkan Peminjaman Alkes RSUD ke RSI Yatofa

Dijelaskan, pihak keluarga kedua tersangka akan mengajukan penangguhan penahanan. Namun pihaknya belum bisa memastikan apakah nantinya penangguhan penahanan ini akan dikabulkan atau tidak. Meski dari pantauan Radar Lombok juga tampak Bupati Lombok Tengah, H Lalu Pathul Bahri datang ke Polres untuk menjadi bagian dari mediator kedua belah pihak ini. “Yang mengajukan penangguhan ini adalah pihak keluarga tapi kita tidak tau siapa penjaminnya juga nantinya. Tapi yang jelas jika ada pengajuan penangguhan penahanan maka tentu nantinya kita akan lakukan gelar perkara sesuai prosedur yang ada. Kasus tersebut belum kita limpahkan ke kejaksaan karena masih dalam tahap pelengkapan berkas,” terangnya.

Baca Juga :  Sepekan Terombang-Ambing, Dua Nelayan NTT Selamat

Nasrullah menambahkan, di polres masih belum ada kata sepakat untuk berdamai maka bisa saja perdamaian atau jalur restorative justice (RJ) akan dilakukan di Kejakasaan Negeri (Kejari) Lombok Tengah. “Karena kesepakatan perdamaian ini bukan dari polres tapi personal- personal antara korban dengan pelaku. Kalau antara korban dengan pelaku misalkan sepakat untuk berdamai, maka tentu akan kita lakukan gelar perkara lagi,” jelasnya.

Seperti diketahui, Satreskrim Polres Lombok Tengah mengamankan sepuluh terduga pelaku. Berdasarkan proses penyelidikan, delapan orang dinyatakan tidak bersalah dan dua orang ditetapkan tersangka kemudian dilakukan penahanan. Para tersangka akan dijerat dengan pasal 170 ayat (2) ke-1 KUHP sub pasal 351 ayat (1) jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara. (met)

Komentar Anda