Kapal Cepat Bali Diminta Turunkan Kecepatan

TANJUNG-Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Kabupaten Lombok Utara (Dishubkominfo KLU) meminta kepada para pengguna kapal cepat dari Bali yang datang ke Gili Trawangan, Meno dan Air untuk menurunkan kecepatan saat memasuki perairan gili.

Hal tersebut kata Kepala Dishubkominfo KLU, Sinar Wugiyarno, perlu dilakukan, agar gelombang laut yang diakibatkan kapal bertonase besar itu tidak sampai menimbulkan bahaya bagi perahu atau kapal bertonase kecil di sekitarnya. “Kapal dari Bali ini kan besar-besar tonasenya, mulai dari 80 GT ke atas. Makanya kita minta agar saat memasuki perairan gili yang banyak lalu lalang kapal atau perahu, mereka bisa menurunkan kecepatan, ya 10 knot lah, agar tidak menimbulkan gelombang yang membahayakan. Nanti kami juga akan berkoordinasi dengan syahbandar,” ungkap Sinar, Rabu (14/9).

Pihaknya sendiri kata Sinar, sering kali juga mendapatkan laporan atau keluhan dari pengguna kapal atau perahu lokal di sekitaran gili berkaitan dengan gelombang yang diakibatkan kapal cepat dari Bali. Adapun salah satu akibat dari gelombang yang diakibatkan itu memungkinkan tabrakan dari kapal-kapal bertonase kecil di sekitarnya, baik yang sedang diam ataupun sedang bergerak berdampingan. Terlebih gelombang laut di sekitaran perairan itu juga cukup besar, ditambah dengan gelombang yang diakibatkan kecepatan kapal dari Bali tersebut. “Kita memang tidak memiliki kewenangan dengan kapal-kapal bertonase besar lintas provinsi ini. Itu nanti kita koordinasi dengan syahbandar, tapi kita bisa juga meminta kepada mereka, demi meminimalisir kecelakaan,” terangnya.

Disinggung mengenai kecelakaan laut yang belakangan ini kerap terjadi lanjutnya, itu lebih dikarenakan human error. Seandainya saja semua ketentuan dipatuhi, maka kecelakaan laut antar kapal bisa diminimalisir. Selain itu juga karena ketidaksabaran dalam memacu kapal, serta salah perkiraan saat berpapasan dengan kapal lain yang datang dari arah kiri, kanan atau berlawanan arah. “Kecelakaan itu, di mana-mana ada, baik darat maupun laut, tapi bisa kita minimalisir dengan mentaati ketentuan yang ada, dan bisa lebih sabar,” ujarnya.

Selain itu, berkaitan dengan kerap kalinya kapal kandas di sekitar perairan tiga gili, diharapkan para pengguna kapal lebih mampu memperkirakan pasang surut air laut. Terlebih di sekitar perairan tiga gili, surutnya sangat jauh. (zul)