Jembatan Rusak, Ibu Hamil Dibopong Menyeberangi Sungai

TANGKAPAN LAYAR: Tampak dari tangkapan layar video yang viral saat warga membopong ibu hamil melewati sungai di Dusun Pemoles Desa Batujangkih Kecamatan Praya Barat Daya, kemarin. (ISTIMEWA/RADAR LOMBOK)

PRAYAVideo yang memperlihatkan warga Dusun Pemoles Desa Batujangkih Kecamatan Praya Barat Daya yang diunggah salah seorang warga Pemoles di akun Facebook, Khairul Anwar menjadi viral di media sosial (medsos). Pasalnya, dalam video berdurasi 1 menit 46 detik itu, tampak ibu hamil hendak melahirkan dibopong sejumlah warga menyeberangi aliran sungai yang cukup deras untuk dibawa ke puskesmas.

Tampak dalam video yang dibagikan ratusan pengguna Medsos tersebut, dua orang pria membopong ibu yang sedang hamil melewati derasnya arus sungai. Sementara satu orang wanita lainnya di samping pria yang membopong perempuan hamil tersebut menunjukan arah. Dalam video yang diposting sekitar dua hari lalu kemudian viral pada Sabtu (21/5).

Dalam postingan tersebut, pengunggah video menyampaikan bahwa saat itu wilayah mereka diguyur hujan lebat membuat air sungai naik besar. Kebetulan pada sore hari itu ada salah seorang warga yang akan melahirkan dan akan dibawa ke Puskesmas Batujangkih. Namun karena jembatan rusak, maka warga terpaksa membantunya dengan membopong dengan menyeberangi derasnya aliran sungai.

Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah, Suardi yang dikonfirmasi tak menafikan soal video viral ibu hamil yang dibopong menyeberangi sungai itu. Kejadian tersebut berlangsung di Dusun Pemoles Desa Batujangkih Kecamatan Praya Barat Daya. Ibu hamil itu sekarang ini sudah melahirkan anaknya.

BACA JUGA :  Polisi Musnahkan Mi Berformalin

Kondisi ibu dan bayinya selamat dan sehat karena sudah ditangani dengan baik oleh petugas puskesmas. “Peristiwa itu terjadi di Dusun Pemoles Desa Batujangkih Kecamatan Praya Barat Daya. Ibu yang dibopong warga ini, namanya Dian Sari dan suaminya bernama Firman. Yang bersangkutan sudah ditangani di Puskesmas Batujangkih dan kondisi sekarang sudah melahirkan, ibu dan bayinya saat ini dalam keadaan sehat,” ungkap Suardi, Minggu (22/5).

Suardi tidak menafikan bahwa ibu yang hamil tersebut terpaksa harus dibopong warga. Mengingat kondisi jembatan penghubung Dusun Pemoles menuju pusat pelayanan puskesmas kondisinya rusak parah. Untuk mengantisipasi hal serupa tidak terulang lagi, petugas membuat posko pelayanan di rumah penduduk di sekitar jembatan Pemoles.

“Ibu yang akan melahirkan ini dibopong melewati sungai menuju puskesmas, karena jembatan di Pemoles rusak. Tapi kita sekarang sudah membuat posko dan tim dari puskesmas Batujangkih yang akan bertugas di Posko Dusun Pemoles terdiri dari dokter, perawat, bidan, promkes dan kesling. Mereka akan piket di posko yang sudah dibuat,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Lombok Tengah, Lalu Rahardian yang dikonfirmasi mengenai jembatan ini mengatakan, rusaknya jembatan Pemoles ini disebabkan bencana alam.

Wakil Bupati Lombok Tengah, HM Nursiah juga sempat turun melihat kondisi jembatan tersebut. Dinas PUPR juga sudah diperintahkan menangani persoalan tersebut.

BACA JUGA :  Loteng Ajukan Utang Rp 200 Miliar

“Kami sudah membuat desain dan menghitung biaya pembangunan jembatan ini dari anggaran tak terduga. Tapi kebetulan waktu itu ada audit BPK. Pemda kemudian meminta agar masalah itu dikonsultasikan ke BPK. Karena jembatan Pemoles ini bentuknya penanganan permanen, BPK menyarankan kita agar dieksekusi lewat APBD perubahan. Sebab APBD reguler tidak bisa menggunakan dana belanja tidak terduga (BTT),” terang Rahardian.

Karena itu, jembatan Pemoles urung dikerjakan. Dinas PUPR kemudian akan menangani secara darurat. Meski Gubernur NTB, Zulkiflimansyah sudah turun ke Pemoles, baginya aturan tetap saja sama. Pemprov NTB juga tentunya akan berkoordinasi dengan Pemda Lombok Tengah.

“Sebenarnya ada jalan alternatif di situ (Pemoles, red) tapi agak mutar sedikit, tapi sekarang kita coba bagi alat berat untuk penanganan daruratnya. Yang tergerus di jembatan itu ada yang sembilan dan sepuluh meter. Itu jembatan pada saat air meluap disertai dengan material seperti kayu dan lainnya membuat air tersumbat,” terangnya.

Rahardian menambahkan, untuk memperbaiki suatu pekerjaan proyek sudah ada aturannya dalam birokrasi. Pemda mengacu pada aturan yang berlaku. Jangan sampai niat baik dalam memperbaiki jembatan terbentur aturan juga. “Untuk memperbaiki jembatan ini kita membutuhkan dana sekitar Rp 450 juta,” tambahnya. (met)