Jumlah Korban Terus Bertambah, Gempa Susulan Perlu Diwaspadai

Gempa Susulan Perlu Diwaspadai
EVAKUASI: Exacavator dan anjing pelacak diturunkan mengecek korban yang tertimbun bangunan Masjid Jamiul Jamaah Dusun Karang Pansor Desa Pemenang Barat Kecamatan Pemenang.

MATARAM – Gempa tektonik berkekuatan 7,0 skala richter yang mengguncang pulau Lombok, Minggu malam (5/8) menyisakan duka cita mendalam. Air mata keluarga korban yang ditinggalkan belum bisa mengering seiring bertambahnya jumlah korban. Hati mereka masih luluh seiring lantaknya puing-puing bangunan rumah mereka.

Data sementara yang dikumpulkan Radar Lombok, jumlah korban sudah mencapai 119 orang. Jumlah ini tersebar di semua wilayah kabupaten/kota di pulau Lombok.

BACA JUGA: Warga Korban Gempa Pertama Bosan di Pengungsian

Data sementara di Kabupaten Lombok Utara (KLU) sejumlah 89 orang. Kemudian disusul Kabupaten Lombok Barat 22 orang, Kota Mataram 6 orang, Lombok Timur 4 orang, dan Lombok Tengah 2 orang. Sehingga berjumlah 123 orang.

Di KLU, tim reaksi penanganan cepat gempa bumi Lombok Utara menerjunkan alat berat berupa excavator dan anjing pelacak. Upaya ini untuk memudahkan evakuasi korban tertimbun di bawah reruntuhan bangunan masjid di Dusun Lading-Lading Desa Tanjung Kecamatan Tanjung dan Dusun Karang Pansor Desa Pemenang Barat Kecamatan Pemenang. Alat berat dan anjing pelacak diterjunkan karena tim evakuasi kesulitan mengetahui titik tempat tertimbunnya korban.

Selain itu, tim juga kesulitan mengangkat puing-puing beton reruntuhan bangunan. “Alat berat harus segera bergerak cepat untuk melakukan evakuasi. Korban barang kali masih hidup,” kata Ketua Tim Reaksi Penanganan Cepat Gempa Bumi Lombok Utara Wiranto, Selasa (7/8).

Menkopolhukam ini mengintruksikan pemda dan perusahaan menerjunkan exacavator, karena kondisi sekarang alat berat itu masih berkurang. Harus dipaksa karena ini dalam keadaan darurat. Berdasarkat data sementara di Masjid Lading-Lading sudah berhasil dievakuasi enam orang keadaan selamat, dan tiga orang meninggal dunia, sisanya masih terus dievakuasi. Begitu juga di Masjid Karang Pansor terus mengangkat bongkahan puing bangunan.

Kepala BNPB Pusat Willem Rampangilei menyakini, data korban akan terus bertambah, karena masih melakukan evakuasi. Ada korban yang tertimbun rumah, toko, dan tempat ibadah. “Pasien cenderung dinamis,” katanya.

BACA JUGA: Kisah Korban Selamat Tertimpa Reruntuhan Gempa Bumi 7.0 Skala Richter

Kemudian, terdapat 20 orang sudah operasi dan 87 orang akan operasi, 50 orang segera dioperasi, sisanya 37 orang masih menunggu fasilitas operasi. Ada operasi tulang terbuka dan tulang tertutup, jadi yang diutama yang memperlukan penanganan darurat. Kondisi rumah sakit sekarang masih menggunakan perawatan di luar, dan ada juga dirujuk ke RSUP.

Ditegaskan, untuk korban yang masih tertimbun, prioritas pencarian dan penyelamatan. Jadi melakukan pencarian yang dipimpin langsung Basarnas dibantu Polri-TNI, masyarakat, dan relawan. Hasilnya dua korban selamat dalam kondisi tertimbun, empat korban selamat di bawah kubah di Masjid Lading-Lading. “Berapa jumlah korban kami pun belum tahu, kami tidak menerima laporan dari keluarga yang hilang. Yang terpenting kami melakukan maksimal yang bisa dievakuasi secepatnya,” imbuhnya.

Untuk Karang Pansor, sambung dia, upaya pencarian dengan menggunakan alat berat terbatas. Perlu alat dan tenaga, baik pemerintah daerah, Polri dan TNI. Harus dilakukan secepatnya, sehingga masyarakat tidak tinggal terlalu lama. Begitu juga dengan evakuasi wisatawan harus dilakukan sebaik-baiknya. Sebab, berdasarkan hasil pengecakan masih ada wisatawan yang masih bertahan di Gili Trawangan. ‘’Informasi dari Basarnas, mereka sudah diangkut ke Bali sekitar pukul 14.00 Wita. Tapi jumlahnya masih belum kita tahu, penanganan turis itu dilakukan sebaik-baiknya,’’ ujarnya.

Sementara itu, Azharudin warga Dusun Karang Pansor menerangkan, pada saat kejadian korban sedang salat Isya sehabis melakansakan pengajian umum. Pada rakaat ketiga jemaah dikagetkan dengan gempa bumi dan langsung berhamburan keluar, termasuk imamnya. “Ada yang bisa selamatkan diri. Tapi ada juga masih tertimbun dan kita belum tahu siapa mereka,” terangnya.

Sejak pagi, ia melihat di depan rumah proses evakuasi yang menimpa jemaah tersebut sekitar pukul 17.20 Wita. Digunakan anjing pelacak, karena informasinya ada yang memanggil namun petugas tidak bisa mencari celah keluarganya. Sementara kondisi exacavator dalam keadaan tidak kuat mengingat puing bangunan masjid dikuatkan dengan besi-besi yang kokoh. “Ada satu anjing pelacak dan satu unit alat berat diturunkan belum bisa ada ditemukan tim Basarnas, TNI dan Polri,” tandasnya.

BACA JUGA: Gempa Terdahsyat Sepanjang Sejarah NTB

Akibat gempa ini juga menyebabkan puluhan desa belum bisa dijangkau yang mengakibatkan sulitnya ada bantuan masuk. Kondisi tersebut diungkapkan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, masih ada puluhan desa terisolir di Lombok Utara, Lombok Barat dan Lombok Timur. Di Lombok Utara, ada 3 desa yang terisolir di kecamatan Bayan. Yaitu desa Bayan Belek, Mumbul Sari, dan Sambi Elen. “Belum ada bantuan yang diberikan. Petugas juga mengalami kendala menjangkau penduduk di desa tersebut karena kendala jalan, terbatasnya logistik dan lain-lain,” terang Sutopo kepada Radar Lombok.

Selanjutnya yang terisolir yaitu Desa Teniga dan Tegal Maja di Kecamatan Tanjung. Kemudian Dusun Tukak Bendu Desa Santong dan Salut Kecamatan Kayangan. “Mereka juga krisis air bersih karena PDAM memutus aliran air,” ujarnya.

Di Lombok Timur, ada 10 desa yang terisolir dan butuh bantuan. Kemudian di Lombok Barat, ada 3 desa di Kecamatan Gunungsari sangat membutuhkan bantuan. Bahkan ada yang satu kampung di Gunungsari 100 persen rumah rusak. Pantauan koran ini di Dusun Wadon Desa Kekait Kecamatan Gunungsari, terdapat kerusakan yang sangat parah. Semua rumah rata dengan tanah di dusun ini dan terdapat 2 orang korban meninggal dunia. Yakni 1 orang bayi berusia 2 bulan dan 1 orang korban usia dewasa. Semua korban meninggal sudah dimakamkan langsung.

Ketua RT 3 Dusun Wadon Desa Kekait, Mursyid mengatakan, di dusun ini terdapat 500 kepala keluarga dengan jumlah jiwa sebanyak ribuan orang. Kini semua warga sudah menempati tenda darurat yang sudah dibuat sejak malam kejadian gempa. Tokoh masyarakat setempat H Mahyudin mengimbau kepada masyarakat untuk tetap sabar menunggu bantuan dari pemerintah. Karena musibah ini merata di seluruh kabupaten Lombok Barat, bahkan di daerah lain. ‘’Bencana inikan rata di seluruh Lombok, mari kita sabar,’’ imbuhnya.

Pemkab Lombok Barat juga terus mendata korban gempa. Data sementara yang dirilis, korban meninggal dunia bertambah menjadi 22 orang dari sebelumnya 16 orang. Korban ini meninggal di Puskesmas Kediri 1 orang, Puskesmas Narmada 1 orang, Puskesmas Lingsar 1 orang, Puskesmas Sigerongan 1 orang, Puskesmas Penimbung 3 orang, Puskesmas Gunungsari 7 orang, Puskesmas Meninting Batulayar 8 orang.

Sedangkan korban luka-luka masih rawat inap di pelayanan kesehatan ada 7 orang. Korban yang dirawat jalan karna luka-luka berat dan ringan sebanyak 509 orang ditangani puskesmas. Selain itu ada bayi dan balita 3 orang dirawat, ibu hamil 13 orang, bahkan ada yang melahirkan saat mati lampu. Data keseluruhan jumlah yang sudah dilayani sebanyak 1.850 orang di luar yang dikunjungi di posko. ‘’Data korban ini yang ditangani di faskes kesehatan tidak termasuk yang dikunjungi. Selama waktu tanggap darurat semua pelayanan gratis,’’ tegas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat, Rahman Sahnan Putra.

Gempa kali ini memang yang terdahsyat. Tidak pernah ada gempa yang terjadi di pulau Lombok di atas 7,0 skala richter. Gempa cukup besar pernah terjadi pada 10 April 1978. Namun kekuatannya hanya 6,7 skala richter.

BACA JUGA: Cerita Korban Selamat Tertimpa Runtuhan Masjid Jabbal Nur Lading-Lading

Kemudian gempa berkekuatan 6,1 SR pernah terjadi pada tahun 1979 dan tahun 2000. Ada juga gempa 6,0 SR, namun jumlah korban meninggal dunia juga tidak sebanyak saat ini. Gempa susulan juga masih akan terus terjadi. Namun kekuatannya terkadang cukup besar dan kecil. Hingga Selasa sore, jumlah gempa susulan yang terjadi sebanyak 253 kali. “Yang terasa atau diradakan masyarakat itu ada 17 gempa. Sisanya tidak begitu dirasa karena kekuatannya kecil,” kata Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Mataram, Agus Riyanto. (flo/ami/zwr)