Kak Seto Sarankan NTB Tidak Tanam Tembakau Lagi

MATARAM – Banyaknya anak-anak di Indonesia maupun NTB yang telah merokok mendapat perhatian serius dari Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi atau yang lebih akrab disapa Kak Seto.

Bahkan secara fundamental, pria yang  identik dengan anak-anak itu memberikan masukan dan saran kepada Pemerintah Provinsi NTB agar bisa menghentikan masyarakatnya  menanam tembakau.

Menurutnya, bahaya rokok sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Selama tembakau masih di tanam maka selama itu pula anak-anak dengan mudahnya mengkonsumsi rokok. “Pada akhirnya, yang akan menjadi korban anak-anak kita. Maka sudah sepantasnya NTB mengganti atau mengalihkan tanaman tembakau ke bidang pariwisata,” sarannya saat mengahdiri peringatan Hari Anak di Mataram, Sabtu lalu (23/7).

Kak Seto tidak ingin, demi menjaga keberlangsungan hidup harus mengorbankan anak-anak. Padahal bangsa ini sangat berharap kepada generasi muda yang sehat dan hebat. "Apa iya kita harus korban anak-anak kita demi rokok,” katanya.

Pengaruh rokok telah terbukti membuat banyak generasi muda di Indonesia termasuk anak-anak yang kecanduan zat adiktif seperti narkoba. Akibatnya, rokok merusak masa depan sang anak. Pasalnya, zat yang terkandung dalam rokok tidak menyehatkan bagi kesehatan tetapi merusak.

Tidak bisa dipungkiri lagi, rokok telah membunuh jutaan manusia di dunia. Hal semacam ini tentunya jangan dibiarkan terus berlarut. "Setiap hari orang meninggal karena rokok, saya menilai rokok lebih kejam dari peperangan karena telah membunuh jutaan orang,” ujarnya.

BACA JUGA :  Perluasan Tanam Jagung Dipastikan di Luar Hutan

Provinsi NTB lanjutnya, dikaruniai berbagai potensi sumber daya alam yang sangat besar. Seharusnya, pemerintah daerah mampu melepas ketergantungan pada tembakau dan fokus mengarahkan masyarakat untuk hidup dan mendapatkan pemasukan dari sektor pariwisata. Selama ini tanaman tembakau masih dikembangkan, hal itulah yang membuat konsumsi rokok sulit terkendali. Namun apabila penanaman tembakau bisa dikurangi atau dihilangkan, tentunya merupakan jalan yang sangat efektif dalam pengendalian konsumsi rokok. "Pariwisata NTB kan semakin maju, itu saja difokuskan kedepan. Lepas ketergantungan terhadap tembakau,” imbuh Kak Seto.

Pemerintah Provinsi NTB diyakini bisa merubah ketergantungan masyarakat pada menanam tembakau ke sektor pariwisata. Namun semua itu harus dilakukan bersama Pemerintah Kabupaten dan fokus untuk menggali serta mengelola pariwisata sebagai andalan utama mensejahterakan masyarakat.

Produksi tembakau NTB telah menjadi andalan Indonesia sejak lama. Menanam tembakau merupakan warisan nenek moyang orang Lombok. Dalam setahun, produksi tembakau bisa mencapai 30 ribu ton atau terbesar ketiga di Indonesia setelah Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. “Saya yakin NTB mampu melepas ketergantungan ini, majukan saja pariwisata,” tutup Kak Seto. (zwr)