Jawab Nitizen, Dr Zul Beber Program Unggulan

Jawab Nitizen
PENJELASAN: Gubernur Dr Zulkieflimansyah memberikan penjelasan atas berbagai pertaanyaan seputar program unggulan pemerintah provinsi melalui akun facebook miliknya.( Faesal/radarlombok.co.id)

MATARAM– Gubernur  Zulkieflimansyah banyak mendapat pertanyaan tentang berbagai program Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB terutama program unggulan.

 Apalagi belakangan ini banyak sorotan yang muncul  terhadap program unggulan pemerintah Zul-Rohmi serta kelanjutan program unggulan dari pemerintahan sebelumnya. Beragam pertanyaan itu dijawab gubernur yang akrab disaba Dr Zul ini melalui media sosial. Melalui  akun facebook peribadianya @Bung Zul Zulkieflimansyah dikatakan, beberapa minggu terakhir banyak sekali kegaduhan di dunia maya tentang berbagai program pemda NTB. “Menurut kami masih wajar. Kalau tidak ada dinamika, biasanya kita tak akan pernah belajar dan akhirnya bebal utk berubah,”tulisnya seperti yang dikutif radarlombok.co.id dari akun facebook-nya Kamis kemarin (5/9).

Dikatakan, ada nitizen  mengatakan pemerintahannya bersama Wagub Hj Sitti Rohmi Djalilah punya program yang tak berpihak pada pariwisata lagi. Padahal pada pemerintahan sebelumnya, pariwisata jadi program unggulan. Hal ini diindikasikan dengan anggaran pariwisata yang berkurang. Padahal, jawabnya, memajukan pariwisata itu tidak  harus identik dengan anggaran pariwisata. “Membangun dermaga, memperbaiki jalan dan penerangan, mengatasi persoalan sampah, dll itu juga ujung-ujungnya pariwisata juga,” jelasnya.

Dari hasil evaluasi pihaknya, ada penerbangan langsung dari Australia ke Lombok berdampak pada peningkatan pariwisata. “Dari hasil evaluasi kami, adanya direct flight dari Perth Australia ke Lombok sudah meningkatkan jumlah wisatawan yang hadir  hampir 200 persen!. Memajukan pariwisata adalah kemestian dan ini prioritas kami no 1. Dan memajukan pariwisata ini nggak harus identik dgn semata jumlah anggaran di dinas pariwisata,” lanjutnya.

 Ada juga pertanyaan tentang jargon melanjutkan Ikhtiar TGB (TGH Zainul Majdi) tapi tidak ada lagi program unggulan sebelumnya seperti sapi jagung dan rumput laut  (PIJAR) dan program lainnya. Dielaskan, melanjutkan PIJAR tidak harus dengan nama PIJAR lanjutan tapi bisa juga dengan menghadirkan banyak industri pengolahan yg punya nilai tambah lebih. “Program kami menghadirkan industri pengolahan misalnya adalah upaya kami secara sadar utk melanjutkan program PIJAR dengan struktur industri yang lebih, dalam dalam rangka menaikkan nilai tambah produk-produk pertanian dan peternakan kita,”  jelasnya.

 Ada lagi yang mempermasalahkan tentang pengiriman mahasiswa ke Korea bahkan mencurigai ini motif untuk perdagangan manusia. Padahal ini program sederhana. “Yang punya ide memberangkatkan anak-anak NTB ke Luar negeri bukan kami saja. Banyak orang-orang dan tim lain,” jelasnya

 Ide memberangkatkan lulusan diploma tiga (D3) keperawatan dan melanjutkan ke jenjang strata satu (S1) di Chodang University, Korea Selatan diinisiasi oleh Dr Hamsu dari Fakuktas Kedokteran Unram. “Kata beliau kita punya kelebihan perawat dan sambil sekolah, anak-anak kita bisa bekerja membantu di bidang perawatan dan kesehatan di Korea dangan gaji yang lumayan,” katanya.

 Menurutnya, program ini bagus dan harus didukung  tapi  dirinya meminta Prof Hamsu untuk mengecek kualitas dan reputasi Chodang University sambil mengirimkan Kadis Kesehatan NTB dr Eka dan direktur utama RSUD NTB dr Fikri untuk memastikan bahwa apa yang dijanjikan itu benar. ” Setelah semuanya oke, baru berani kita kirimkan anak-anak kita ke sana,” sambungnya.

Lalu  ada hal-hal yang kenyataannya tidak sesuai dangan yang dijanjikan tentu patut disesali. “Kita tinggal perbaiki kalau ada prosedur yang keliru atau ganti tempat studi ke tempat yang sesuai harapan. Tapi yg ada beritanya anak-anak Kita telantar di Korea,” sebutnya.

Tidak hanya itu, kata Dr Zul, sekarang ada lagi sorotan soal beasiswa pertambangan untuk mahasiswa Bima dan  Dompu ke Universitas Muhammadiyah Mataram (UMM). “Padahal itu murni agar anak-anak Dompu dan Bima tidak jadi penonton di tempatnya sendiri kalau nanti betul tambang  beroperasi (di wilayah mereka),” jelasnya.

Lalu dipilihnya UMM karena  kebetulan banyak anak-anak Bima dan Dompu kuliah disana dan ada jurusan pertambangannya. ” Kenapa anak Bima Dompu saja?. Karena sponsornya perusahaan yang ada di Dompu dan Bima maunya anak-anak Dompu dan Bima saja,”jelasnya.

 Peningkatan kapasitas ini penting agar anak-anak di NTB punya ilmu dan pendidikan yang cukup. ”Apapun nanti sikap anak-anak ini yakni  menolak atau menerima tambang kita bersikap karena ilmu dan pengetahuan,” jawab. (sal)