Jual Semua Ladang dan Sawah, Pergi Beli Pipa ke Pabrik Maspion

PEJUANG: Sumirah alias Amaq Isah (kanan) menyiram tanamannya dari air yang dialirkannya dari kaki Gunung Rinjani. Berkat perjuangan dan pengorbanannya, kini warga Gubuk Baru Dusun Permatan Desa Gunung Malang bisa menikmati air bersih (Jalaludin)

Sedih dengan kondisi masyarakat di kampungnya yang kesulitan mendapatkan air bersih dan untuk  bercocok tanam, Sumirah rela mengorbankan harta bendanya   guna membeli pipa sepanjang 7,5 km untuk mengalirkan air dari gunung.

 


Jalaludin–Lombok Timur


 

Perjuangan dan pengorbanan  Sumirah alias Amaq Isah, 47 tahun  patut dicontoh. Karena pengorbanannya itu pula, warga Gubuk Baru Dusun Permatan Desa Gunung Malang Kecamatan Pringgabaya Lombok Timur digelari manusia super. Betapa tidak, lelaki paruh baya lima putra ini merupakan penduduk Desa Gunung Malang yang tercatat sebagai warga miskin. Sumirah  hanya penggarap lahan Hutan Kemasyarakatan (HKm) seluas 35 are.  Kelima anaknya  pun terdaftar menerima bantuan dari pemerintah sebagai anak orang yang tidak mampu.

Meski miskin, Sumirah ternyata memiliki hati yang sangat mulia. Tak tanggung-tanggung, Sumirah merelakan tanah ladang seluas 1 ha yang merupakan satu-satunya harta yang ia punya untuk dijual.  Hasil penjualan ladangnya ini kemudian dipergunakan untuk membeli pipa air guna mengalirkan air bersih dari atas Gunung Sakra di kaki Gunung Rinjani dengan jarak sekitar 9,7 kilometer ke Dusun Permatan Gunung Malang.

Selama dua  tahun lebih Sumirah berjuang seorang diri dan hanya dibantu istri dan anak-anaknya dalam upaya mengalirkan air dari atas gunung tersebut.

Dusun Permatan Gunung Malang berada di dataran tinggi. Ratusan kepala keluarga hidup dari menggarap ladang tadah hujan.  Untuk menjangkau kampung ini, melalui jalan setapak yang menanjak dengan bebatuan di sepanjang jalan.

Sumirah merasa miris melihat kondisi masyarakat yang hanya mengandalkan penghasilan dari bercocok tanam di lahan HKm yang dibagikan pemerintah dan dikelola oleh Kelompok Penggarap Hutan Lembah Sempager.  Penggarap hanya bisa bercocok tanam sekali dalam setahun dan itupun jika hujannya panjang. Jika hujan pendek, maka tak ada harapan untuk bisa panen. Belum lagi gangguan hama terutama  babi dan juga monyet.

Ide mengalirkan air dari gunung ini tercetus   saat warga  Gubuk Baru Dusun Permatan mengalami musibah kebakaran  hebat yang  menyebabkan 50 rumah ludes terbakar.  Paska kejadian itu, warga minta ke bupati  mengalirkan air air dari Gunung Sakra sekitar 9,7 km dari perkampungan, namun tidak mendapat respon dari bupati saat itu.  Hingga kemudian terjadilah pergantian  kepala daerah. Bupati saat itu HM Sukiman Azmy  merespon dan mendatangkan petugas Balai Wilayah Sungai (BWS) NTB untuk meninjau lokasi tersebut. “Saat itu bupati Pak Sukiman datang membawa BWS,” tuturnya Selasa kemarin (5/9).

Selama seminggu petugas BWS  melakukan pengukuran dengan memasang patok dengan dibantu ratusan warga.  Namun ternyata setelah seminggu bekerja, petugas BWS tak  lagi kembali.   Padahal sebelumnya pihak BWS telah menjanjikan untuk kembali sekitar satu bulan untuk membawa pipa dan sekaligus memasangnya. Namun hingga sampai tiga tahun hanya janji-janji terus yang didapatkan. “Bahkan oknum petugas beberapa kali datang dan meminta uang untuk biaya transportasi dan warga memberikan dengan tujuan agar pipa segera datang dan air segera dialirkan,” jelasnya.

Warga semakin terpuruk. Mereka kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Begitu juga untuk bercocok tanam. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, warga memilih menjadi pencari kayu bakar untuk dijual. Pohon-pohon yang dulunya besar ditebang, lalu kayunya dijual.  Kawasan ini berubah menjadi ladang tandus.

Sumirah sendiri memilih tetap menggarap lahannya. Untuk mengairi tanamannya, ia berjalan kaki cukup jauh ke sumber mata air. Dengan menggunakan jeriken, air itu dipikul lalu digunakan menyiram tanamannya. “Kita saja yang bawa air, sementara orang lain tidak ada air,” katanya pada istrinya saat itu.

Sumirah lalu berencana membeli mobil pikap untuk mengangkut air dari bawah dan kemudian menampungnya menggunakan tong.Dia lalu menjual ladangnya.  Hasil penjualan ladangnya kemudian digunakan membeli  mobil pikap bekas seharga Rp. 75 juta dan  membeli bak air berkapasitas seribu liter.

Dengan mobil itu, Sumirah mengangkut air dan dengan menyewa jasa sopir. “Namun sekitar seminggu sopir itu mengaku tidak kuat dan berhenti serta mengatakan tidak sanggup karena jalannya sangat parah,” jelasnya.  Oleh sopir tadi, Sumirah disarankan membatalkan rencana mengangkut air menggunakan mobil. Sumirah urung membeli mobil pikap itu.

Setelah usahanya pertama gagal, Sumirah berinisiatif membeli air dari jasa penjualan air bersih. Satu mobil tanki 5 ribu liter seharga Rp 400 ribu. Air itu didatangkan dari kota kecamatan Pringgabaya. Namun satu tanki air itu hanya bertahan seminggu   karena semua warga penggarap lahan datang dan meminta air padanya tanpa membayar sepeserpun. 

Sumirah  berunding lagi dengan istrinya. Muncul ide   membeli pipa guna mengalirkan air dari sumber mata air di atas Gunung Sakra di kaki Gunung Rinjani.  Uang hasil penjualan ladang yang direncanakan untuk  membeli mobil tersebut kemudian dialihkan untuk membeli pipa karet ukuran 1 inci dengan harga Rp 22 ribu per meter. “Saya keliling mencari pipa yang akan saya butuhkan akan tetapi tidak ada. Hingga terpaksa saya menumpang truk fuso pergi ke Surabaya ke pabrik Maspion untuk membeli pipa yang akan saya butuhkan,” jelasnya. (bersambung)