Kasus Dugaan Penembakan di Kota Raja Berbuntut Panjang

illustrasi

MATARAM–Insiden dugaan penembakan di Kota Raja, Kabupaten Lombok Timur yang diduga dilakukan aparat kini berbuntut panjang.

Meski Kapolres Lombok Timur AKBP Herman Suriyono telah membantah bahwa tidak ada penembakan, tetapi warga bersikeras bahwa penembakan itu ada. Korbannya pun ada. Yaitu dua warga di Dusun Marang Selatan, Desa Kotaraja, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur yaitu Hasbi dan M Kadry Ramadan.

Yang mana Hasbi tekena tembakan peluru karet di bagian paha dan M Kadry Ramadan yang terkena tembakan peluru karet di bagian kepala. “Kalau Polres itu membantah berarti  menandakan Kapolres tidak punya iktikad baik untuk memproses tragedi kemanusiaan ini,” kata perwakilan Koalisi Bumi Gora Untuk Keadilan, Yan Mangandar, Sabtu (14/11).

Padahal lanjutnya, warga menyaksikan sendiri insiden tersebut. Ia juga mengaku memiliki video saat adanya penembakan. “Saya punya video pada saat anak sempoyongan itu ada suara tembakan,” ujarnya.

Pihaknya sebenarnya menyayangkan adanya penembakan. Meski itu tembakan peringatan. Apalagi jika itu tembakan yang sengaja mengarah ke warga.

Insiden tersebut terjadi pada Senin, 8 November 2021, sekitar pukul 22.30 WITA. Saat itu warga berkerumun untuk menyaksikan proses rekonsiliasi antara Haji Alawi dan TGH Muslihin di depan rumah TGH Muslihin di Dusun Marang Selatan. “Inisial HA diduga menghina salah satu prosesi keagamaan yaitu Maulid. Kenapa proses mediasi dilakukan malam hari dan lokasinya di tengah pemukiman padat penduduk. Anehnya lagi sudah tempatnya padat dihadirkan kepolisian dalam jumlahnya cukup memancing perhatian masyarakat sehingga tidak salah masyarakat berkumpul di situ karena penasaran apa yang terjadi,” jelasnya.

BACA JUGA :  Mabuk, Oknum Polisi Obral Tembakan

Jadi menurut Yan Mangandar warga saat itu hanya berkumpul untuk menyaksikan apa yang terjadi dan tidak ada tindakan anarkis dan sebagainya. “Mereka (warga)  bukan tujuan menghakimi, ribut-ribut atau anarkis tetapi anehnya polisi tiba-tiba mengeluarkan tembakan,” ucapnya.

Mestinya kata Yan Mangandar, Kapolres harus memerintahkan jajarannya mengusut tuntas kasus ini. Jika memang ditemukan ada  anggotanya bertindak tidak sesuai prosedur bisa kemudian diberikan sanksi. Bukan malah berupaya menutup kasus ini. “Kapolres ada upaya untuk menutup kasus ini dan saya sebagai perwakilan masyarakat keberatan atas hal ini,” ungkapnya.

Penasihat hukum korban, Habib Al Qutby  mengatakan bahwa pihaknya akan melaporkan kejadian ini ke Polda NTB. “Kami berharap Polda NTB nantinya bisa mengambil tindakan,”ujarnya.

Sebelumnya Kapolres Lombok Timur, AKBP Herman Suriyono membantah adanya penembakan oleh anggota. Dua orang yang terluka kata Herman bukan karena ditembak tetapi  terkena benda tumpul. Pada saat itu juga salah satu anggota polsek mengangkat korban yang jatuh dan membawanya ke puskesmas untuk dirawat. Sedangkan yang turun ke lokasi hanya Sabhara dan Tim Puma Polres Lotim, tidak ada Anggota Brimob.

BACA JUGA :  Polsek Ampenan Bekuk Pelaku Curat

Saat itu pihak Polres Lotim memberikan imbauan kepada masyarakat untuk bubar, karena tidak mau, maka dilepas gas air mata. “Terkait dengan pemberitaan yang sudah dikeluarkan, yang mengatakan polisi melepaskan tembakan ke warga  dan Brimob yang melakukannya itu tidak benar. Tidak sesuai fakta di lapangan,” tegasnya.

“Sesuai dengan hasil visum korban yang diduga kena tembakan itu terkena benda tumpul, ada luka di bagian tangan kaki dan sedikit tergores di bagian kepala,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan, yang diduga korban itu, sempat lari karena banyak orang yang berdesakan, sehingga korban langsung jatuh dan terbentur benda tumpul. “Minta tolonglah agar tidak memberikan informasi yang tidak benar, sesuaikanlah dengan fakta yang ada,” harap Herman.

Ia juga bersama anggotanya menyempatkan diri bersilaturahmi sambil menjenguk korban dan keluarga korban. (der)