Jalan Becek, Pendistribusian Air Tersendat

Pendistribusian Air
BECEK: Kondisi salah satu jalan di Desa Sekaroh saat musim hujan. Kondisi ini membuat penyaluran air bersih menjadi tersendat. (DOKUMEN/RADAR LOMBOK)

SELONG – Tibanya musim hujan tahun ini ternyata belum menjadi jaminan berlalunya kekeringan. Khususnya di wilayah Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur. Wilayah itu masih dilanda kekeringan hingga memasuki musim penghujan tahun ini.

Camat Jerowaru Kamarudin mengatakan, pemerintah daerah masih mendistribusikan air bersih ke wilayah kecamatan itu. Sedikitnya, pendistribusian air harus dilakukan 50 hingga 55 tangki ukuran 5.000 liter setiap harinya. Bahkan jika cuaca mengizinkan dan jalan bagus, pendistribusian akan terus dilakukan terutama wilayah-wilayah yang berada di Desa Sekaroh. “Saya berpikir dengan turunnya hujan beberepa waktu lalu pendistribusian air akan berakhir, tetapi permintaan warga terus datang. Dengan jalan yang masih becek, kita kesulitan mendistribusikan,’’ tutur Kamarudin kepada Radar Lombok, Selasa (25/12).

Kamarudin menyebut, wilayah yang hingga saat ini meminta untuk pendistribusian air bersih paling banyak di wilayah Dusun Ujung Ketangga Desa Sekaroh serta  Desa Seriwe. Namun dengan kondisi jalan yang tidak memungkinkan akibat turunnya hujan beberapa waktu yang lalu, membuat mobil tangki kesulitan masuk. “Jumlah mobil tangki warga yang beroperasi sebanyak 20 unit. Kita sudah ada kerja sama dengan warga, tapi kendalanya hanya jalan saja,” ujarnya.

BACA JUGA: Kisah Para Guru Guru Honor di Pulau Terpencil Lombok Timur

Dengan kondisi hujan, katanya, ia berpikir permintaan air akan berkurang. Namun hal itu berbeda dengan perkiraannya, malahan saat ini mengaku justru kewalahan melayani permintaan warga. Disebut, jumlah penduduk se Kecamatan Jerowaru ini mencapai 40 ribu lebih yang mendiami 15 desa. Sehingga tidak  heran kalau sehari pemerintah harus mengirim air tangki yang banyak. “Saat ini permintaan sudah mulai berkurang, hanya beberpa hari kemarin saja kita salurkan sebanyak 125 tangki,” akunya.

Untuk memenuhi kebutuhan air, katanya, pemerintah terus memanfaatkan air Lingkok Tutuk yang tidak boleh diambil airnya untuk diperjualbelikan. Namun air tersebut akan dibagikan secara gratis oleh warga dengan biaya pengangkutannya dari pemerintah daerah. Air sumur Tutuk mulai dibagi-bagikan ke warga secara gratis dan tidak boleh diperjualbelikan. Namun air adalah kebutuhan pokok yang setiap saat digunakan warga. Air dari pemerintah daerah diakui tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pengambilan air saat ini sudah tidak kesusahan lagi, karena banyak pilihan. Mobil tangki yang digunakan pemerintah daerah ini sudah dibayar tergantung jarak tempuhnya. Mulai dari Rp 150 ribu sampai Rp 250 ribu.

Melihat intensitas pengangkutan diakui memang cukup banyak dana yang dikeluarkan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga. Jika dirata-ratakan Rp 200 ribu dikalikan 70 mobil tangki, maka Rp 14 juta sehari harus dikeluarkan pemerintah untuk biaya distribusi air bersih. “Untuk dana penyaluran air bersih ini kita masih banyak, bahkan kita cukup hingga akhir tahun 2018 ini. Bahkan hingga bulan Januari dana yang diberikan dipastikan cukup,” katanya.

BACA JUGA: Mendengar Harapan Orang Tua Lukman, Korban Hanyut Di Sungai Medas

Dengan masih banyak permintaan masyarakat akan air bersih ini, sambungnya, pihaknya belum mengetahui sampai kapan penyaluran air bersih berlangsung. Namun yang jelas, pemerintah akan terus memberikan air bersih secara gratis hingga masyarakat tidak ada yang mengeluh. “Anggaran yang diberikan masih ada, tetapi kalau nantinya pendistribusian ini berakhir Desember, sisa dana akan dikembalikan ke daerah,” tutup Kamarudin. (wan)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut