Kasus Pelecehan 10 Mahasiswi Ditangani Polisi

KETERANGAN PERS: Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol Artanto dan Kasubbid Renakta Ditreskrimum Polda NTB, AKBP Ni Made Pujawati, ketika memberikan keterangan, Senin (27/6). (ABDURRASYID EFENDI/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Kasus pelecehan seksual yang dialami oleh 10 orang mahasiswi dari perguruan tinggi yang ada di Kota Mataram, kini ditangani Kepolisian Daerah (Polda) Nusa Tenggara Barat (NTB).

Adanya laporan mengenai mahasiswi yang jadi korban pelecehan oleh oknum yang mengaku bisa menyelesaikan skripsi para mahasiswi tersebut, dilaporkan oleh Biro Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKPH) Fakultas Hukum Universitas Mataram (Unram), belum lama ini.

“Laporannya sudah kami terima, dan saat ini kami sedang menindaklanjutinya,” kata Kepala Subbidang Remaja, Anak dan Wanita (Renakta) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dit Reskrimum) Polda NTB, AKBP Ni Made Pujawati, Senin (27/6).

Baca Juga :  Dosen Gadungan Pelaku Pelecehan Seksual 10 Mahasiswi Masih Bebas

Lebih jauh dirinya belum dapat menjelaskankan secara rinci. Terpenting, laporan tersebut saat ini tengah ditangani.

Sementara Direktur BKPH Fakultas Hukum Unram, Joko Jumadi saat dikonfirmasi Radar Lombok beberapa waktu lalu mengatakan, pelecehan seksual yang menimpa 10 mahasiswi itu terjadi sejak periode Oktober hingga Maret 2022. Rata-rata korbannya adalah mahasiswi yang berasal dari daerah di NTB.

Terduga yang diberi inisial X tersebut, mengaku kepada korbannya mempunyai kenalan dengan seseorang yang memiliki posisi setrategis di salah satu kampus swasta. “Korban ini rata-rata sudah memasuki semestes akhir. Oknum terduga itu orang luar dari kampus, yang hanya mengaku sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta,” katanya.

Baca Juga :  Oknum Ngaku Dosen Setubuhi Lima dari Sepuluh Mahasiswi

Dari 10 orang korban yang melapor ke BKPH, bentuk pelecehan yang dilakukan terduga pelaku beragam. Bahkan lima korban diantaranya sudah disetubuhi. Modus yang digunakan terduga pelaku untuk memikat korban sendiri, sebut Joko, beragam. Mulai dari modus bisa membantu korban menyelesaikan tugas akhir (skripsi), bisa mengobati rasa sakit, sampai mengaku bisa membuang sial. “Terduga pelaku hanya satu orang, korbannya yang banyak,” sebutnya. (cr-sid)