Kampung Mantar, Nuansa Pedesaan Yang Masih Alami dan Lestari

Kampung Mantar Wisata Lombok NTB
PARALAYANG: Usai melaksanakan Lomba Paralayang Internasional, peserta menghibur masyarakat yang ingin terbang tandem, dan merasakan sensasi terbang diatas lembah di sekitar Kampung Mantar yang berbatasan langsung dengan Selat Alas yang indah. (SIGIT SETYO/RADAR LOMBOK)

MANTAR, merupakan nama sebuah kampung, atau pedusunan seluas 800 hektar yang terletak di puncak bukit, berjarak sekitar 7 kilometer dari Ibukota Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat. Mengingat akses jalan menuju Kampung Mantar masih dalam tahap perbaikan dan belum memadai, maka jalan kaki atau berkendaraan sepeda motor, bahkan mengendarai mobil berpenggerak roda empat, menjadi sarana yang bisa dilakukan pengunjung untuk mencapai wilayah tersebut.

Menurut informasi buku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa Barat, cetakan tahun 2006, adat istiadat, atau budaya masyarakat Kampung Mantar seperti Naik Dulang, Karapan Kerbau, Karapan Ayam, dan Badempak, masih tetap terpelihara hingga kini. Begitu juga kesenian rata-rata masyarakat suku Samawa seperti Sakeco dan Melangko, tetap lestari.

Semua itu tak lepas dari medan terjal dan mendaki bukit dengan ketinggian 600 meter dari permukaan laut yang harus di tempuh untuk mencapai Kampung Mantar. Sehingga membuat daerah ini terisolasi dan terpencil, mirip perkampungan Badui di Provinsi Banten, atau Kampung Naga di Tasikmalaya (Jawa Barat). Bahkan dengan transportasi yang masih terbatas atau berjalan kaki, membuat Kampung Mantar ini sepintas mirip dengan kehidupan masyarakat di lembah Gunung Bromo (Jawa Timur).

“Suasana pedesaan ini tentu sangat cocok bagi para wisatawan yang sudah jenuh dengan hiruk pikuk suasana perkotaan dan modernisasi, dan ingin mencari nilai-nilai kehidupan pedesaan yang masih asri, alami dan manusiawi,” kata Kepala Dinas Pariwisata NTB, HL Moh. Faozal, usai press converence Mantar Paragliding XC Open 2017, yang akan berlangsung di Mantar, 18 – 24 Juli 2017 mendatang.

Menurut Faozal, hawa pegunungan yang sejuk, bahkan sering berkabut ketika pagi, dan dinginnya mata air Mante yang dipercaya masyarakat memiliki kekuatan magis, serta tak pernah kering meskipun berada di puncak gunung. Di tambah cerita asal-usul komunitas Mantar yang konon berasal dari empat etnik, yaitu China, Negro, Eropa dan Jawa. Menjadikan Kampung Mantar ini menyimpan pesona dan misteri yang bisa mengundang minat para ahli sejarah, atau arkeologi untuk melakukan studi dan penelitian di kampung ini.

Demikian pula keberadaan berbagai benda bersejarah seperti gong, guci, galih pisang, dan galih salaguri, serta sejumlah gerabah yang masih di simpan oleh masyarakat Kampung Mantar. Plus pemandangan gugusan pulau-pulau kecil seperti Gili Kalong, Gili Namo, dan Gili Belang, di perairan Lombok (Selat Alas) dari puncak bukit Mantar, tentu akan menarik minat wisatawan untuk berkunjung.

Tak hanya itu, keberadaan Desa Labuhan Kertasari di dekat Kampung Mantar yang sampai sekarang masyarakatnya di kenal sebagai perajin kain tenun, serta penghasil budidaya rumput laut, menjadi penunjang yang penting bagi Kampung Mantar sebagai Desa Wisata yang harus didatangi kalau berkunjung ke Kabupaten Sumbawa Barat.

Kini yang terbaru, ternyata di ujung Kampung Mantar, tepatnya di sebelah kuburan yang langsung berhadapan dengan hamparan lembah di Selat Alas, memiliki potensi olahraga wisata Paralayang yang banyak disukai para pencinta Paralayang. “Bahkan dari penelitian yang dilakukan, spot Paralayang di Kampung Mantar ini dinilai sebagai yang terbaik di dunia. Apalagi ditambah dengan pemandangannya yang indah. Membuat para wisatawan betah berlama-lama berada di Kampung Mantar,” jelas Faozal.

Kampung Mantar, Nuansa Pedesaan Yang Masih Alami dan Lesatari

Bagaimana dengan akses transportasi dan sarana akomodasi yang belum memadai? Konon, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, tidak mungkin akan membangun jalan permanen yang justeru dari penelitian akan merusak struktur ekosistem di Kampung Mantar. Kecuali mungkin membangun pengerasan jalan saja, untuk memudahkan akses transportasi dari dan ke Kampung Mantar supaya lancar.

Demikian pula sarana akomodasi, kalau di bangun hotel, atau penginapan, justeru akan merusak suasana pedesaan yang menjadi ciri khas Kampung Mantar. Bukankah menginap di rumah-rumah penduduk, makan-makanan ala masyarakat pedesaan, serta hidup seperti cara hidup orang kampung, bisa menjadi sensasi, atau kenangan yang tak bisa dilupakan? (gt)