Kapolda : Tidak Ada Penembakan Pakai Peluru Tajam

konflik bima
BARANG BUKTI : Kapolda NTB Brigjen Pol Firli saat menunjukkan barang bukti anak panah yang disita dari konflik antar warga di Kabupaten Bima, kemarin. (Ali Ma'shum/Radar Lombok)

MATARAM–Kapolda NTB Brigjen Pol Firli memastikan bahwa tidak ada peluru tajam yang dugunakan oleh kepolisian pada saat mengamankan konflik antara warga Desa Dadibou, Desa Penapali dan Talabiu Kecamatan Woha Kabupaten Bima beberapa waktu lalu.

Seperti diketahui, empat orang warga terkena peluru karet yang digunakan oleh kepolisian. ” Jadi tidak ada itu peluru tajam yang digunakan kepolisian. Itu adalah peluru karet,” ujarnya saat memberikan keterangan pers di Mataram, Senin malam (29/5).

Hal itu ditegaskannya untuk menepis berita di  media sosial dan menyebar dengan cepat saat ini. ” Tidak ada satupun warga yang terkena peluru tajam,” katanya.

Klaim dari kepolisian ini  juga disebutnya sudah diperkuat dengan adanya  pernyataan dari dokter yang menangani empat orang warga yang terkena tembakan. ” Sudah ada pernyataan dari dokter yang memeriksa dan merawat warga. Tidak ada yang terkena peluru tajam. Yang ada hanya serpihan peluru karet,” bebernya.

Polri disebutnya tidak perlu menggunakan peluru tajam. Karena tugas Polri adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. ” Jadi apa yang kami (Polri) lakukan dalam rangka menjamin bahwa masyarakat terlindungi. Kalaupun ada yang terkena peluru karet, itu dalam rangka melumpuhkan agar tidak terjadi keributan yang lebih besar,” imbuhnya.

Sebelumnya, kepolisian sudah melakukan negoisasi dengan warga. Namun tidak membuahkan hasil. Bahkan warga menutup jalan dengan menebang sebanyak 22 pohon. ” Menutup jalannya luar biasa, bukan hanya menggunakan bangku dan kursi. Tapi memakai sebanyak 22 pohon. Itu menyebabkan lalu lintas menjadi macet. Padahal itu satu-satunya jalan lintas utama provinsi,” ungkapnya.

Dalam pengamanan itu, polisi menyita barang bukti berupa 85 anak panah.  ” Alhamdulillah tidak ada warga yang terluka karena anak panah ini. Justru anggota Brimob yang terluka saat membuka jalan yang ditutup. Itupun tidak kami balas. Itu perlu digaris bawahi,” terangnya.

Ia lantas meminta masyarakat untuk tetap tenang dan jangan terhasut oleh adu domba oleh berita-berita yang menghasut. Begitu juga dengan berita-berita yang menanamkan kebencian kepada TNI dan Polri dalam meredam situasi. ” TNI dan Polri sangat kompak dalam rangka memberikan perlindungan pada segenap bangsa Indonesia. Karena kita ingin mencapai tujuan negara yaitu memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsan” katanya.

Selebihnya kapolda mengaku prihatin dan meminta maaf atas kejadian tersebut. Mudah-mudahan kata dia tidak ada lagi konflik kedepannya. Ia juga meminta kepada warga yang masih berniat memprovokasi, agar menghentikan aksinya. Karena itu tidak akan pernah mendatangkan keuntungan. ” Kita wujudkan NTB yang aman, tertib, damai dan nyaman. NTB adalah tujuan pariwisata. Mari kita cipatakan NTB yang aman. Saya meminta maaf dan semoga tidak ada konflik yang terjadi,” harap Kapolda.(gal)