Jalan Rusak, Warga Mareje dan Cendimanik Tanami Padi

Jalan Rusak
JALAN RUSAK: Protes jalan rusak tidak pernah diperbaiki, meskipun berkali-kali telah diusulkan, warga Mareje, Desa Lembar, akhirnya menanami padi di kubangan sepanjang jalan yang rusak parah tersebut. (IST FOR RADAR LOMBOK)

GIRI MENANG — Jalan utama yang menghubungkan Desa Cendimanik dan Mareje kondisinya rusak parak. Sebagai bentuk protes atas kondisi jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki itu, Sabtu lalu (9/2), warga akhirnya menanam padi di tengah jalan yang dipenuhi kubangan air tersebut.

Akses jalan tanah sepanjang hampir 4 – 5 kilometer di wilayah itu tak pernah tersentuh pemerintah daerah. Warga setempat sering menagih janji Pemda yang berkali-kali menjanjikan hendak membangun akses jalan tersebut. Namun sampai saat ini belum ada realisasinya.

BACA JUGA: Jalan Rusak dan Jembatan Putus Hiasi Tambora

Budi, salah satu warga setempat mengatakan, jalan raya yang ada lebih baik ditanami padi, karena sudah tidak layak dijadikan jalan. “Lebih baik kita tanami padi, karena kondisi jalan ini sudah kayak sawah yang dibajak. Akses jalan ini sudah tak layak disebut sebagai jalan,” keluhnya.

Menurutnya, kondisi jalan yang memprihatinkan seperti ini terjadi di beberapa dusun, diantaranya Dusun Pelan, Ganjar, Montong Jago, Guli dan Dusun Batu Petak. Jalan dimana-mana terdapat kubangan seperti kolam. Bahkan sebagai bentuk protes, warga sengaja memancing di kubangan jalan tersebut.

Padahal lanjutnya, akses jalan ini menghubungkan antara Desa Mareje dengan Cendi Manik, Sekotong. Jalan ini tidak pernah tersentuh perbaikan, semenjak dibangun secara swadaya oleh masyarakat tahun 1996 silam.

Kades Mareje, Nurudin menyatakan, usulan pembangunan jalan ini sudah dimasukkan dalam RKP dan Musrenbang Camat, sejak tahun 2013 lalu. Akses jalan yang perlu segera dibangun sepanjang 3 kilometer, mulai dari Dusun Ganjar-Batupetak, yang berbatasan dengan Desa Cendi Manik.

Diakui, sejak dibuka puluhan tahun lalu, persisnya tahun 1996-1997, akses jalan ini tidak pernah disentuh Pemda. Padahal saat itu jalan ini sudah masuk jalan kabupaten. “Sudah kami usulkan sejak tahun 2013 lalu, bahkan sudah masuk dalam Musrenbangcam 2017,” ujarnya.

Dalam Musrenbangcam 2016 lalu, pihak PU katanya  siap melakukan survei jalan itu. Namun ditunggu-tunggu tidak ada yang dating. Padahal itu sudah menjadi prioritas di Musrenbang. Bahkan pihaknya selaku Kades, juga pernah berinisatif menggunakan dana pribadi untuk menutup kubangan jalan menggunakan tanah uruk, namun kembali rusak. “Padahal disini potensi perikanannya ada, tapi tidak disentuh,” keluhnya.

BACA JUGA: Jalan Rusak Parah Warga Melahirkan di Kendaraan

Sementara Kadis PU dan Tata Ruang Lobar, Made Artadana mengatakan, warga perlu memaklumi dan memahami daftar perencanaan bemuara pada keterbatasan anggaran. Menurutnya, berdasarkan daftar urutan hasil Musrembang Kecamatan Lembar terkait pembangunan akses jalan, paling atas atau pertama Dusun Jelateng, Sekotong Timur. Kemudian urutan kedua Dusun Lendang Andus, Desa Labuan Tereng, urutan ketiga Dusun Beroro, Desa Jakem, dan baru urutan keempat pembangunan jalan di Mareje tersebut.

Dari data yang ada ini jelasnya, menjadi dasar utuk pendaftaran dan usulan. Untuk penanganannya, yang paling memungkinkan melalui dana alokasi khusus (DAK). Dimana untuk pembiayaan jalan ini, jika pembangunan total diperlukan dana Rp 2 miliar per satu kilometer jalan. Sehingga total dana yang diperlukan untuk 3 kilometer sebesar Rp 6 miliar sampai Rp 7 miliar. Sedangkan kalau hanya diperbaiki dan rabat jalan di spot-spot tertentu, kebutuhan anggaran diperkirakan Rp 3 miliar sampai Rp 5 miliar. “Kita lakukan perbaikan sesuai dengan perangkingan dalam Musrenbang,” tandasnya. (ami)