Kasus Penganiayaan Guru SD Naik ke Penyidikan

Pelaku Belum Ditetapkan Tersangka

penganiayaan guru
Guru honorer (korban) pemukulan walimurid kala dimintai keterangan oleh pihak kepolisian. (DOK)

SELONG—Kasus penganiayaan guru Sekolah Dasar (SD) 4 Rarang, Kecamatan Terara, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), yang dilakukan oleh salah seorang wali murid, terus didalami pihak Penyidik Satreskrim Polres Lotim. Kasus ini pun telah dinaikkan ke tahap penyidikan.

BACA : Orangtua Murid Pukul Guru Honorer di Lombok Timur

Sejak kasus ini mulai dibidik, pihak kepolisian setidaknya telah memeriksa  empat orang saksi. Termasuk guru yang menjadi korban. Bahkan pemeriksaan terhadap saksi juga masih terus berlanjut.

Sebelumnya, penyidik juga sempat mengagendakan pemeriksaan salah seorang guru untuk dimintai keterangan. Namun ditunda karena guru tersebut berhalangan untuk dimintai keterangannya.

“Kasus sudah naik ke tahap penyidikan. Pemeriksaan saksi masih kita lakukan dari pihak guru,” ungkap Kapolres Lotim melalui Kasatreskrim Polres Lotim, AKP Joko Tamtomo, Senin kemarin (12/2).

Meski penangan kasus ini statusnya telah dinaikkan ke tahap penyidikan. Namun untuk sementara pelaku penganiyaan guru itu statusnya belum ditetapkan sebagai tersangka.

Pihak kepolisian terlebih dahulu akan fokus untuk menggali barang bukti dan keterangan para saksi. Jika mereka sudah mengantongi bukti yang cukup, baru akan segera ditetapkan tersangkanya. “Selain itu, kita juga masih menunggu hasil visum,” lanjut Joko.

Yang jelas kata dia, kasus penganiayaan guru yang dilakukan wali murid ini akan menjadi atensi untuk segera diselesaikan. Selain wali murid, pihaknya juga akan mendalami dugaan keterlibatan salah seorang anak yang bersangkutan, karena kuat dugaan juga ikut menganiaya korban.

Kalau terbukti, maka anaknya juga berpeluang untuk dijadikan tersangka. “Memang dari keterangan para saksi. Dugaan penganiayaan guru itu dilakukan dua orang. Ini yang nantinya akan kita urai,” jelas dia.

Akibat perbutaanya itu, jika terbukti pelaku pun bisa diancam dengan pasal 170 KUHP, berkaitan dengan tindakan kekerasan terhadap seseorang dan barang di muka umum. Pelaku pun bisa diancam dengan kuruangan pidana maksimal tujuh tahun.

Sementara Ketua Dewan Pendidikan Lotim, Makhsus mengatakan, adanya kekerasan yang terjadi kepada guru honorer di SDN 4 Rarang, menandakan kalau masih ada kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan. Untuk itu, pihaknya meminta kepada aparat kepolisian agar segera menindak lanjuti laporan dari korban dan sekolah.

“Saya minta kepada aparat kepolisian untuk menahan wali murid dan anaknya yang menjadi pelaku pemukulan, sekaligus pelaku pengroyokan, serta perusakan fasilitas sekolah. Pelaku hendaknya diproses seadil-adilnya, sehingga dapat memberikan efek jera bagi para pelaku kekerasan di dunia pendidikan,” tegasnya.

Menurutnya, salah satu peran dunia pendidikan itu adalah mendidik, melatih, serta mengajarkan peserta didik agar jauh dari segala bentuk praktik-praktik kekerasan.

“Pendidikan itu semestinya dihiasi dengan hal yang mencerminkan kasih sayang, dan berbagai bentuk interaksi pembelajaran baik antar pendidik dengan pendidik, pendidik dengan wali murid, dan pendidik dan peserta didik. Bukannya malah terjadi kekerasan,” ujarnya.

Terkait kasus kekerasan yang terjadi di SDN 4 Rarang, pihaknya selaku Dewan Pendidikan melihat bahwa ada dua korban dalam peristiwa ini. Korban pertama adalah guru, dan korban kedua yakni peserta didik yang menyaksikan langsung kekeraan tersebut. ”Kekerasan terhadap guru ini sangat patut disayangkan, mengingat lingkungan pendidikan merupakan basis nilai-nilai moral dan kebaikan,” ulasnya.

Diketahui, kasus penganiyaan guru di SDN 4 Rarang ini terjadi pada 3 Februari 2018 lalu. Guru yang menjadi korban adalah Basirun Mustajab. Tindakan tidak  terpuji yang dilakukan wali murid ini karena dia tidak terima anaknya dinasehati oleh korban.

Aksi penganiayaan  itu dilihat oleh para guru dan siswa. Tidak hanya memukul korban, pelaku juga telah merusak sejumlah fasilitas yang ada di sekolah.

BACA : Diancam Orangtua Siswa, Guru Honorer Korban Pemukulan Takut Masuk Sekolah

Kasus penganiayaan berawal ketika anak pelaku tidak saling sapa dengan teman kelasnya. Sehinga korban pun mencoba untuk mendamaikan mereka. Ketika itu korban sempat menyampaikan, jika tidak saling memaafkan, maka salah satu dari siswa itu akan dipindah ke kelas yang lain.

Akhirnya siswa tersebut melapor kepada orang tuannya. Tak lama kemudian  pelaku datang ke sekolah dengan anaknya yang lain, dalam kondisi marah-marah. Tanpa basa basi, pelaku langsung melakukan pemukulan terhadap korban. Meski korban sempat mengindar, namun pelaku terus ngotot menyerang korban bersama dengan anaknya. Perilaku angkuh yang dilakukan oleh wali murid itu pun kemudian dilaporkan pihak sekolah ke Polsek setempat. (lie/cr-wan)