Kampus Swasta Mulai Kesulitan Bayar Gaji Dosen

PERKULIAHAN SEPI - Suasana aktivitas kampus Ummat di tengah pandemi Covid-19 dengan meniadakan kegiatan belajar mengajar.( ABDI ZAELANI/RADAR LOMBOK)
PERKULIAHAN SEPI - Suasana aktivitas kampus Ummat di tengah pandemi Covid-19 dengan meniadakan kegiatan belajar mengajar.( ABDI ZAELANI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Rektor Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat) Dr H Arsyad Abdul Gani mengaku akibat pandemi Covid-19 ini berdampak luas terhadap keuangan kampus swasta di NTB. Kondisi tersebut berdampak terhadap pembayaran gaji para dosen. Karena kampus swasta hampir 100 persen mengandalkan uang kuliah dari mahasiswa.

“Kondisi kampus swasta saat ini lesu. Bahkan akan berdampak besar terhadap gaji dosen dan karyawan,” kata H Arsyad Gani kepada Radar Lombok, Selasa (5/5).

Arsyad mengaku tak sedikit kampus swasta harus terpkasa mencicil untuk menggaji dosen dan pegawai lainnya, seperti yang dilakukan kampus Ummat. Sebab lesunya perekonomian kampus berskala kecil hingga menyebabkan kesulitan ekonomi untuk membayar gaji dosen dan karyawan akan dirasakan dalam jangka waktu tiga bulan kedepan.

Di Ummat sendiri, kata Arsyad, saat ini harus memikirkan strategi supaya tetap bisa memberikan gaji dosen dan karyawan walapun tidak full 100 persen. Selama pandemi Covid-19 berlangsung, hampir semua kampus swasta di NTB harus menyesuaikan diri dengan situasi saat ini yang tentunya akan berdampak besar terhadap gaji dosen dan karyawan beberapa bulan kedepan sampai wabah Corona ini benar-benar telah lenyap.

“Kalau di Ummat sendiri kita sudah susun strateginya, kemungkinan tunjangan jabatan bisa dialihkan sampai Agustus mendatang. Namun, ini kita masih kalkulasikan,” jelasnya.

Menurutnya, sumber keuangan kampus hampir 100 persen berasal mahasiswa melalui pembayaran uang kuliah seperti SPP dan lainnya. Namun di tengah wabah Corona ini pula kondisi perekonomian orang tua mahasiswa sangat terpukul, sehingga mau tidak mau kampus tidak memaksakan supaya mereka membayar sepenuhnya kewajiban mereka untuk SPP, tetapi masih bisa di cicil.

“Mahasiswa kita diberikan keringanan untuk berhutang dan lain sebagainya di tengah wabah ini. Kita juga maklumi kondisi keuangan orang tua mereka di tengah wabah,” ucapnya.

Bukan hnaya kampus swasta yang merasakan dampak wabah ini, bahkan di semua lini termasuk pemerintah kesulitan dengan kondisi saat ini. Selain itu, selaku kampus swasta di NTB,  Ummat memberikan kompensasi untuk internet saja sebesar Rp 150 selama tiga bulan kepada dosen dan mahasiswa.

“Mungkin hanya kami di Ummat menjadi kampus swasta memberikan kompensasi kepada mahasiswa,” ujarnya. (adi)